Darah, Senyap dan Merdeka!

oleh -4,494 views
oleh
Provided by Universitaire Bibliotheken Leiden

Kemerdekaan yang diproklamirkan bangsa Indonesia perlu dipertahankan. Kedatangan AFNEI yang diboncengi NICA jelas ingin kembali menancapkan kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda.
Prajurit dan pejuang kembali terpanggil ke medan perang. Mempertaruhkan harta dan bahkan nyawa. Mempertahankan Indonesia Raya agar tetap berkumandang. Merah Putih tetap berkibar.
Sejengkal tanah di hutan pinus kawasan Sukapura menjelma pusat pertahanan 12 prajurit. Anggota Regu 3 dari Peleton Macan Hitam yang terpaksa menyingkir dari Kota Probolinggo karena tekanan serdadu Belanda dan maraknya mata-mata musuh.
Ikut juga Maheswari yang berdiam di gubuk hutan pinus. Wanita cantik istri dari Abimanyu, sang komandan muda nan gagah berani.
***
Malam semakin gelap. Pintu belakang gubuk kayu di tengah hutan pinus perlahan terkuak. Berderit di antara suara pilu binatang malam yang mulai menjerit lirih, berharap segera siang.
Maheswari terbangun. Reflek bergerak ke pintu belakang dengan cekatan. Menggapai tangan Abimanyu yang kekar.
Abimanyu segera mendekap pinggang ramping Maheswari. Telunjuk tangan kanan Abimanyu bergerak tegak sejajar di tengah bibir Maheswari. Memberi tanda untuk diam dan membisikkan sesuatu ke telinga kiri Maheswari.
“Kita harus segera menyingkir.”
Maheswari sesaat terdiam. Wajahnya menampak tegang.
“Ada apa, kak?”
“Serdadu Belanda telah mengetahui persembunyian kita.”
“Anak buah kakak, bagaimana?. Di mana mereka?”
Abimanyu tertegun di pundak kiri Maheswari. Sekujur badannya bergetar menahan amarah. Hawa hangat tetiba menjalar dari dada bidangnya.
“Delapan prajurit kita telah gugur di sekitar Ngepung. Mereka berusaha menahan gerak maju serdadu Belanda dari sisi timur.”
“Tidak adakah bantuan dari pasukan lain?”
“Entahlah, dinda. Kedatangan serdadu Belanda secara tiba-tiba sepertinya mengarah ke sini. Jelas ada mata-mata.”
Nun agak jauh dari gubuk terdengar serentetan tembakan. Abimanyu meyakini tiga anak buahnya yang tersisa berusaha menahan laju serdadu Belanda ke arah hutan pinus.
Segera Abimanyu mundur selangkah di depan Maheswari. Ditatapnya Maheswari dengan pandangan tajam.
“Tidak ada waktu untuk mengutuk keadaan. Secepatnya kita menyingkir.”
***
Suara beberapa langkah sepatu prajurit mendekat serasa secepat kilat. Burung-burung malam berhamburan tanpa suara. Malam sepi. Begitu sepi.
DOR!..
Tembakan pistol Abimanyu tepat mengenai kepala seorang serdadu Belanda yang mendobrak pintu belakang gubuk. Membuat tubuh serdadu yang tinggi besar tersungkur ke tanah.
DOR!.. DOR!.. DOR!…
Tiga suara peluru menyalak keras. Menembus dada Abimanyu yang berusaha menarik pelatuk pistol untuk kedua kali.
Maheswari sedikit tertunduk. Berusaha mempertahankan posisinya di depan Abimanyu. Untuk tetap tabah menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.
Meskipun tiga peluru menembus dada, Abimanyu berusaha untuk tetap tegak. Mempertahankan senyum di depan Maheswari.
Darah semakin menetes dan pandangan Abimanyu meredup. Perlahan tubuhnya limbung ke kanan dan terkulai. Bersimpuh di depan Maheswari, lantas matanya tertutup untuk selamanya.
Maheswari hanya dapat menutup mulut. Tanpa suara. Terdiam mematung.
***
“Tangkap perempuan ekstrimis itu!”
Empat serdadu Belanda menyerbu dan mengepung. Mencengkeram. Menjambak. Menendang betis. Memopor pinggang Maheswari.
Di depan komandan Belanda, Maheswari dipaksa bersimpuh. Maheswari diludahi. Kemeja putihnya dirobek. Harga dirinya dicabik. Dikoyak bagai pesta pora binatang jalang. Di tengah gelapnya alam setan-setan pecundang.
Para serdadu Belanda menyeringai. Taring tajam sangkurnya diacungkan. Terkadang diadu. Menggemakan kemenangan.
Selesai memuaskan nafsu setan, dua serdadu Belanda menggelandang Maheswari. Dijauhkan dari tubuh Abimanyu yang terkapar di bumi pertiwi tercinta.
Di pinggir jeram sungai agak jauh dari gubuk, tubuh Maheswari kembali mereka simpuhkan. Betisnya diinjak. Wajah ditengadahkan. Rambut panjangnya ditarik paksa ke belakang.
***
DOR!… DOR!… DOR!…
Kali ini tiga peluru dari pistol komandan Belanda menembus kepala Maheswari dari belakang. Darah mengucur. Membentuk percikan-percikan dan garis-garis merah di kebaya putih Maheswari. Melukis kepiluan dalam kesenyapan. Di tanah pertiwi yang kini merdeka!.

arS, Empat Agustus 2023.

Rangkaian 1001 Makna Dalam Cerita Secangkir Kopi

Rangkaian 1001 Makna Dalam Cerita Secangkir Kopi

Rangkaian 1001 Makna Dalam Cerita Secangkir Kopi

Rangkaian 1001 Makna Dalam Cerita Secangkir Kopi

Rangkaian 1001 Makna Dalam Cerita Secangkir Kopi

Rangkaian 1001 Makna Dalam Cerita Secangkir Kopi

, , ,
, , ,

Responses (10)

Tinggalkan Balasan