<< Sebelumnya “Baiklah!” Geni mematikan ponsel, kemudian menyerahkan kembali benda rampasan itu pada pemiliknya. Cukup dengan satu ayunan pelan tangan kanan yang menggenggam beretta, anak perempuan berseragam abu-abu itu tergesa menjauh. Geni bergerak cepat menghampiri Corrie. Tanpa suara, mengacungkan ujung baretta

Bulan semakin dekat. Kakiku ingin melangkah jauh. Dua kalimat itu, menjadi pelengkap sketsa setangkai bunga mawar dengan arsiran tinta hitam. Pulpen hitam itu pun berhenti bergerak, dari lembaran paling belakang buku catatan pelajaran Matematika. Langkah tergesa melewati pintu. Dan, Braaak! “Oh,

Dokpri sesaat aku melihatmu tersenyum, hanya sesaat. perlahan kembali lenyap di antara rona mentari yang menggeliat. adakah kau rasakan pelukan rembulan, yang menghangatkan sanubari? atau tersesat dalam rengkuhan erat belantara mimpi, dan ingin kembali? jika benih persemaian waktu berlaku, kuingin mengikuti