Natal-Tahun Baru, Sebuah Titik Pergeseran

oleh -401 views
Selamat Natal dan Tahun Baru (Tribunnews.com)

Bicara soal momen Natal-Tahun Baru alias Nataru, ada banyak memori yang muncul di kepala saya. Memori itu berasal dari aneka cerita yang hadir dengan beragam warna.

Dimulai dari bagian yang menyenangkan, terutama di masa kecil, Natal-Tahun Baru adalah momen liburan yang selalu ditunggu. Ada kesempatan pergi ke tempat wisata, menonton film bagus di televisi, bertemu kerabat, dan tentu saja ikut ibadah di Gereja.

Layaknya seorang bocah, momen seperti ini biasa ditunggu dengan antusias. Tapi, perjalanan waktu justru menghadirkan pergeseran perspektif, lengkap dengan aneka momen yang hadir.

Memasuki masa remaja, Natal-Tahun Baru bergeser jadi satu kesempatan untuk mengobati rasa kangen pada kampung halaman.

Saya masih ingat, saat masih SMP dulu, saya sempat menjalani masa-masa sulit: perbedaan suasana dan suhu udara antara Wonosobo dan Yogyakarta, ditambah level persaingan dan situasi sebagai objek “bully” membuat saya mau tak mau merasa kangen dan ingin mudik sejenak.

Alhasil, momen libur panjang seperti Natal-Tahun Baru selalu jadi kesempatan baik untuk pulang sejenak. Meski segala sesuatunya tidak selengkap di Yogyakarta, rasa nyaman yang dihadirkan selalu bisa membuat saya menemukan lagi semangat untuk menghadapi masa sulit itu.

Memasuki masa SMA rasa “homesick” dan masa sulit itu akhirnya hilang. Tapi, momen Natal-Tahun Baru kembali menghadirkan pergeseran perspektif, berupa keinginan untuk “menyepi”.

Bukan karena sedang mengalami masa sulit, tapi karena saya merasa suasana yang ada terasa tidak wajar. Tidak ada rasa nyaman seperti “pulang ke rumah sebagai diri sendiri” saat beribadah di Gereja pada momen Natal-Tahun Baru, karena ada semacam keharusan untuk tampil lebih “wah” dari biasanya.

Itu memang terlihat keren dari luar, tapi menjadi aneh di hati, karena ada rasa tidak nyaman. Seperti jadi orang asing di rumah sendiri.

Padahal, Yesus lahir secara sederhana di kandang domba, bukan di istana.

Alhasil, saya pun enggan untuk beribadah di Gereja pada momen Natal-Tahun Baru. Sudah batin tidak nyaman karena sorotan pada penampilan luar, masih ditambah rasa was-was, karena selain Paskah, Natal-Tahun Baru adalah momen dimana gedung Gereja bisa kekurangan tempat duduk dan tempat parkir.

Pada minggu biasa, tidak pernah seperti itu. Benar-benar memori Natal yang cukup hambar.

Itu belum termasuk mulai hadirnya perbandingan menjurus toksik dari orang-orang terdekat. Ada perbandingan soal prestasi studi, status hubungan, sampai cita-cita.

Apa boleh buat, antusiasme di masa kecil dulu berubah jadi sedikit rasa muak. Ketenangan batin yang seharusnya didapat pun rusak.

Uniknya, di tengah rentetan memori kurang mengenakkan itu, ada saat dimana momen Natal-Tahun Baru menghadirkan satu “memori untuk selamanya” pada penghujung tahun 2013.

Berawal dari ajakan Opa untuk mudik ke Wonosobo yang saya iyakan, saya akhirnya bisa menutup tahun yang terlalu disibukkan dengan kuliah dan kegiatan di kampus dengan tenang.

Sekali lagi, saya menikmati suasana kampung halaman yang dingin tapi segar, bertemu teman lama, beribadah di Gereja saat Natal dan Tahun Baru walau cuaca hujan, dan minggir sebentar dari keramaian khas kota besar.

Liburan selama kurang lebih dua minggu itu ternyata jadi momen Natal-Tahun Baru terakhir saya bersama Opa. Pada akhir bulan berikutnya, Opa berpulang karena sakit dan faktor usia, hanya beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke 89.

Sejak saat itu, setiap kali Natal-Tahun Baru datang, apalagi jika ada hujan di tahun baru, memori soal momen “pamitan” Opa itu kadang muncul. Untungnya, masih terselip rasa syukur, karena dulu saya ikut mudik. Kalau tidak, mungkin saya akan menyesal seumur hidup.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, Natal-Tahun Baru seperti tak lelah menghadirkan situasi sulit. Mulai dari nyaris terjebak banjir di ibukota, pandemi, sampai ujian mental karena di saat orang-orang terdekat mulai mapan bahkan ada yang sudah beranak pinak, saya bahkan masih belum punya pijakan yang stabil.

Satu-satunya yang konsisten hanya respek dari relasi lintas agama. Ada yang memberi ucapan selamat, bahkan ada yang memberi hadiah. Apapun status dan situasinya, respek tetap nomor satu.

Mungkin, ini bukan cerita Natal-Tahun Baru yang ingin Anda baca. Hanya ada sedikit cerita bagus soal Natal-Tahun Baru yang saya tulis. Sisanya, tidak sama sekali.

Tapi, di sinilah momen Natal-Tahun Baru menghadirkan sisi jujurnya. Dia tidak pernah berjanji manis, tapi selalu membawa kita ke level yang berbeda.

Inilah titik dimana kita bisa melihat lagi semuanya, sebelum kembali melangkah. Melihat diri berdasarkan apa yang dipunya saat ini, bukan yang tidak ada, seperti kata lagu “Siawase No Monosashi” (Measure of Hapiness) yang dinyanyikan Mariya Takeuchi berikut ini.

https://youtu.be/BrawPzP87Eg

Jadi, kita bisa terus relevan, tanpa kehilangan jati diri. Kalau kata Opa dulu, “ngeli tapi ora keli” (Bahasa Jawa: mengikuti arus tanpa terhanyut olehnya).

Responses (6)

Tinggalkan Balasan