Kisah Natal Masa kecil, Toleransi Beragama, dan Iman yang Tak Luntur

oleh -635 views
Perayaan Natal (Sumber foto : Pexels.com/PICJUMBO.com)

Umat Kristiani di seluruh dunia khususnya di Indonesia sangat bersukacita pada momen Natal tahun 2022 yang baru berlalu.

Setelah hampir tiga tahun terkungkung pandemi Covid-19, perayaan Natal tahun 2022 bisa dilaksanakan lebih meriah tanpa pembatasan berlebihan. Kegembiraan menyambut Natal bahkan sudah dirasakan sejak bulan Oktober.

Masa Natal dan bulan Desember memang sering kali menjadi masa dan bulan yang sangat berarti bagi sebagian besar umat Kristen. Keceriaan yang dirasakan dalam masa Natal selalu lebih dari masa-masa lainnya.

Saat kecil dulu, sebagai anak-anak, saya sangat antusias menyambut Natal. Mulai dari mengikuti berbagai kegiatan di gereja untuk persiapan perayaan Natal anak-anak, maupun membantu persiapan Natal di rumah.

Persiapan di rumah meliputi dua persiapan, persiapan makanan yang akan disajikan, dan persiapan membersihkan dan menata rumah agar lebih bersih dam bersinar pada hari Natal.

Bersyukur sejak kecil, saya dididik untuk tidak pilih-pilih pekerjaan rumah tangga. Apa saja yang ditemui dan bisa dikerjakan, ya kerjakan. Mulai menyapu rumah , membersihkan halaman, menyabut rumput, mencuci piring, memasak, membuat kue, apa saja.

Pada masa menyambut Natal, saya tidak ketinggalan untuk ikut andil sibuk-sibuk di rumah. Saya ikutan mencetak adonan kue kering, ikut membersihkan perabotan, merapikan tanaman di halaman, bahkan pernah bertugas mengecat kusen pintu dan jendela.

Dua hari menjelang tanggal 25 Desember, kesibukan di rumah akan semakin intens. Ibu bahkan selalu meminta bantuan beberapa tetangga untuk berjibaku di dapur menyiapkan aneka hidangan untuk disajikan padai hari Natal.

Lalu, perayaan Natal akan diawali pada malam Natal tanggal 24 Desember. Kami sekeluarga akan mengikuti ibadah di gereja. Penyalaan lilin natal merupakan puncak ibadah malam Natal. Momen ini merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu.

Ketika bersama Jemaat mulai melantunkan lagu Malam Kudus dengan iringan organ, lampu gereja dipadamkan, dan lilin-liln kecil yang ada di tangan jemaat mulai dinyalakan, ada rasa haru dan sukacita yang tak mampu digambarkan dengan kata-kata. Rasanya seperti ada kekuatan supra natural yang memberikan rasa damai yang  tak terkatakan.

Saat saya mulai merantau jauh dari orangtua, dan dalam beberapa kesempatan pada hari Natal tidak bisa pulang kampung guna bersama orangtua merayakan Natal, momen Malam Kudus berkali-kali sukses membuat air mata yang berurai turun membasahi pipi. Teringat pada orangtua yang jauh di kampong dan masa kecil yang bahagia, sanggup mengoyak-ngoyak hati.

Pada hari Natal, 25 Desember, kembali kami akan pergi beribadah di gereja. Kegiatan ibadah di gereja kami saat itu dimulai pukul sembilan pagi.

Usai ibadah, jemaat akan saling bersalaman mengucapkan selamat Natal. Lalu, berbondong-bondong jemaat akan mengunjungi rumah pendeta yang terletak di bagian belakang gereja.

Ibu pendeta biasanya sudah menyediakan aneka makanan dan minuman kecil bagi jemaat. Saya sendiri sangat menyukai kegiatan berkunjung ke rumah pendeta, karena buat saya, makanan yang disajikan tidak ada yang tidak enak, hehe…

Kembali ke rumah, sepulang dari gereja, beberapa tetangga yang membantu di rumah sudah menunggu. Mereka langsung mengucapkan selamat Natal kepada kami.

Terkadang, beberapa orang tamu, kenalan dan kolega ayah telah menanti di dalam rumah. Satu hal yang menarik dari perayaan Natal pada masa kecil adalah gelaran perayaan Natal yang sangat meriah di rumah kami.

Kenalan ayah dan ibu serta kolega ayah sangat banyak. Nilai plus tinggal di kota kecil, rasa kekeluargaan dan solidaritasnya sangat tinggi. Bahkan toleransi beragamanya sangat baik.

Hal ini tampak nyata dalam hari-hari besar keagamaan. Umat berbeda agama akan saling mengucapkan selamat. Bukan sekadar mengucapkan selamat, mereka juga saling berkunjung ke rumah teman, sahabat, tetangga yang merayakan, tidak peduli berbeda agama.

Begitu pula yang kami rasakan ketika merayakan Natal, rumah kami dibanjiri pengunjung dari pagi hingga malam. Tetangga, teman, dan sahabat siilih berganti datang memberikan selamat dan ikut bergembira bersama kami.

Hal yang sama akan keluarga kami lakukan pula ketika tetangga-tetangga dan teman-teman ayah dan ibu yang berbeda agama dengan kami, sedang merayakan hari besar keagamaan.

Mulai pukul sembilan pagi, bersama ayah dan ibu, kami anak-anaknya akan diajak berkeliling berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya. Diawali berkunjung ke tetangga-tetangga terdekat lebih dahulu, disusul mengunjungi teman-teman ayah yang lokasi rumahnya lebih jauh.

Kegiatan silaturahmi yang orang tua saya lakukan, sebagai wujud toleransi antarumat beragama ini, saya ikuti bertahun-tahun hingga akhirnya saya harus meninggalkan rumah untuk melanjutkan sekolah di kota lain.

Sungguh disayangkan bila pada beberapa tahun terakhir, muncul konsep-konsep yang menyatakan bahwa mengucapkan selamat hari raya pada umat beragama lain akan melunturkan keimanan kita sebagai umat beragama.

Sedari kecil saya sudah dibiasakan orangtua, bahkan terbawa hingga dewasa dan berkeluarga kini, untuk mengucapkan selamat hari raya pada umat beragama lain. Namun, terbukti keimanan saya pada agama yang saya peluk tidaklan luntur. Sebaliknya, puji syukur, malah bertambah kuat.

Perbedaan adalah anugerah Tuhan yang Maha Esa. Untuk itu, patut kita syukuri dengan saling menhargai perbedaan tersebut.

Perbedaan juga merupakan hal yang wajar dan manusiawi, Oleh karena itu, tidak perlu diperdebatkan, apalagi sampai saling membenci dan menghujat.

Menyambut tahun baru 2023, tentunya harapan kita semua, semoga kehidupan antarumat beragama di negeri tercinta ini semakin harmonis, tetap bersatu sekalipun berbeda.

Selamat Natal 2022 dan selamat Tahun Baru 2023.

Tuhan memberkati. Syalom.

Tentang Penulis: Martha Weda

Penulis

Responses (9)

Tinggalkan Balasan