Pertaruhan Pendidikan Holistik Atoin Meto di Tengah Gempuran Teknologi

oleh -4,159 views
Ket: Diskusi Lintas Media Nasional seputar Penerbitam buku dan pendidikan karakter bersama Dinas Pariwisata DKI Jakarta dan IKAPI
Ket: Diskusi Lintas Media Nasional seputar Penerbitam buku dan pendidikan karakter bersama Dinas Pariwisata DKI Jakarta dan IKAPI

Fredy Suni

Masti mus’kola nae ka,me – Lo~ nai kam mum nikan hitat moen toka mela”- Fredy Suni

Filosofi ini dalam terjemahan bebas Penulis kurang lebih seperti ini.

“ Meskipun kamu (Atoin Meto) mendapatkan kesempatan pendidikan hingga meraih berbagai gelar akademis, tetapi jangan sekali-kali melupakan dari mana kita berasal.”

Artinya; Pendidikan formalitas belum tentu menjamin etika dan moral Atoin Meto.

Karena ada berbagai hal yang melatarbelakanginya.

Namun, satu hal yang Penulis sesali adalah masyarakat Dawan (terlebih yang berpendidikan Tinggi) di kota Metropolitan, kerap melupakan jejak-jejak kebudayaannya.

Hal ini tampak berbeda dari masyarakat yang ada di Sumatera Utara, terlebih etnis Batak, atau pun yang berasal dari Kalimantan, Bali, Jawa, sampai pada kehidupan generasi muda Manggarai.

Potretan Penulis di Tengah Budaya Lain

Berdasarkan pengalaman Penulis selama hampir belasan tahun tinggal di perantauan, terutama saat menjalin relasi (komunikasi budaya) dengan diriku yang lain (Liyan), mereka tidak pernah malu, apalagi minder untuk menggunakan bahasa daerahnya, entah di mana pun.

Lain kisah dengan etnisku, terutama yang berasal dari kota Kefamenanu (Pintu Perbatasan RI dan Timor Leste).

Mohon maaf ya, mereka (etnisku) yang mendaku memiliki gelar sangat sukar untuk menampilkan identitasnya kala berjumpa dengan budaya lain.

Lantas, di manakah pendidikan holistik yang kita dapatkan sejak dari lingkungan keluarga hingga pendidikan formal?

Filsuf Friedrich Nietzsche dan Martin Heidegger melihat “NIHILISME” yang berarti proses di mana pada akhirnya tiada lagi yang tersisa.

Sebagai Atoin Meto (terutama generasi muda), bila kita tidak memiliki sense of being (rasa keberadaan), sense of Belonging (rasa memiliki), sense of history (rasa sejarah), dan sense of love ( rasa cinta) akan kebudayaan kita sendiri, niscaya pada suatu saat kita akan kehilangan harga diri kita.

Hampir Sirna di Era Digital

Model pendidikan Holistik yang mencakup nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan Atoin Meto hampir sirna di tengah perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Alasan mendasar dari konsep pemikiran ini adalah berangkat dari kehidupan Penulis dalam mengamati lingkungan pendidikan yang ada di dalam kehidupan Atoin Meto, baik dikaji dari aspeksosial, budaya, ekonomi serta bidang kehidupan lainnya.

Secuil Jalan ke Roma

Di sini penulis hanya menawarkan solusi, bila berkenan silakan dikembangkan dalam kehidupan harian.

Namun, bagi yang menolak pun tidak masalah! Karena setiap orang bebas mengekspresikan pemikirannya.

Betul apa batol?

Sebagai jalan terbaik, kita pun harus menyadari akan pentingnya peremajaan kebudayaan kita. Layaknya masyarakat yang ada di negeri Panzer, Jerman.

Di mana, meskipun mereka maju dalam bidang apa pun, namun mereka pun tidak menjadi manusia mesin. Apalagi melupakan batu pijakan mereka dalam menjalani rutinitas harian mereka di tengah persaingan global.

Untuk itu, cara terbaik yang harus kita lakukan adalah sejenak menghentikan penggunaan smartphone kepada anak-anak yang masih berusia 5 tahun ke bawah.

Karena fenomena keniscayaan pendidikan keluarga Atoin Meto saat ini adalah, ketika si kecil (anak) menangis, solusi yang mereka tawarkan adalah memberikan tontonan yang ada di jagat media maya.

Semakin mereka bergaul dengan kebudayaan serapan yang ada di media sosial, mereka pun akan sulit untuk menerima kebudayaan Orang Dawan.

Lantaran, budaya luar lebih baik dari budaya mereka sendiri.

Kedua: Menguatkan Pendidikan Karakter sejak dini

Kembali lagi, pendidikan karakter itu mencakup 3s yakni: Senyum, Sapa, dan Salam.

Budaya hospitality ini kian sirna di kehidupan generasi milenial dan Z Atoin Meto.

Justru mereka lebih nyaman dengan diri mereka, ketika kita sedang berkumpul bersama. Lebih sadis adalah ada yang memasang wajah seram dan misterius kala berjumpa dengan sesamanya.

Di manakah identitas kita sebagai Atoin Meto yang terkenal dengan budaya menghargai orang yang lebih tua, memberi salam ketika berjumpa dengan orang lain, memberikan senyuman hangat kepada siapa pun yang kita temui.

Akhir dari pendidikan sederhana ini akan berdampak pada kepercayaan diri yang meningkat. Karena budaya yang kuat, menjadi landasan kepercayaan masyarakatnya dalam berkarya.

Terima kasih sobat Eskabers

Tentang Penulis: freddy Suny

Jurnalis, Founder  & Owner www.tafenpah.com,  Kompasianer dan penulis lepas di beberapa media online tanah air | Instagram: @Suni_Frederikus

Response (1)

Tinggalkan Balasan