Kemeriahan HUT RI di SDN Sadagori 1
Hari Kamis tanggal 17 Agustus 2023, suasana di SDN Sadagori 1 terasa berbeda, para pendidik memakai baju Korpri, peserta didik memakai baju merah putih dan para komite memakai seragam kebesarannya hadir di SDN Sadagori 1, untuk mengikuti upacara.
Tepat pukul 07.30 WIB upacara 17 Agustus 2023 dilaksanakan secara hikmat. Petugas upacara adalah para Pendidik dan mereka melaksanakan tugas dengan sangat baik.

Sebagai pembina upacara saya membacakan pesan dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, yang mengingatkan pada kita, bahwa kemerdekaan itu dihasilkan dari perjuangan para pahlawan dan bukan hadiah dari negara lain atau bangsa asing. Mas Menteri juga memberi pesan tentang Merdeka Belajar yang telah dilaksanakan selama empat tahun terakhir ini. Pentingnya gotong royong karena kemerdekaan tidak akan berhasil kalau dilaksanakan secara individu.
Keberhasilan belajar anak usia dini tidak terbatas pada baca, tulis, dan hitung, tetapi juga kemampuan literasi dan numerasi. Pak Nadiem Anwar Makarim juga, mengingatkan kepada kita berkat gotong royong lintas kementerian, lembaga dan perangkat daerah, berhasil merekrut 544 ribu ASN PPPK dan jumlah ini akan terus meningkat sampai jutaan ribu.
Amanat dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi pada upacara peringatan Ulang Tahun ke-78 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2023, adalah harapan kita semua, merdeka dalam segala-galanya.
Dokumentasi Kegiatan








Setelah Upacara, dilanjutkan dengan perlombaan yang diadakan peserta didik kelas 4,5 dan 6. Hari Jumat dilanjutkan perlombaan untuk kelas 1, 2 dan 3 serta orang tua dan guru. Hari Sabtu adalah puncak peringatan HUT RI ke-78 dan HUT SDN Sadagori 1 ke 55 dengan diadakannya jalan sehat dan pembagian hadiah. Kegiatan di SDN Sadagori 1 bisa terlaksana dengan baik berkat dukungan dari Guru, Komite, orang tua dan berbagai sponsor yang turut andil dalam kegiatan ini. Kami melaksanakan kegiatan ini dengan gotong royong.
Setahun sekali memperingati Kemerdekaan RI, berbagai lomba diadakan dari kota kecil sampai kota besar, dari tingkat RT sampai tingkat Kota. Kita merasakan kebahagian merdeka dari penjajah. Tapi apakah benar kita sudah merdeka, merdeka yang sebenar-benarnya mereka?
Banyak pertanyaan menggelitik di otakku yang terbatas ini, karena saya melihat masih ada tangisan kelaparan, masih ada pendidik yang terpenjara karena mendisiplinkan para siswanya, masih ada rakyat kecil yang digusur, demo di mana-mana, apakah ini yang disebut merdeka? Entahlah pikiranku semakin tak karuan melihat semua ini.
Apakah penerus bangsa yang masih mungil-mungil dan polos itu tau, apa itu merdeka? Yang mereka tau merdeka itu adalah perlombaan yang diadakan di sekolahnya dan di lingkungan tempat tinggalnya, apakah mereka tau sosok para pahlawan yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia? Sepertinya sudah mulai kabur dari memori mereka, sejarah lambat laun hilang dalam hidup mereka.
Apakah mereka tau, dulu banyak anak-anak seusianya yang tiba-tiba jadi yatim piatu? Bisa saja mereka tidak terpikir ke sana, karena pesta sesaat. Tugas kita bercerita pada mereka tentang perjuangan para pahlawan yang gugur di medan perang. Negara kita merdeka itu bukan hadiah dari bangsa lain, tapi hasil perjuangan para pahlawan, banyak darah yang mengalir di Bumi Pertiwi.
Apakah penerus kita tau siapa itu Pangeran Diponegoro, Dewi Sartika, RA Kartini dan banyak para pahlawan lainnya, aku rasa mereka kurang mengenal, karena yang selalu hadir di gawai mereka adalah para artis baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Para penerus kita tidak salah, tapi kita yang salah karena lebih bangga dengan merk luar negeri di banding kekayaan negeri sendiri. Orang kaya dengan bangga berkata telah mengelilingi dunia, apakah dalam negeri mereka kelilingi?
Ketika semua dibatasi yang berbeda pendapat lalu di incar dan dipenjarakan, apakah itu sudah merdeka?
Saatnya kita renungkan, mau dibawa ke mana negeri tercinta kita ini, jangan sampai para pahlawan yang gugur di medan perang menangis karena melihat para penerusnya melupakan sejarah. Bangun! Tetap waspada, musuh kita bukan bangsa asing, tapi diri sendiri yang malas untuk bangkit dan berjuang, kita belum merdeka yang sebenar-benarnya merdeka.
Melihat wajah polos mereka, agak miris di hati ini, bagaimana nasib mereka ke depannya dan bagaimana nasib bangsa ini di tangan mereka? Semoga ini hanya kekhawatiran saya saja.








Mantap, Mbak Din. Widz Stoops
Tidak perlu khawatir. Berdoa semoga kelak mereka menjadi berguna bagi negara.
Teladan yang prlu terus diaktualkan… Mantap!…
Pak Guru terimakasih sudah mampir
Semoga kelak menjadi generasi penerus bangsa yang bisa membanggakan
Aamiin allahumma aamiin terimakasih telah mampir di sini, salam
Tidak perlu khawatir. Berdoa semoga kelak mereka menjadi berguna bagi negara.
Betul sekali om Budi
Tidak perlu khawatir. Berdoa semoga kelak mereka menjadi berguna bagi negara.