Kisah di Balik Ramadhan

oleh -839 views

Bagai ditampar dari dua sisi, pipiku terasa panas. Detak jantungku berpacu, air mata meluncur dari sudut mata tanpa bisa kuhalangi. Masih ada beberapa pesan lagi yang dia kirimkan, yang isinya sama-sama menghancurkan.

Aku dimaki, dicerca, dan dihina bagai binatang. Siapa perempuan yang telah berani mengeluarkan kata-kata itu padaku?

Sejenak, aku berhenti mengeja kata. Menyeka air mata, lalu kubaca lagi pesan yang begitu panjang. Baru bisa kusimpulkan setelah semua kata terbaca.

Aku terdiam merenungi nasib, ternyata suamiku telah menikah siri dengan perempuan itu. Sikapku selama ini telah dibacanya sebagai penolakan, karena itu ia bisa menikahi perempuan lain.

Tanpa pikir panjang lagi, aku mempersiapkan segala kebutuhan dan melangkah ke pengadilan agama dengan beberapa bukti. Salah satunya adalah chatting perempuan itu kepadaku.

Ramadhan, di saat yang lain sibuk mempersiapkan diri dengan ibadah bersama keluarga, buka bersama, sahur, dan tarawih bersama-sama, aku justru menggugat kebersamaan itu. Tepat di bulan Ramadhan, gugatanku disidangkan, dan putusan resmi dikabulkan baru turun setelah lebaran.

Tentang Penulis: Any Sukamto

Selalu berharap keberkahan hidup

Responses (4)

Tinggalkan Balasan