Puisi untuk negeri Ada luka yang menganga di merah kibaran benderaTetesan darahnya telah lama mengeringtetap saja kain merah meliuk-liuk seirama angin bertahan dan bertahan dari serbuan dingin Tiadakah kau lihat putih itu bernoktah dan memenuhi pori-poriKita lupa mencuci bendera sebelum berkibar

Kucuran kopi terdengar merdu Kepulan asap mewangi Denting sendok menyentuh cangkir Sepasang mata bertatapan Bibir menyentuh kopi panas Seruput terdengar pelan Rasa puas terukir bibir basah Kopi terbuat campuran cinta Kopi susu selalu engkau pilih Engkau nikmati rasa diantaranya Bukan rasa

(Ilustrasi cangkang siput laut, sumber foto : www.depositphotos.com)   Oleh : Pudji Widodo Jam 14.00 WIT, aku beranjak dari ruang tunggu Balai Pengobatan (BP) Lanal Dili dan menutup pintu klinik. Sebelum apel siang, aku biasa menuju ruang sekretariat. PNS Dominggus Kepala

Bulan semakin dekat. Kakiku ingin melangkah jauh. Dua kalimat itu, menjadi pelengkap sketsa setangkai bunga mawar dengan arsiran tinta hitam. Pulpen hitam itu pun berhenti bergerak, dari lembaran paling belakang buku catatan pelajaran Matematika. Langkah tergesa melewati pintu. Dan, Braaak! “Oh,

  AHY Makin Lihay Lucu atau naif, entahlah, yang jelas AHY dengan Demokratnya mengambil pilihan untuk tidak mendukung UU Cipta Kerja. Hak konstitusi, soal benar atau tidak, toh waktu yang akan menjawab dan menguak kebenarannya. Drama usai itu yang membuat Demokrat