Sepotong Hati dan Secuil Benci

oleh -478 views
oleh
Pagi, apakah pagi sudah mulai tersenyum?
Atau malu-malu menampakkan sinarnya hingga sedikit meredup
Bersembunyi di balik awan dan membuatnya tak beranjak dalam sesaat

Tak lama lagi siang akan menyapa
Jangan terlambat untuk bergegas memetik setangkai bunga yang hanya mekar beberapa jam saja
Dengarlah detak waktu yang terus melaju tanpa menyisakan tunggu

Untuk kesekian kali kuingatkan agar tak melukis kalut di langit biru
Itu akan membuat wajah semesta sedikit terganggu
Angin dan senja pun akan risau bila sesuatu menggantung tak indah di pelataran cakrawala

Malam sekejap lagi menyelimuti sebagian lingkaran bumi
Dan aku tahu bila kau tak lagi punya mimpi yang pantas disuguhkan pada singgahsana denyut nadi

Langit telah menghapus warna putih dan biru berganti kerlip cahaya indah pada kelambu yang pekat
Mungkin kita bisa berbisik tentang harapan kecil yang tak pernah padam
Yang cukup menjadi nyala pada ruang sempit dan gelap 

Seperti dongeng pada sepotong hati yang telah kering merahnya, karena secuil benci yang menancap membenam dalam
Apakah butuh ramuan sebagai penawar?
Entahlah

Sebentar lagi malam berlalu
Pagi akan kembali menyapa
Namun matamu masih memeluk kisah-kisah lama, tak kuasa menggulung luka yang masih berbekas


Mei, 2022

Tentang Penulis: Swarna

Corat-coret ringan dan sederhana

Responses (4)

Tinggalkan Balasan