
Seorang teman di kota berbeda mengirimkan pesan agar melongok ke satu jalan di Bandung. Wanita itu melukiskan lokasi, juga ciri-ciri, dengan narasi.
Sang suami berdalih melakukan perjalanan demi tugas kantor, namun kuat dugaan seraya mengunjungi wanita lain. Pelakor. Istri mengetahui perselingkuhan itu, karena sebelumnya ia sempat mencuri baca percakapan di telepon genggam milik pasangannya.
Kemudian saya menelepon. Menerangkan bahwa Kota Bandung bukan kecamatan. Luas banget. Untuk mencapai lokasi dimaksud, perlu usaha lumayan. Dan daerah tersebut merupakan area macet.
Lagi pula, saya belum tentu sempat. Saya juga pendatang di kota itu yang harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Selain itu, saya enggan ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain. Terbelit, bisa jadi berabe.
Pada kesempatan berikutnya, saya mendapatkan kabar bahwa mereka bertengkar hebat. Salah satu sebab adalah perselingkuhan sang suami. Soal lain ada, tapi saya rasa tidak perlu menceritakannya di sini. Terlalu panjang.

Wanita tersebut mengirimkan foto diri yang memar akibat mengalami kekerasan. Domestic violence atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)!
Ia mengisahkan, belakangan suaminya berangasan. Tak segan-segan memukul sang istri bahkan di hadapan tiga anaknya. Terakhir, mereka mengakhiri hubungan. Bercerai.
Wanita itu mengenang, dulu ia merupakan pria baik. Ia sangat mencintainya lahir batin sampai bersedia menyerahkan kehormatannya saat masih pacaran.
Ya! Mereka sering berhubungan badan sebelum sah menjadi pasangan. Wanita itu menceritakan secara detail tentang gaya berhubungan intim.
Saya tidak hendak menceritakan bagaimana KDRT itu terjadi. Juga mengenai bagaimana mereka melakukan persenggamaan. Pengen tahu ya?








cerita yang bermanfaat…keren…
cerita yang bermanfaat…keren…
Sangat bermanfaat. Terima kasih untuk artikelnya Om Bud. Salam..
Terima kasih atas apresiasi, Mas Warkasa
Ikut menyimak
Mantap, Pak
Terima kasih atas apresiasi, Bu Martha
Keren cerpennya bikin penasaran kelanjutannya
Siap, Mbak Dinni. Terima kasih by
Mantap, Rudolfo.
Terima kasih banyak, Ayah Tuah