,

Mikayla dan Misa Setiap Desember

oleh -360 views
Ilustrasi Foto Pixabay
Ilustrasi Foto Pixabay

Mikayla Angela masih duduk di tengah para Jemaah Gereja Santo Petrus itu.

Dalam perasaan khusyu mengikuti Misa Natal malam itu, gadis cantik ini juga merasakan rasa rindu yang teramat dalam kepada sosok Hendarno Al Buchari.  

Sosok yang sangat dicintainya. Sosok yang menjadi harapan gadis ini untuk merengkuh masa depannya.

Hendarno Al Buchari, putra bungsu KH Ghufron Al Buchari. Seorang Pemuka Agama terkemuka, yang juga pemilik Pesantren Darul Madinah.

Bagi Kayla, sosok Hendarno adalah sebuah cahaya yang membawanya ke jalan yang terang benderang.

Sosok yang sangat hormat kepada wanita. Begitu pula Hendarno sangat menghargai perbedaan keyakinan.

Mikayla masih ingat ketika dirinya masih berada dalam kubangan dosa. Maka Hendarnolah yang selalu mengingatkannya agar mulailah kembali mengikuti misa di Gereja.

Bagaimana Kayla merasakan rasa harunya ketika dirinya kembali mengikuti misa di Gereja Kathedral, yang selama ini dilupakannya. Saat itu dia merasakan Kasih SayangNya. Tuhan tidak pernah melupakan hamba-hamba yang kembali kepadaNya.

Semua langkah-langkah Kayla itu berkat seorang Hendarno yang dengan sabar setia menuntunnya. Hendarno putra bungsu seorang Ulama Karismatik pemilik sebuah pesantren,

Kayla begitu terharu, bagaimana Hendarno setiap Minggu pagi selalu mengantarnya ke Gereja Santo Petrus itu.

Selama Kayla mengikuti Misa Minggu pagi itu, Hendarno selalu setia menunggunya di bangku Taman depan Gereja.

Baginya Hendarno adalah tipe lelaki idaman yang penuh rasa cinta.

Tanpa ada perkataan dan ucapan sepatah katapun, Mikayla bisa merasakan getar cinta hati Hendarno.

Mikayla merasakan cintanya begitu utuh. Tidak melihat latar belakang agama. Cinta itu memang universal seperti Tuhan memiliki cinta yang universal.

“Kayla saya sangat hormat kepada keyakinanmu sebagai seorang katolik.” Kata Hendarno dalam satu perbincangan.

“Iya Mas. Seperti Ayahmu selalu berpesan agar kita harus saling menghormati keyakinan kita yang berbeda.” Kata Kayla merespon.

“Benar Kayla. Kita menghormati keyakinan tanpa harus masuk ke dalam keyakinan tersebut. Biarkan kita menjalankan ajaran agama kita masing-masing.”

Hendarno juga menjelaskan itulah sebab baginya mengantar Mikayla ke Gereja setiap Misa Minggu pagi bentuk toleransi tanpa harus ikut beribadat di dalam Gereja.

Mikayla sangat mengerti ada jalan sendiri yang tidak bisa Hendarno menginjaknya dalam menempuh keyakinan mereka yang berbeda.

Begitu pula jalan milik Hendarno tidak bisa Mikayla lalui untuk mencapai tujuan spiritual Mikayla.

Namun ada satu hal yang hingga kini bagi Mikayla menjadi pertanyaan besar dalam hidupnya, kenapa dirinya tidak boleh menikah dengan Hendarno karena perbedaan keyakinan.

Mikayla sangat sedih ketika Ibunya tidak merestui hubungannya dengan Hendarno.

Misa Natal itu akhirnya berakhir dan seluruh Jamaah mulai meninggalkan Gereja Katedral Santo Petrus.

Mikyala di depan Taman depan Gereja itu masih berdiri tertegun memandang bangku kosong tempat biasanya Hendarno Al Buchari menunggunya.

Tanpa sadar setitik air mata jatuh di pipinya. Gadis cantik berambut panjang berwajah teduh itu tidak mampu menahan rindunya kepada Hendarno Al Buchari.

Akankah setiap Misa Natal di Bulan Desember ini harus berakhir dengan kerinduan yang mendera lubuk hatinya?

Sindang Palay, 28 Desember 2022.

@hensa.

Responses (10)

Tinggalkan Balasan