
Dengan strategi bisnis jemput bola. Bahkan aktif menghampiri pembeli, menawarkan produk. Sebaliknya dengan model usaha menunggu warung bermodal lebih besar.
Pada hari Sabtu pekan lalu. Selagi berjalan kaki dalam rangka melemaskan otot-otot, tidak sengaja melihat seorang pria mengendarai motor matik.
Di jok belakang terdapat keranjang. Isinya, bungkusan plastik berisi makanan matang.

Aneka masakan jadi, dari mulai sayur sup, tumis oncom, tempe teri balado, gulai telur, buntil, hingga masakan jengkol.
Pelanggannya Para Pegawai Kantor
Pria tersebut menawarkan produk kepada pegawai kantor, baik milik pemerintah maupun swasta, yang tersebar di daerah Taman Kencana dan Lapangan Sempur, Kota Bogor.
Selain lauk dan sayur matang, ia membawa nasi. Sehingga para langganan yang umumnya sibuk tidak perlu repot-repot membeli menu sarapan atau makan siang di luaran.
Harga
Ia menawarkan harga, dari Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu. Misalnya, delapan ribu rupiah bisa mendapatkan dua butir gulai telur.
Rata-rata relatif lebih murah dibanding dengan harga produk serupa di warung nasi. Pembeli memperoleh harga terjangkau tanpa mengeluarkan biaya untuk berangkat ke tempat makan.
Dengan demikian penjual merambah pelanggan dalam jangkauan lebih luas, dibanding jika ia berjualan di warung. Menunggu pembeli.








Terimakasih untuk artikelnya Om Bud.. bermanfaat
Siap. Terima kasih, Mas Warkasa