ESKABER

 << Sebelumnya “Baiklah!” Geni mematikan ponsel, kemudian menyerahkan kembali benda rampasan itu pada pemiliknya. Cukup dengan satu ayunan pelan tangan kanan yang menggenggam beretta, anak perempuan berseragam abu-abu itu tergesa menjauh. Geni bergerak cepat menghampiri Corrie. Tanpa suara, mengacungkan ujung baretta

Bulan semakin dekat. Kakiku ingin melangkah jauh. Dua kalimat itu, menjadi pelengkap sketsa setangkai bunga mawar dengan arsiran tinta hitam. Pulpen hitam itu pun berhenti bergerak, dari lembaran paling belakang buku catatan pelajaran Matematika. Langkah tergesa melewati pintu. Dan, Braaak! “Oh,

Pixabay.com  Dalam hujan aku merasa kesepian apa yang aku peluk hanya bayangan  Setiap tetes  hujan yang menyentuh tubuhku  adalah kerinduan  Di bawah guyur hujan aku merasa kedinginan oleh rasa kehilangan akan kehangatan  Kehangatan yang pernah kaujanjikan yang kini hanya jadi kenangan

  Photo by Vincent Guth on Unsplash Puisi ini aku buat tak Berjudul Untuk menuliskan kisah  seorang pria yang suka memetik gitar Selalu  lantang melantunkan sebuah lagu Selalu memberi kado bila ada yang berulang tahun   Harapku,  dihari jadiku nanti Tak

  Photo by eberhard grossgasteiger on Unsplash * Lantunan suara khas milik Iwan fals yang menyanyikan lagu “Belum Ada Judul” masih terdengar pelan saat mobil yang kami tumpangi memasuki daerah pegunungan bukit barisan.  Jam di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 16.30

Photo by Ihor Malytskyi on Unsplash Puisi ini terinspirasi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi ditahun kelahiran seorang Zaldy Chan yang ber-shio kelinci dan berbintang “timbangan” Libra. Karya ini adalah koloborasi dari Widz Stoops sebagai pengubah dan pembaca puisi dan Warkasa1919 sebagai pembuat