Kisah di Balik Ramadhan

oleh -837 views

Sebulan, dua bulan, aku dimanjanya. Apa pun ia datangkan asal aku bahagia dan melupakan semua kesalahannya. Namun, selepas bulan keempat, tingkahnya mulai mencurigakan.

“Din, aku besok pulang ke Ibu, ya. Kamu mau ikut?” tanya Bram polos.

“Besok? Mendadak sekali? Biasanya kamu paling sibuk kalo harus ketemu Ibu. Belum beli oleh-oleh dan lainnya?”

“Iya, ini sepertinya akan sering mengunjungi Ibu. Sekalian ada proyek di sana. Jadi gak harus bawa oleh-oleh segala, agar Ibu terbiasa. Kamu baik-baik di rumah, ya.”

Alih-alih pulang ke rumah orang tuanya, ternyata dia menemui mantan pacar saat SMA dulu. Awalnya aku tak percaya, Bram yang sekarang adalah yang lebih baik dari sebelumnya. Tak mungkin dia mengkhianati aku lagi, terlebih setelah peristiwa dengan wanita itu.

Beberapa kali dalam sebulan, ia selalu pamit pulang untuk menemui ibunya di Klaten. Aku hanya mengangguk saat ia berangkat, tetapi mulai tak percaya dengan kebenarannya. Tanpa banyak bicara, aku mencari informasi dari beberapa saudara dan kerabat yang tinggal dekat ibunya.

“Jadi, selama ini Bram gak pulang ke rumah Ibu? Sebulan tiga kali lho pamitnya? Bulik yakin gak lihat Bram di sana?” tanyaku pada tetangga Ibu di kampung, tetapi sudah seperti saudara bagi kami.

Benar saja, hanya sekali dalam sebulan yang ia benar-benar datang menemui mertuaku. Selebihnya, entah di hotel mana ia menginap. Setiap pulang dari kampung, ia selalu menunjukkan bukti tiket bus pulang dan pergi agar aku percaya, juga oleh-oleh seperti yang biasa dibawakan Ibu. Licik!

Aku berusaha menahan diri, enam bulan setelah pertengkaran itu, akankah terulang peristiwa yang sama dengan perempuan yang lain? Namun, hati kecilku tak dapat dibohongi, ada yang busuk dari kepulangannya ke Klaten. Aku mulai mengendus aroma tak sedap dari semua sikap manisnya.

Hal itu membuat aku tak bergairah ketika harus melayaninya. Terbayang saat dia dengan perempuan lain, dan kini harus aku yang melayaninya, semua jadi hambar.

“Kamu kenapa, Din? Beda lho dengan biasanya? Lagi ada yang dipikirkan?” tanyanya tanpa beban. Aku hanya diam, tak sanggup untuk berkata-kata.

Pertengkaran kembali terjadi. Alasan yang sama membuat aku tak ingin berdebat lagi. Aku ingin mengakhiri semua, tetapi si bungsu baru berusia tujuh tahun. Dia satu-satunya putraku, setelah kedua kakaknya terlahir perempuan.

Mengalah, kembali aku pada posisi sebagai pemberi maaf demi anak-anakku. Meski aku telah menikahkan si sulung, rasanya masih berat jika melihat anak-anak harus memiliki orang tua yang terpisah.

Baiklah, mungkin memang ini yang harus kujalani. Tetap berjalan mencapai tujuan meski harus tertatih. Aku yakin Tuhan tak akan diam dengan skenarionya. Pasti akan ada akhir dari ceritaku ini.

Siang itu, Bram tak ada acara keluar rumah. Ia berkata akan menyelesaikan semua urusan dari rumah saja. Aku hanya mengiyakan, lalu menyiapkan semua makanan dan keperluan lain yang dia butuhkan selama bekerja di rumah.

Saat Dio merengek minta tidur di kamar usai bermain, aku menyanggupi permintaan putraku itu. Setelah beberapa saat menemaninya tidur hingga terlelap, aku bangkit hendak keluar kamar. Dari jendela kamar Dio, terlihat Bram telah berpindah tempat duduk di teras membelakangi kaca jendela.

Dari situ terlihat jelas, Bram sedang menggunakan HP-nya dan asik chatting dengan seseorang. Iseng saja kuperjelas penglihatanku, demi memenuhi rasa ingin tahu.

Seketika jantungku berdetak kencang saat terbaca nama wanita yang tertera di atas layar. Aplikasi hijau itu menunjukkan deretan obrolan, sepertinya telah lama digunakan untuk berkomunikasi. Aku berusaha lebih dekat agar bisa membaca isi pembicaraan, meski mungkin kurang detail.

Untuk ke sekian kalinya, aku dibohongi lagi. Lemas tubuh ini, keringat dingin mengalir deras membasahi tubuh. Apalagi yang jadi alasannya? Haruskah aku bertahan?

Sejak saat itu, aku diam seribu bahasa. Rasanya malas harus berbicara dengannya, terlebih tidur di sampingnya. Tak ada lagi kata yang terucap untuknya. Aku pun memilih tidur di kamar putraku.

“Din, kamu sudah tak percaya aku lagi? Kamu gak butuh aku lagi? Kenapa kamu diam?”

Rupanya, sikapku itu digunakan sebagai senjata baginya. Diamku dimanfaatkannya untuk mencari alasan menghindar. Pada perempuan ningrat itu, kini dia menumpahkan segala rasa.

Pagi itu, terdengar notifikasi dari HP-ku. Sebuah pesan masuk di aplikasi hijau. Dari nomor yang tak kukenal, karena penasaran, aku pun membukanya.

[Jika Anda adalah istri yang baik, tentu tidak akan membiarkan suami Anda jatuh pada pelukan perempuan lain. Jika Anda adalah wanita yang penuh gairah, tentu tidak akan membiarkan suaminya berpaling pada tubuh yang lain. Koreksi diri Anda! Suami Anda itu baik. Tidak seperti yang Anda pikirkan. Perbaiki hubungan Anda, maka saya akan menjauh darinya. Kami memang telah menikah secara siri, tetapi itu bisa kami putuskan jika Anda mau menerima suami Anda kembali. Tak sepantasnya Anda memperlakukan lelaki yang baik seperti suami Anda! Ingat, perbaiki hubungan Anda, saya akan menjauh dari suami Anda.]

Tentang Penulis: Any Sukamto

Selalu berharap keberkahan hidup

Responses (4)

Tinggalkan Balasan