SATU HARI, LIMA NARASI

oleh -461 views
SATU HARI, LIMA NARASI
SATU HARI, LIMA NARASI

Tentang Kendali Situasi dan Kondisi

“Ayah! Eh, udah bangun?”

Dari arah pintu, suara Uni Tya mengusikku.
Aroma wangi menyerobot lobang hidungku. Aih, anak gadisku sudah rapih!

“Tumben, dah rapih?”

Mataku segera mencelat ke arah jarum jam yang tersandar di dinding kamar. Lima menit kurang dari pukul enam. Tanyaku menghentikan langkah Uni Tya di pintu kamar.

“Kan, ada lomba di sekolah, Yah? Uni panitia. Jadi diminta datang lebih cepat!”
“Lah? Lombanya hari ini?”

Tak ada suara. Hanya anggukan kepala. Tubuh Uni Tya menghilang dari pintu kamar. Berganti lelaki kecilku, Rizqy. Anak baru kelas tujuh itupun sudah berpakaian rapi. Plus peci hitam di kepala.

“Kakak ikut lomba, kah?”
“Lomba yel-yel, Yah!”
“Oh! Gimana yel-yelnya?”
“Belum tahu! Bilang ketua kelas, nanti latihan dulu!”
“Lombanya hari ini. Latihannya juga hari ini?”

Tanpa jawaban, Rizqy segera menjauh dari kamar. Dan, aku tersadar. Kekadang, susah memberikan satu jawaban, jika tak mengenali atau memegang kendali situasi dan kondisi.

Tentang Lomba Pancasila

“Apak! Hari ini, Uni ikut dua lomba! Lomba makan kerupuk dan Lomba kelereng!”

Uni Azra adalah anak adikku. Karena ayahnya masih di Bandung, dan Ibunya mesti menjaga dua adiknya yang masih balita, maka aku urun serta sebagai tim antar-jemput sekolah.

“Wuih! Pasti seru, Ni!”
“Padahal Uni mau ikut baca Pancasila!”
“Eh, ada lomba baca Pancasila?”
“Ada. Tapi khusus untuk siswa kelas empat sampai kelas enam!”

Kudengar nada kecewa dari suara Uni Azra. Sepanjang perjalanan, anak kelas dua sekolah dasar itupun memilih diam. Namun, wajahnya terlihat sumringah saat turun dari motor di gerbang sekolah, dan bertatapsua dengan ustadz dan ustadzah.

“Makasih, Apak!”

Tangan mungilnya diajukan, untuk bertukar salam. Sekilas kuusap ubun-ubun kepalanya yang ditutupi jilbab warna merah.

“Eh, Uni. Apak mau titip, boleh?”
“Nitip apa, Pak?”

Langkah kecil Uni Azra tertunda. Matanya menatapku. Menunggu.

“Titip semangat untuk Uni!”
“Apaaaaaak.…”

Pluk! Satu pukulan ringan menyentuh lenganku. Kulihat gadis kecil itu tertawa, sambil mengayun langkah buru-buru menemui beberapa guru yang berbaris di sisi gerbang.

Aih! Padahal aku mau titip tanya. Kenapa ada lomba baca Pancasila? Jika ajang lomba di sekolah untuk memeriahkan kemerdekaan, bukankah lebih tepat lomba membaca teks Proklamasi?

Tentang Sumbangan dan Kuda Kepang

“Bang, sumbangan, Bang! Untuk lomba Agustusan, Bang!”

Laju motorku terpaksa berhenti di badan jalan. Usai mengantar Uni Azra ke sekolah. Selain aku, tampak sekumpulan anak muda juga mencegat pengendara lain yang hendak melintas. Dan, ini adalah kali ketiga sepagi ini. Dari tiga titik lokasi yang berbeda.

Begitulah! Selain semarak pemasangan bendera Dwiwarna, pemasangan umbul-umbul warna-warni dan pemasangan gapura ucapan selamat Hari Ulang tahun Kemerdekaan. Tepian jalan juga diramaikan dengan pendirian pos gerakcepat dan gerakcegat seperti yang dilakukan kumpulan anak muda tadi.

Dan, agaknya mereka mengantungi izin dari kepala desa atau lurah. Walaupun itu, lebih ke arah izin dalam diam. Atau jejangan pembiaran?

Aih. Sudahlah! Terkadang, anak muda mesti diberi ruang untuk memaknai cara mengisi kemerdekaan dengan logika mereka sendiri. Iya, kan?

“Makasih, Bang!”

Dua wajah penuh senyum menjamah ramah mataku. Agaknya masih usia sekolah. Dan, hari ini masih pagi. Di hari senin!

“Eh, boleh tahu lombanya apa aja?”
“Banyak, Bang! Panjat pinang, tarik tambang, karaoke dangdutan, terus…”
“Wah. Banyak!”
“Terakhir, bakal seru, Bang! Kuda kepang!”
“Ooh!”
“Hayuk nonton, Bang! Tanggal 17 dan 18!”

Tentang Hadiah dan Berdarah

“Apaaaak!”

Suara Uni Azra terdengar dari arah kelas dua. Satu benda terayun tinggi di atas kepalanya. Setengah berlari, langkah kecil Uni Azra menghampiriku.

“Uni dapat hadiah, Apak!”
“Alhamdulillah.”
“Uni juara dua lomba kelereng. Dapat kotak makan!”
“Hebat!”
“Yang lomba makan kerupuk gak menang! Gantungan tali kerupuknya ketinggian!”
“Haha…”
“Tapi tadi seru nian, Apak!”

Di atas motor, kisah Uni Azra tak terbendung. Berusaha merangkum cerita dari seluruh peristiwa lomba yang ada di sekolah.

“Kita langsung jemput, Uni Tya dan Kakak Rizqy, ya?”

Tak ada jawaban. Uni Azra masih sibuk melanjutkan kisah tentang teman sekolah yang lututnya berdarah, usai terjatuh saat lomba balap karung.

“Teman Uni, nangis?”
“Gak! Cuma luka sedikit. Bilang Tadzah, ‘Dulu, Pahlawan Indonesia juga berdarah-darah!’”

Tak ada yang salah dengan kalimat ustadzah. Aku sepakat, karena jawaban itu ditujukan untuk siswa kelas dua sekolah dasar. Duh, kalau tak malu, ingin rasanya kuberikan mawar merah buat Ustadzah. Halah!

Tentang Tanggal Merah ke Sekolah

Jelang pukul satu siang. Dua wajah penuh keringat, mengejar motorku sesaat setelah memasuki gerbang SMP. Dan, butuh sedikit jeda, saat Uni Tya, gadis kelas sembilan, dan Kakak Rizqy, lelaki kelas tujuh itu mendengar kisah singkat perjuangan dan kemenangan Uni Azra.

Namun, saat perjalanan menuju pulang ke rumah. Ketiga penumpang motorku menimang bisu.

“Seru lomba tadi, Kak?”
“Tapi capek, Yah!”
“Uni Tya? Panitia tak boleh ikut lomba, kah?”
“Boleh. Uni besok lomba, Yah!”
“Besok masih lomba?”
“Masih. Lusa pengumuman dan bagi hadiah!”
“Hari Rabu? Tanggal 17 itu, sekolah?”
“Iya. Kan, upacara?”
“Bukannya tanggal merah, libur?”

Tak lagi ada sahutan. Terkadang akupun begitu. Lebih memilih diam, daripada memberi jawaban yang ngasal.

Sesaat motor begerak usai mengantar Uni Azra ke rumah adikku. Kudengar ucapan pelan dari anak lelakiku.

“Yah. Nanti, berbukanya dengan dogan gula merah dan martabak Bangka, ya?”

Aih! Permintaan suci itu tentu saja mesti dipenuhi. Sebab, ada kesepakatan tak tertulis. Jika anakku jalani puasa sunah, boleh bebas menentukan menu berbuka. Alasannya sederhana, pengganti uang jajan.

“Bebas! Yang penting dihabiskan!”

Hiks….

Curup, 15 08.2022
zaldychan

Ditulis untuk Eskaber

HUT Republik Indonesia

Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat

Responses (3)

Tinggalkan Balasan