
Saya pernah mendengar satu ungkapan lucu tentang pernikahan. Berbunyi demikian: orang yang ada di luar ingin cepat-cepat masuk, sementara yang sudah di dalam ingin segera keluar.
Ungkapan di atas memang terdengar sarkastis. Mungkin dicetuskan oleh orang-orang yang memandang sinis dan skeptis pada lembaga pernikahan.
Namun, ungkapan itu ada benarnya. Ungkapan ini dipastikan datang dari hasil berbagai pengamatan terhadap banyak kasus pernikahan, baik yang dilihat langsung maupun tidak.
Tentu bisa dilihat di sekitar kita, begitu banyak rumah tangga yang berakhir dengan perceraian. Padahal, masa pacarannya terlihat begitu indah. Bahkan kedua sejoli tampak menggebu-gebu ingin segera naik ke pelaminan, Tetapi setelah beberapa tahun menikah, salah satu atau keduanya ingin segera bercerai karena berbagai alasan.
Belum lagi banyaknya pernikahan yang diwarnai dengan tindakan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). KDRT dalam pernikahan jelas sangat tidak sehat. KDRT dapat membuat rapuh sebuah hubungan. Bahkan bisa berakhir pada perceraian.
Sesungguhnya, menjalani pernikahan memang bukanlah hal yang mudah. Tidak cukup hanya modal cinta dan perasaan saja, apalagi cinta buta. Ada harga yang harus dibayar untuk mampu mempertahankan relasi dengan pasangan tetap harmonis dan penuh cinta.
Bila hanya ingin menikah saja tanpa mau membayar harga atau menjalani konsekuensi, akan fatal akibatnya. Alamat akan berakhir pada sidang perceraian.
Oleh sebab itu, pernikahan sebaiknya tidak dibangun oleh sebuah keputusan instan. Harus ada persiapan matang sebelum masuk ke gerbang pernikahan.
Saya sendiri sudah memasuki usia pernikahan ke-16 tahun. Suami adalah pilihan saya sendiri, dan kami menikah atas dasar cinta yang kuat.
Namun, apakah dasar cinta saja cukup bagi kami untuk tetap harmonis dalam pernikahan? No! Kami juga harus membayar harga untuk itu. Kami harus menjalani konsekuensi dari sebuah pernikahan, agar cinta itu tidak mati dan hubungan tetap seia sekata.
Meruntuhkan separuh ego
Ketika menikah, dua orang bersatu dalam sebuah rumah tangga. Dua orang tersebut semula sangatlah berbeda. Berbedanya bahkan dalam banyak hal. Jenis kelamin, latar belakang, suku, budaya, pola pikir, kebiasaan, pola pengasuhan, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, dibutuhkan tindakan penyesuaian. Tindakan penyesuaian ini dilakukan agar perbedaan tersebut tidak menjadi biang permasalahan.
Salah satu konsep pernikahan yang cukup ideal dapat diterapkan dalam adaptasi tersebut. Konsep tersebut yaitu, 1 + 1 = 1. Konsep ini beberapa kali saya dengar dari beberapa penasihat pernikahan.
Satu yang dimaksud disini, bukan satu tubuh istri ditambah satu tubuh suami. Bukan! Satu yang dimaksud disini adalah satu ego atau satu konsep diri sendiri.
Sebelum menikah, istri membawa ego sendiri, suami juga membawa ego sendiri. Nah, dalam konsep ini, setelah menikah, separuh dari masing-masing ego harus diluruhkan.
Setelah diluruhkan akan menyisakan setengah ego masing-masing, baik untuk suami maupun istri. Artinya, sisi dominan dari masing-masing mereka berkurang.
Dengan begitu, diharapkan hubungan pasangan suami istri bisa mulus, tidak lagi mengedepankan ego masing-masing.
Hal ini pula yang saya dan suami terapkan. Contoh saja, saya seorang yang tidak sabaran, mau tidak mau menyesuaikan diri dengan suami yang cenderung tenang.
Begitu pula suami. Suami semula hanya akan mandi satu kali sehari saat sedang libur di rumah. Namun, karena saya tidak suka, mau tidak mau suami tetap mandi dua kali sehari meskpiun libur.
Ikhlas menerima kekurangan pasangan
Setiap manusia punya kekurangan. Tidak ada manusia yang sempurna.
Diantara banyak kekurangan tersebut, ada kekurangan yang bisa diperbaiki. Tetapi tidak sedikit pula yang sudah mentok. Artinya kekurangan tersebut dari sono-nya sudah begitu, tidak bisa diperbaiki lagi.
Tentu bukan hal yang mudah menerima kekurangan orang lain yang tidak bisa diperbaiki lagi, terlebih pasangan. Apalagi bila kekurangan itu sangat mengganggu.
Akan tetapi, seperti itulah menikah. Salah satu harga yag harus dibayar adalah siap menerima kekurangan pasangan, apapun itu.
Di balik itu, kita pun harus sadar diri. Bahwa kita pun sama dengan pasangan kita, memiliki kekurangan. Bahkan mungkin kekurangan kita lebih banyak dari kekurangan pasangan.
Siap melaksanakan tugas dan tanggung jawab
Memasuki lembaga pernikahan artinya siap melaksanakan tugas dan tanggung jawab. Artinya, baik suami maupun istri sadar akan tugas dan tanggung jawabnya.
Tugas dan tanggung jawab ini sesuai dengan porsi masing-masing. Suami memiliki tugas dan tanggung jawab inti sebagai imam dan pencari nafkah. Sedangkan istri bertugas sebagai pendamping dan penolong suami, serta bertanggung jawab atas pekerjaan rumah tangga.
Namun demikian, pembagian tugas ini tidak mutlak. Bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi rumah tangga, serta kesepakatan bersama/
Intinya, masing-masing pihak tetap harus sadar akan tugas dan tanggung jawabnya. Tujuannya tidak lain agar roda rumah tangga tetap berjalan.
Pengabaian tugas dan tanggung jawab dari salah satu pihak saja dapat memicu konflik. Bila dibiarkan, konflik akan membesar, bisa memicu KDRT, bahkan bisa berakhir pada perceraian.
Setia
Kesetiaan menjadi sangat mahal akhir-akhir ini. Banyak sekali rumah tangga runtuh karena salah satu pihak tidak lagi setia pada pasangannya.
Ketidaksetiaan ini pula yang sering menjadi penyebab KDRT terjadi dalam rumah tangga. Mulai dari suami yang suka “jajan”, punya wanita simpanan, punya selingkuhan, sampai menikah lagi.
Oleh karena itu, penting menjaga komitmen untuk tetap setia pada pasangan. Demi mempertahankan cinta tetap utuh dan rumah tangga tetap harmonis.
***
Poin-poin di atas memang terkesan sederhana, hanya empat poin. Akan tetapi, billa kedua belah pihak melakukan dengan sungguh-sungguh keempat poin tersebut, niscaya hasilnya bisa diarasakan.
Yang pasti rumah tangga akan tenteram, damai dan penuh cinta. Cekcok ringan karena satu atau dua hal mungkin saja terjadi. Tetapi cekcok tidak akan lama karena kedua belah pihak bisa mengendalikan ego
Salam.
Penulis








Boleh juga tuh. Rumus kedamain rumah tangga yang harus dipegang suami istri. 1+1=1. Bukn 2. Keren ananda Martha. Ternyata kita ketemu juga di sini.
Sangat bermanfaat dan inspiratif…
Terima kasih, Mbak Ety
Terimakasih untuk artikelnya mbak Martha, bermanfaat..
Sama-sama, Mas Warkasa