bulan menyipit gemas merobek kembang-kembang tidur seolah tanpa hati menghamburkannya di antara kerlipan kunang-kunang sementara segelintir embun merangkak ke balik daun saat mendengar surya berjanji mengusir malam dan menyeret pagi yang masih melindur aku memang taklagi milik siapa chandra pun surya

kaget tah?bapak kagetkah?rasio es dua dan es dua sangat rendah?jeblok dibanding negara sebelah? makanya, ojo gumunanjangan gampang kaget pegawai bapak bilang;pendidikan tinggi ndak pentinges satu tidak harus jadi takusah kagetminum es puter biar bapak tak kaget sebelum mengerti:kepala tukang es puter

Stiki

di bawah gelombanglaut biru mengalir teduhtenangluluh ikan-ikan berenangriang ke sana ke sinitanpa henti “sebentar, sebentar!” jemplingheningtiada denting. “ikan tidak tidur?” Serentak ikan-ikan berhenti berenangmelotot marah ke satu arah “jika kami tidur, dan hanya jika kami tidur, kala membuka mata bisa kelilipan

Puisi untuk negeri Ada luka yang menganga di merah kibaran benderaTetesan darahnya telah lama mengeringtetap saja kain merah meliuk-liuk seirama angin bertahan dan bertahan dari serbuan dingin Tiadakah kau lihat putih itu bernoktah dan memenuhi pori-poriKita lupa mencuci bendera sebelum berkibar

Kucuran kopi terdengar merdu Kepulan asap mewangi Denting sendok menyentuh cangkir Sepasang mata bertatapan Bibir menyentuh kopi panas Seruput terdengar pelan Rasa puas terukir bibir basah Kopi terbuat campuran cinta Kopi susu selalu engkau pilih Engkau nikmati rasa diantaranya Bukan rasa

bulan jatuh di genteng warung kopi para lelaki perlente berdasi keluar dari gedung warna-warni lari-lari mereka serabutan, upel-upelan berteriakan berebutan memeluk bulan. bulan malu, tersipu merah dadu bulan deg-degan digoda-goda bulan cekikikan dielus-elus bulan menggeliat dipijat-pijat bulan mendesah dicium-cium bulan merintih