Aku, Ibu dan Sang Saka
Ibu melambaikan tangan memanggilku,
tangannya menunjuk pada Sang Saka yang bebas berkibar di atas hembusan angin
Matahari memantulkan sinar di kedua warnanya,
Ibu terlihat bangga.
Ibu menceritakan sebuah kisah tentang orang-orang terjajah,
yang bersatu melepas belenggu penindasan untuk sebuah kebebasan
dan tanpa henti terus berseteru pada setiap tetesan darahnya
demi membawa anak-anaknya di sini hari ini.
Ibu mengingatkanku tentang para pemberani yang berjuang
agar negeri ini tetap kokoh berdiri
Ibu berteriak padaku tentang kemenangan
juga tentang kesalahan-kesalahan fatal yang mengerikan.
Ibu berbisik kepadaku untuk terus memberi dan membelanya
untuk tidak lupa bersyukur akan semua pencapaian.
Ibu lalu menangis karena rasa apatis, prasangka dan kebencian anak-anaknya yang sering
tidak menghormati apa yang sudah diperjuangkan,
dan norma-norma yang kerap ditinggalkan.
Ibu meminta anak-anaknya mengakui semua itu
dan merenungkan apa arti Ibu dan kebebasan
Ibu menantang anak-anaknya untuk membayangkan hidup
tanpanya.
dan masih dalam kemerdekaan Ibu membentangkan
Ibu memberi harapan
Ibu memberi kesempatan untuk setiap anak negeri bersatu dan terus membangun kembali.
Hari ini aku melihat Ibu melambai ke arahku,
Kuhentikan langkahku untuk menatap ke atas
Kuluangkan waktu untuk mengenang dan menghormati
Negeri yang aku cintai ini.








Kerrren mba Widz
Selamat HUT RI ke 78, Mbak