MERDEKA ITU SEPERTI INI

oleh -950 views
oleh

Kata merdeka sudah didengar Bagong sejak dia masih bayi merah, memang waktu itu belum tahu makna dari merdeka. Ia hanya membaca dari gerak bibir Emaknya setiap saat. Dengar-dengar dari si embah ia lahir di tanggal 17 Agustus hari kemerdekaan RI. Namun entah mengapa ia jadi dipanggil Bagong padahal nama aslinya Agusto.
Suatu saat dia pasti bersyukur dipanggil Bagong karena itu adalah nama tokoh punakawan dalam pewayangan.

Bagong paling senang keliling kampung dengan sepeda onta milik embahnya. Matanya merekam semua yng dilihat sepanjang perjalanan. Demikian juga dengan pikirannya tak henti-henti bertanya sendiiri, menjawab sendiri dan mengomentari sendiri.

Bulan Agustus banyak kampung dihias dengan indah. Lampu kerlap-kerlip, penjor, dan bendera bernuansa merah putih. Dalam hati ia berkata gunanya dihias adalah suka ria, agar tampak indah, merayakan ulang tahun, semarak tidak ada kesedihan, itu mungkin simbol dari merdeka.

Di depan ada perempatan jalan kampung, ke kanan adalah arah rumahnya, tapi ia tak ingin segera pulang cuaca cerah angin semilir membuat hasratnya ingin bermain di kali tepat di perempatan itu. Sepeda ia sandarkan di pohon cermai ia bergegas ke arah kali yang lebarnya hanya tiga meter itu.

Wajah Bagong seketika masam apa yang diinginkan tak tercapai, kali kotor banyak sampah, jijai batinnya. Ini bukan merdeka namanya, gerutu dalam pikirannya. Sepeda ia kayuh pulang dengan sejuta dongkol dalam dadanya. Semua dihias, dirgahayu negeriku, merdeka bangsaku, kaliku tapi tambah rusuh.

Jangan bicara IA apa AI deh, buat apa bila kalinya saja tak bersih. Pegangannya barang canggih teknologi mutakhir eh buang sampah di kali, aduh deh, kapan kaliku merdeka? Bagong ngoceh sepanjang jalan hingga kambing mengembik dikira disapa olehnya.

Di tengah jalan ia melihat Apit sedang menangis keras sekali, ia menghampiri dan bertanya sekaligus memberi permen agar diam. Apit bilang baru saja diejek temannya karena tak mau diajak bermain. Bagong pun merayu agar tidak mudah menangis bila diejek.

Ia meneruskan perjalanan pulang, dari jauh nampak Emak kebingungan sambil menenteng tabung gas melon hijau. Bagong menghampiri dan bertanya pada emaknya mengapa terlihat bingung. Ternyata tabung yang bertuliskan hanya untuk masyarakat miskin itu sedang langka. Bagong menyarankan Emak untuk tenang ia akan mencari kabar di toko mana ada tabung melon hijau.

Ah, merdeka begini amat ya, pikirnya. Dan akhirnya ia dapat kabar di warung Engkong Tan ada beberapa tabung gas hijau, Bagongpun memesan satu agar tidak dijual ke orang lain.

Bagong tersenyum kecut ia ngomong pada kambing yang ia temui di jalan, apakah merdeka itu rumit? Eh si kambing menjawab embek, ketika ketemu sapi ia tanya apakah merdeka itu ribet? Sapi hanya bersuara moo, apa lagi bebek saat di tanya Bagong apakah merdeka itu ruwet? bebek malah mentertawakan wkwkwkwkwk

Sampai rumah ia sobek selembar kalender lama, untung bukan gambar bang Haji, lalu mengambil spidol dari tasnya dan mulai menulis di balik kertas kalender

MERDEKA ITU SEPERTI INI

  1. Jangan Buang Sampah di Kali
  2. Dilarang budaya mengejek dan membuli
  3. Tidak memakai barang yang ditujukan untuk masyarakat miskin
  4. Tidàk ruwet, njelimet atau bingung
  5. Gembira

Kertas itu lalu ia tempelkan di pagar depan rumahnya.
Empok Leha yang baru belanja melirik ke pagar rumah Bagong pun hanya tertawa sambil geleng kepala, lalu menyapa, “Bisa aja kamu Gong.”

Embah Kamirun mendekat dan mengajak Bagong duduk di beranda rumah. Embah mengajak bicara soal merdeka.
“Le, kamu tahu merdeka dari mana?”
“Sekolahan mbah.”
“Artinya?”
“Bebas.”
“Kenapa kamu menulis itu?”
“Tadi apa yamg sudah Bagong lihat sepanjang jalan, ya gitu saja. Tidak suka dengan yang tak baik lah.”

Embah manggut-manggut.

“Benar kan, Mbah?”
“Iya, tidak salah. Untuk ukuran anak seusiamu.”

Embah pun menceritakan tentang kewajiban melawan penindasan karena setiap orang harus merasa aman dan nyaman.
Embah juga mengajarkan bila merdeka itu harus dimulai dari hati dan pikiran yang sehat agar bisa membedakan mana benar dan mana salah, mengerjakan kewajiban dan bertanggungjawab, bukan asal bebas.

“Gong, menjaga kemerdekaan itu lebih sulit daripada merebutnya. Negara ini butuh orang-orang yang mengerti.”

Matahari senja tampak semakin redup semilir angin melambaikan bendera merah putih di depan rumah Bagong yang warnanya mulai pudar.

Tentang Penulis: Swarna

Corat-coret ringan dan sederhana

Responses (3)

Tinggalkan Balasan