Udara siang itu
bercampur aroma mesiu. Desing letupan senjata api terdengar menjemput kesunyian
di tanah Singasari hampir lima detik sekali. Peluru tak henti-hentinya menyerbu
mobil yang dinaiki Geni dan Korrie.
“Semuanya akan baik-baik
saja,” kata Geni lagi. Suaranya mengeram. Bagian bawah sepatunya masih
menginjak pedal gas hingga nyaris ke dasar, membuat knalpot jenis header 4-1 yang terpasang di mobil itu
meraung cukup keras. Tangan kiri Geni memegang setir dengan erat, memutar benda melingkar itu ke kiri dan kanan. Di tangan kanannya, moncong Baretta bertipe pistol
semi-otomatis menghadap ke atas.
Korrie masih memandangnya
keheranan. Batinnya berkecamuk. Belum hilang betul dari benaknya kengerian dan
rasa dingin pucuk besi senjata api yang tertempel di kepala, sekarang muncul
lagi seseorang asing yang tengah bersiap menarik pelatuk pistol, duduk di
sebelahnya.
“Apa yang terjadi? Kau
siapa?” tanya Korrie. Tubuhnya agak gemetar dan sedikit terlempar ke kanan dan ke kiri mengikuti
arah zig zag dari mobil yang kemudikan Geni.
“Menunduk!”
sergah Geni.
Duaarrr! satu tembakan mendarat di kap mobil.
Tangan kanan
Geni yang masih memegang senjata api melempar penuh setir mobilnya ke arah
kanan, kemudian memutarnya kembali ke kiri dengan cepat. Tangan kirinya dengan
mahir memainkan persneling. Toyota Avanza bertipe G itu kini tidak lagi berjalan mundur.
“Begini lebih
baik,” ucapnya.
“Ini gila!”
Korrie histeris.
Sementara di
dalam Jeep merah bercorak hitam yang mengejar mereka, Daeng mengumpat,
“Keparat! Siapa orang itu!?”
Nyaris seluruh
pasukannya gugur. Tujuh tewas dari sembilan anak buah yang mengisi dua mobil
Jeep. Kini hanya tersisa dirinya dan dua anak buahnya.
“Mereka tidak
akan bisa lari,” seorang anak buah Daeng yang berada di balik kemudi berujar.
“Tentu. Tidak
ada yang bisa lari dari kita.” Daeng tidak sedetik pun melepaskan matanya dari
mobil putih yang berajarak sekitar seratusan meter di depan mereka.
“Aku akan
menggunakan itu,” kata seorang anak buahnya yang lain.
“Kau yakin bisa
menggunakannya di dalam mobil yang sedang melaju?”
“Aku akan
mencobanya.” Lelaki berambut cepak dengan tato kalajengking di lehernya itu
menunduk sambil merogoh tas kulit panjang di bawah kakinya. Ia mengambi sebuah AWM,
senjata bidik terbaik di kelas Arctic
Warfer. Ia memecah kaca bagian depan mobil dengan palu kecil agar bisa
meletakkan ujung senjata.
Geni memaksa
mobilnya untuk melaju lebih cepat. Speedometer
menunjukkan bahwa kecepatan pacuannya itu tidak kurang dari seratus kilometer
per jam. Wajah Korrie nampak cemas kendati suara teriakannya tidak senyaring
teriakan pertama.
“Kau tegang?”
tanya Geni dengan nada sedikit menggoda.
“Bodoh!” Tangan
Korrie berusaha meraih sabuk pengaman.
“Apa yang kau
lakukan?” selidik Geni. Fokusnya ke depan tidak hilang meski sesekali ia
mencuri pandang ke arah Korrie yang berada di sisi kirinya dan spion yang ada di
sebelah kanannya.
“Tentu saja
memasang sabuk pengaman!” jawab Korrie kesal.
“Kau tidak
memerlukan itu. Kita tidak memerlukannya sekarang.”
“Apa!?”
“Percayalah
kepadaku kalau kau ingin selamat. Aku akan membawa kita ke tempat yang aman.”
Duaarr! Seketika mobil yang mereka tumpangi
oleng. Geni berusaha mengontrol keseimbangan mobil yang masih melaju kencang
itu. Percikan api muncul di jalanan. Asap menguar di atas aspal. Gesekan roda
yang pecah dengan kerasnya lintasan menghasilkan suara yang cukup keras. Anak
buah Daeng berhasil menembak roda belakang sebelah kiri mobil Geni.
“Kena kau!” seru
Daeng.
Tembakan itu membuat mobil Geni kehilangan kendali dan nyaris menabrak pembatas
jalan. Beruntung, ia sempat menghentikan laju mobilnya. Ia dan Korrie terlempar
ke arah depan.
“Kau bilang kita
tidak memerlukan sabuk pengaman, hah?” ujar Korrie seraya memegang dahinya.
“Memang,” jawab
Geni sekenanya. “Pada hitungan ketiga, kita harus segera keluar dari mobil dan berlindung
di bagian depan. Mengerti?”
“Hah!?”
“Tiga!” Geni
keluar dari mobil dengan cepat. Meninggalkan Korrie yang masih kebingungan
beberapa saat. Tangannya masih menenteng Baretta.
“Tunggu!” teriak
Korrie yang segera turut keluar.
“Dengar, kita
akan keluar dari kekacauan ini dengan selamat. Aku bisa menjamin kalau kau akan
baik-baik saja. Seperti pesan yang dikirimkannya kepadamu melaluiku.”
“Ia siapa?”
tanya Korrie dengan napas tersengal.
“Nanti akan
kujelaskan,” Geni berusaha menenangkan. “Mereka akan mengepung kita.
Kita harus berlindung di balik mobil ini. Kau jangan melakukan apa pun.
Tetaplah berada di belakangku. Paham?”
Korrie mengangguk.
Mobil Jeep yang
dikendarai Daeng serta anak buahnya semakin mendekat. Jarak kurang lebih
seratus meter sudah terpangkas. Sekitar dua puluh meter dari Avanza putih itu,
Daeng meminta anak buahnya menghentikan laju mobil. Mereka bertiga mendaratkan kaki dengan agak ragu, sebab mereka masih buta terhadap kemampuan sosok asing yang berhasil
mengakhiri riwayat Baron serta menyapu dua penembak jitunya. Sosok misterius
yang tetiba muncul di tengah kekacauan kubu mereka dengan kubu Yakuza.
Daeng mengangkat
kedua tangannya, mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah, memberi isyarat
kepada kedua anak buahnya untuk mengepung lelaki yang membawa Korrie itu dengan
berhati-hati. Ia membiarkan pintu mobil terbuka. Menjadikannya sebagai perisai.
Sementara kedua anak buahnya terus melangkah perlahan ke arah Geni dan Korrie
yang bersembunyi.
“Siapa pun kau,
kami tidak memiliki urusan denganmu. Serahkan wanita itu, dan kami akan
membebaskanmu,” teriak Daeng mencoba bernegosiasi. “Keluarlah!”
Pria cepak yang
memiliki tato kalajengking di lehernya menyisir bagian kiri, sedangkan anak
buah Daeng yang menyetir mobil berjalan di sebelah kanan.
Geni mendengar
lamat-lamat suara gesekan sepatu mereka. “Ada dua orang yang mengepung kita,” katanya pelan.
Telunjuknya sedari tadi menempel di pelatuk. Ia menatap wajah Korrie. Membuat
ancang-ancang, gerakan sedikit menungging.
“Apa yang ingin
kau lakukan?” Korrie keheranan.
“Tentu saja
menyelamatkan kita.”
“Bagaimana caranya?”
“Mungkin kau
akan terpukau. Daya pikatku ketika beraksi meningkat berpuluh-puluh kali
lipat.” Geni tersenyum. Dari bawah mobil, ia melihat dua pasang kaki semakin
mendekati mereka. Sedangkan Korrie sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Tanpa aba-aba,
Geni melakukan lompatan salto akrobatik. Kedua anak buah Daeng yang
masing-masing memegang senjata nampak kaget. Respon lambat mereka memberi Geni
waktu yang cukup untuk berputar di udara dan menanamkan timah panas di kepala
keduanya. Geni terjatuh dan terempas di atap mobilnya. Daeng yang sempat
terpana akan aksi Geni langsung menujukan tembakan ke arahnya. “Kurang ajar!
Orang itu!” Daeng semakin kesal.
Geni segera
menjatuhkan tubuhnya dari atap mobil ke atas aspal sambil meringis kesakitan.
Ia berguling ke depan dan kembali menghapiri Korrie. “Ah, rusukku!”
“Itu gila!” ucap
Korrie yang terkejut.
“Bedebah!”
teriak Daeng terdengar dari kejauhan.
Duaarr! duaarr! duaarr! rentetan tembakan mengarah ke tempat
persembunyian mereka. Daeng menghujani Geni dan Korrie dengan tembakan beruntun
hingga pelurunya habis.
“Ini kesempatan
kita. Lari!” seru Geni seraya mengambil tangan Korrie. Mereka berlari melompati
pembatas jalan dan menuju ke arah pepohonan.
“Hei! Berhenti!” teriak
Daeng. Tangan kirinya menggasak peluru cadangan di saku jaket. Setelah
senjatanya kembali memiliki amunisi, ia menembak ke arah
Geni dan Korrie yang semakin menghilang ke dalam hutan. Namun, tidak satupun
dari peluru-peluru itu mengenai mereka.
Daeng mematung.
Bibir bagian bawahnya ia gigit. Tangan kanannya memegang revolver. Tangan
kirinya menggenggam kegagalan. Ia merasa disengat listrik bertegangan tinggi.
Ia merasa seseorang meludahinya, tepat di wajahnya.
Ia berteriak kencang. Ia merasa sangat murka dengan apa yang telah terjadi. Ia meletupkan pistol ke udara dan berlari ke dalam hutan untuk membawa kembali Korrie. Sekaligus memburu Geni.
***
Matahari semakin
tenggelam. Birunya langit telah berganti oranye kemerahan. Senja di dalam hutan
menghapus segala keramaian: kicau burung, dentuman tembakan, dan gesekan
dahan-dahan, reranting, juga dedaunan.
“Apa ia masih
mencari kita?” tanya Korrie berbisik.
“Aku pikir
begitu. Sepertinya ia bukan orang yang mudah menyerah.”
Geni dan Korrie
bersembunyi di balik sebuah pohon besar.
“Apa rencanamu
selanjutnya?”
“Kita akan
kembali ke jalan dengan mengitari hutan ini saat malam.”
Ketika hari
sudah gelap, Geni dan Korrie menyusuri hutan. Keduanya berjalan dengan sangat
berhati-hati, tanpa menyisakan percakapan satu kata pun. Korrie menuruti segala
rencana yang sudah dikatakan oleh Geni sebelumnya: mereka akan menyusuri hutan
saat malam untuk kembali ke jalan tol, kemudian membajak sebuah mobil bermodalkan
senjata api milik Geni. Sekitar pukul sembilan malam, mereka berhasil kembali
ke jalan.
Dikejauhan, terlihat
cahaya sepasang lampu mobil. Setelah berjalan membungkuk di tepian, Geni melompat
ke arah mobil itu untuk menghentikannya. Mobil yang hanya diisi satu orang itu
berhenti. Geni berdiri tepat di atas kap mobil tersebut seraya mengacungkan pistol, memberi kode dengan gerakan tangannya agar si pemilik keluar.
Lelaki empat
puluhan keluar dari kursi kemudi. Ia mengangkat kedua tangannya tanpa berani
melawan.
“Maafkan aku,
Tuan. Aku harus mengambil mobilmu,” ucap Geni. “Aku tidak akan menyakitimu. Letakkan
tanganmu di belakang kepala, lalu berbaliklah.”
Ketika Geni akan
memasuki mobil tersebut, suara letupan kembali terdengar. Sebuah peluru
mengenai bumper. Dalam kegelapan, Daeng kembali melayangkan sebuah tembakan.
“Lekas masuk!”
teriak Geni memanggil Korrie.
Keduanya
bergegas masuk. Geni memacu mobil itu secepat mungkin. Mereka berhasil selamat dari
kejaran Daeng yang berlari dan tertinggal jauh di belakang. Ia kembali
kehabisan amunisi.
“Kau sungguh
nekat!”
“Akhirnya kita
bisa bercakap, Korrie Banimasse. Kita sudah aman”
“Kau siapa?
Darimana tahu namaku? Dan, kenapa kau menyelamatkanku?”
“Kau bisa
menyebutku Lelaki Terpilih,” jawab Geni sembari melirik ke arah Korrie, ia
tertawa kecil. Matanya agak memicing.
“Apa?” Korrie
menaikkan sebelah alisnya.
“Baiklah, namaku
Geni. Ya, setidaknya kau bisa memanggilku begitu.”
“Geni?”
“Yes.”
“Kenapa kau
menyelamatkanku?”
“Kenapa? Aku
sendiri tidak tahu. Seseorang hanya memberitahuku bahwa aku harus menyampaikan
pesan itu kepadamu.”
“Pesan apa?”
“Pesan yang
berbunyi: semuanya akan baik-baik saja. Ya, itu tugasku.”
“Hanya itu?”
“Iya.”
“Siapa yang
menyuruhmu?”
“Hmm, ia
menyebut dirinya Sherlick. Kau mengenalnya?”
“Aku tidak
begitu yakin. Siapa dia? Dan lagi, untuk apa ia menyuruhmu menyelamatkanku?”
“Kita akan
mencari tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaanmu dan kebenaran di balik misiku ini.”
“Maksudmu?”
“Kita akan
menemuinya.”
Cerita ini fiktif belaka. Kesamaan nama, tokoh, dan tempat kejadian hanyalah kebetulan semata.
Bab berikutnya akan ditulis oleh Zaldy Chan







