Novel, menurut saya, memerlukan kerangka utuh sebagai tempat bergantungnya “daging”, yaitu cerita-cerita yang saling berkaitan.
Ada benang merah dalam cerita puanjang banget itu. Dan, saya belum pernah menjelajahi dunia menulis novel. Rasa-rasanya, belum sanggup.
Widz Stoops meminta saya untuk mengisi satu bab. Saya menerima tantangan ini dan mendapatkan “jatah” di bab 19.
Membaca bab-bab awal diri masih tenang. Semakin dekat ke tujuan, hati makin tidak karuan. Bisakah saya menyambung benang merah itu? Lantas, gagasan apa yang hendak saya tulis?
Bab-bab makin dekat. Saya bolak-balik membaca bagian yang sudah selesai. Makin mumet pula kepala.
Tibalah giliran saya untuk menyelesaikan bab 19. Diberi waktu 5 hari yang terasa demikian cepat.
Dengan menarik napas, saya mengambil poin-poin penting bab terdahulu –terutama pada bab 18–sebagai pijakan cerita. Saya pun merakit bagian saya dengan gaya penulisan cerpen. Apa boleh buat?
Wow! Akhirnya, selesai juga penulisan bab 19 “Meredakan Tegangan dengan Ballantine’s dan LC” (halaman 159-171).










Punya kisah masing-masing ya om budi dalam menulis NoBar, kerrrennnnn pengalaman yang luar biasa
Terima kasih sama-sama, Admin Eskaber.
Terima kasih sudah berbagi tulisan, om Bud..
Good, good, good!