Oleh : Pudji Widodo Sebelumnya Wening dan Kalvin Sampai di rumah, Kalvin yang menyambutku. “Pulang dari Malang, Mami langsung tidur Pi.”  Hari ini Wening memang ada tugas ke Malang. Kupandangi wajahnya, dengkur halus napasnya membuatku tak tega membangunkannya. “Papi mau lemon

Bagian Satu HUJAN baru saja turun ketika kupacu laju kendaraan Roda dua yang tengah kunaiki di atas jalanan, jalan bertanah kuning yang jika di musim panas biasanya membuat debu-debu jalanan beterbangan menutupi pemandangan. Jalan tanah yang tengah kulalui ini adalah jalanan

Kucuran kopi terdengar merdu Kepulan asap mewangi Denting sendok menyentuh cangkir Sepasang mata bertatapan Bibir menyentuh kopi panas Seruput terdengar pelan Rasa puas terukir bibir basah Kopi terbuat campuran cinta Kopi susu selalu engkau pilih Engkau nikmati rasa diantaranya Bukan rasa

bulan jatuh di genteng warung kopi para lelaki perlente berdasi keluar dari gedung warna-warni lari-lari mereka serabutan, upel-upelan berteriakan berebutan memeluk bulan. bulan malu, tersipu merah dadu bulan deg-degan digoda-goda bulan cekikikan dielus-elus bulan menggeliat dipijat-pijat bulan mendesah dicium-cium bulan merintih

Aku tidak tahu kenapa banyak topeng yang harus kupakai. Wajah-wajah asing yang bukan milikku. Wajah-wajah yang sebenarnya dulu kuangankan, dengan cerita dan panggungku sendiri Tapi perjalanan waktu membuat alur cerita berbelok arah. Impian runtuh patah di tengah Sejatinya hidup adalah drama.

Pagi, apakah pagi sudah mulai tersenyum? Atau malu-malu menampakkan sinarnya hingga sedikit meredup Bersembunyi di balik awan dan membuatnya tak beranjak dalam sesaat Tak lama lagi siang akan menyapa Jangan terlambat untuk bergegas memetik setangkai bunga yang hanya mekar beberapa jam