Sebuah Pengharapan

oleh -668 views

Aisyah Rahmadani Herwaman. Akhh nama yang pernah aku sebutkan 5 tahun yang lalu didepan semua orang. Hingga saat ini kami hanya hidup berdua. Aku sangat bosan dengannya. Mengapa? Bayangkan saja. Setiap aku lelah pulang bekerja, dia menyambutku dengan gamis kebesaran kusutnya yang bau bawang itu. Jilbab yang menjuntai hampir menyentuh lantai. Sangat tidak enak dipandang, ditambah hingga saat ini dia tidak bisa memberikan buah hati yang sangat aku nantikan. Berbeda dengan Chellin, dia sekretaris ku Di kantor. Rambutnya yang panjang tergerai indah juga bau tubuhnya yang harum memabukkan.

Suatu hari aku melihat Chellin yang sedang berdiri dipinggir jalan entah sedang apa.

Karena kasihan aku mencoba mendekatinya.

“Hai, Chelin. Sedang menunggu apa?”.

 Chelin memandangku sembari tersenyum

 “Eh Pak Ahmad, Saya sedang menunggu angkutan Pak”. “Perempuan secantik kamu tidak boleh menaiki angkutan dekil seperti itu, sudah sekarang kamu pulang sama saya saja” Tawar ku.

  “Ehh, tt-tapii pakk, istri bapak kan sudah menunggu dirumah”

   “Tenang saja itu urusan saya”. Mendengar kalimat ku, Chelin mulai mendekati mobilku dan duduk disampingku.

Setelah mengantar Chelin pulang kerumahnya dengan selamat, aku segera pulang Ke rumah.

Tok tok tok !

Suara pintu itu terdengar dengan sangat keras membuatku terkejut. Segera aku bukakan pintu rumah dengan perasaan yang tak karuan.

” Eh mas Ahmad, baru pulang mas? Makan dulu mas, aku sudah membuatkan rendang kesukaan kamu” Ucapku sembari mengecup punggung tangan mas Ahmad.

“Aku kenyang, kamu makan sendiri aja, aku mau mandi” kata mas Ahmad.

 “kalau begitu, biar aku siapkan air hangat saja ya mas” aku berusaha untuk tetap tersenyum.

 “Bawel banget jadi istri, aku bisa sendiri, makan sendiri aja sana. Aku tidak lapar!” Jawab Mas Ahmad dengan berlalu pergi dan melemparkan tas kerja nya sembarangan.

Ada apa dengan mas Ahmad? Apa aku berbuat salah? Kataku dalam hati.

Sudah hampir 2 bulan Mas Ahmad selalu pulang larut malam, dan ia selalu berangkat pagi sekali katanya sedang sibuk. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan mas Ahmad akhir-akhir ini. Sudah pernah aku mencoba bertanya, dan balasannya yah hanya nada tinggi bentakan dan pukulan yang aku dapatkan. Aku tidak apa-apa, mungkin saja Di kantor sedang ada masalah. Ucapku menguatkan hati

Dilain sisi…

“Sayanggg… Kapan kamuu nikahin akuu?” Tanya Chellin sambil memelukku.

“Sabar yah, tunggu sebentar lagi. Aku sedang mengurus surat cerainya” jawabku menenangkan hatinya.

“Okey, sayangg… Tapi cepett yahh cerai in istri kamu itu yang dekil. Kalo kamu lebih memilih aku” katanya dengan bibir yang cemberut.

“Iya sayanggkuu.. sudah malam, mari kita pulang. Aku takut Mak lampir itu curiga” kata ku.

Setelah itu kami pun pulang dan beranjak dari tempat duduk restoran yang sedang ramai pengunjung.

Ceklek! Suara pintu kamar terbuka, aku yang sedang melantukan ayat suci Al-Quran pun berhenti dan memalingkan wajah. Ternyata mas Adam sudah pulang, segera aku kemasi dan rapihkan kembali mukenah dan sajadah yang aku pakai dan segera mendekati suami ku.

Sebelum aku mencium tangannya, aku sudah terlebih dahulu mencium bau parfum… Wanita???.

“Mas Adam, darimana?” Tanyaku memulai pembicaraan

“Kantor” jawabnya singkat

“Mas Adam, ganti parfume?” Tanyaku hati-hati

“Iya, aku mau mandi dulu, panas disini” katanya.

Setelah Mas Adam menaruh barang-barang kantornya ia bergegas pergi ke kamar mandi yang ada di sudut kamar.

Terdengar suara air kran yang menyala.

Ketika aku ingin pergi menaruh baju Mas Adam ke keranjang pakaian kotor. Tiba-tiba suara notifikasi dari Handphone mas Adam berbunyi. Awalnya aku tak mempermasalahkan, namun suara spam itu menganggu aktifitas ku. Tak sengaja aku melihat nama Chellin di layar. Dann… Apa ituuu, Sayangg??

Tak ada badai petir. Hatiku berdenyut sakit. Ada apa sebenarnya? Karena aku merasa ada yang tak beres. Aku menekan gambar telpon di pojok kanan atas.

“Halo sayanggg, lama banget bales nya. Aku kangenn tauuu, oh iya gimana janji kamu. Kapan kamu ceraikan istri tak bergunamu itu?” Suara diseberang sana.

Tak kuasa menahan tangis, akhirnya air mata yang aku tahan mengalir dengan leluasa.

Terdengar suara decit pintu kamar mandi terbuka, dan aku segera mematikan sambungan telpon itu dan mendekati suami ku yang sudah rapih dan terlihat segar.

“Mass… Apa ini?” Tanyaku sambil terisak mengulurkan tanganku yang memegang handphone nya.

“LANCANGG SEKALI KAMU!!( PLAKKK!!)”.

Aku terkejut dan memegang pipiku yang terasa memanas, dan rasa anyir yg keluar dari ujung bibirku.

“Kenapa mas, kenapa kamu tega melakukan ini padaku?, Karena aku tak bisa memberimu keturunan?, Jawabb aku masss jangan diam saja” ucapku masih menahan emosi.

Hening tak ada balasan apapun, selain suara deru nafas mas Adam yang seperti menahan emosi.

“JAWAB AKUU MASSS, APA AKU SEHINA ITU DIMATAMUUU!!” Tak sengaja emosiku meluap.

“YAAA, KAMU ITU SAMPAH. AKU MUAK DENGAN MU, MUNGKIN SAATNYA SEKARANG AKU AKAN MENCERAIKANMU!”.

Tak bisa aku menahan seluruh derita ini, aku runtuh karna nya. Aku tak kuasa menahan tangis dan segala emosi ku. Mas Adam yang langsung keluar rumah entah pergi kemana. Tak peduli dengan rasa sakit yang menjalar di pipi dan bibir ku. Rasanya hati ini lebih sakit dibandingkan itu. Allah mengapa engkau memberi cobaan seperti ini padaku. Kataku dalam hati

Kesal rasanya sangat kesal, ketika segalanya tak berjalan sesuai rencana. Semuanya berantakan. Aku muak dengan hidup ini.

“Halo sayang, aku segera ke rumah mu sekarang” aku menelfon Chellin

“Loh, ada apa? Apa istrimu tidak mencarimu?” Tanya Chellin

“Nanti aku ceritakan”.

Segera aku matikan telfon itu dan tepat diperempat jalan. Sinar terang menutupi pandanganku, aku tidak bisa melihat apapun. Terdengar suara klakson dan dentuman keras saling bersahutan. Sakit rasanya tubuh ini, remuk dan tak bisa kugerakan apapun dari tubuhku. Hingga akhirnya kegelapan mulai menyelimuti.

“Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, ampuni segala kesalahan suami hamba. Hamba memohon ampun kepada-Mu Rabbi, tak ada tempat selain kepada-Mu aku meminta, sembuhkan lah, angkat lah rasa sakit yang di derita Mas Adam ya Allah. Sadarkanlah mas Adam ya Allah, aku bersujud meminta pada-Mu. Hamba sudah menerima semuanya Ya Allah, sadarkan suami hamba. Rabbana atina fidunya khasanah, wafil a khirati khasanah wakina adza bannar. Aminnn yarabal alaminn “

Aku mendengar suara lembut itu, tak terasa air mataku menetes dalam gelap. Maaf kan aku istriku, begitu kejamnya aku padamu selama ini. Aku tak bersyukur mendapat istri se sholehah kamu. Kenapa aku sangat bodoh sekali. Tuhan izinkan hamba melihat wajah istri hamba.

Sedikit demi sedikit cahaya mulai terlihat dari balik gelap. Sedikit aku bisa menggerakkan jari-jari tanganku.

“A.. aiss..yahh” suara ku parau.

Aisyah yang mendengar mendekat dan berkali kali mengucap syukur.

“Mas, ya Allahhh Alhamdulillahirabbilalaminn 4 bulan akhirnya engkau mengabulkan doa hamba”.

“Aais, yahh.. mm-aafkan a-aku” terbata, namun aku memaksakan ingin mengatakannya.

“Tak apa mas, aku ikhlas menerimanya”

Aku menggenggam tangan Aisyah erat untuk menyalurkan rasa permintaan maaf ku dari hati yang paling dalam.

Ku mencoba mengangkat tanganku dan menyentuh, bibir ini yang pernah terluka karena tangan berdosa yang aku miliki.

“Aisyah, istriku maafkan aku” ucapku dalam hati.

Beberapa tahun kemudian, Kuasa Allah SWT. Kami dititipkan anugerah terindah yang tak pernah aku kira. Aisyah hamill !!

Alhamdulillah aku sangat senang akan hal ini. Aku selalu menuruti apapun yang Aisyah mau.

Seperti sekarang ini, kami saling memeluk dibawah sinar rembulan yang indah memancarkan sinarnya. Sambil mengelus perut Aisyah yang sudah mulai membesar. Semakin memeluk Aisyah dengan rasa penuh kasih sayang, tak ingin kehilangan bidadari cantik ini untuk kedua kalinya. Disaksikan oleh rembulan dan pohon rindang yang melambai menari di iringi oleh angin malam yang sejuk.

“Aisyah istriku, hal itu mungkin cukup berlalu dan tak ingin kembali. Aku tak akan mampu jika hanya mengucap beribu kata maaf kepadamu. Namun aku akan selalu menjagamu hai jodoh dunia akhirat ku” -Mas Adam

“Tak perlu kau minta maaf, karena cobaan dalam rumah tangga pasti ada. Kuncinya adalah saling percaya. Aku percaya kau imamku begitupun sebaliknya” – Aisyah Rahmadani Herwaman

Responses (3)

Tinggalkan Balasan