BAB 11
Menangkap Jejak Langkah Labirin Masa Lalu Flora
Ilustrasi / Unsplash.com (Brian Mann)
Sapaan
Selamat Sore yang didengar Flora Aurora Bunga di tepi jalan itu, ternyata hanya
ilusi semata. Ilusi yang akhir-akhir ini sering menyambanginya. Rangsangan yang
ditangkap oleh indranya itu diterjemahkan tak sesuai. Ilusi auditori yang
dialaminya bisa tertangkap karena beberapa orang yang lalu-lalang saat itu.
Aktivitas Wandern yang biasa dilakukan oleh orang-orang Jerman saat itu
menjadi salah satu alasan yang
mencipta
ilusi yang dialaminya.
Flora
mengusap mata dan telinga berulang, seolah ingin memastikan bahwa ini bukan
salah satu gejala skizofrenia yang ditakutinya. “Tenanglah, Flora, ilusi
ini masih berlevel rendah, ”gumamnya menenangkan. Efek Kebab Domba Turki, yang tengah merayapi dinding lambungnya terasa
mulai menguap pelan-pelan.
Kembali dia memastikan lelaki paruh baya dibawah rindangnya ‘pohon malaikat’- Oak
itu benar-benar tidak ada! Sekelebat,
bayangan Segara, menari-nari. Seirama dengan itu,
kata-kata Craen Mark terus berkumandang. “Saling bunuh diri antara dua orang
sedarah yang saling mencintai…”
Lagi-lagi,
Nipaksiri memenuhi pikirannya. Mengapa dendam itu begitu kuat menjebol
dinding superego seorang Craen Mark? Dendam itu sungguhkah telah
mengedepankan id seorang lelaki 60 tahunan yang seharusnya sudah lebih mengedepankan
butir-butir khokhma. Apakah
benar Sang Ayah mengalami fiksasi dalam dendam?
Flora
menepis paksa lamunan sesaatnya itu. Kembali matanya yang memesona menyapu
ulang landscape di hadapannya dan menatap kembali rindangnya Oak bak tangan malaikat memeluk, yang
berdiri kokoh di hadapannya,
benar, tidak
ada apa-apa, terlihat sepi saja, hanya ilusi visual yang menemani kata ‘selamat
sore’ yang didengarnya itu.
Sejenak
langkah gontai kaki jenjangnya membawa peri mata hijau itu menemui kursi kayu
tua yang berada di bawah rimbunnya sang tangan malaikat. Sejenak bayangan mengenai
Segara Ananda Sangguraja muncul menari-nari. Seorang yang sangat dicintainya. Seorang
pria yang pernah membawanya pada sebuah kenikmatan hakiki sampai ke bulan.
Seorang pria yang pernah menorehkan pengalaman-pengalaman baik tentang cinta kasih, yang saat ini menjadi
asing dan berjarak.
Kembali
dia menatap bangunan tua yang telah mendapat sentuhan aksi Schneider dan
Schumacer yang diminta Craen Mark
untuk merenovasinya.
Sentuhan Autobahn berupa nave & spire menenggelamkan efek tua
rumah Ayahnya itu.
Bunyi
perut Flora akhirnya berhasil membuatnya memutuskan mencari tempat untuk
mengisi energi fisik dan
mentalnya sejenak. Craen Mark yang tengah melakukan
perjalanan ke Ibukota Brandenberg, sekitar lebih dari 20 an kilometer
jaraknya dari Berlin itu,
membuatnya malas memasuki rumah yang dipastikan sepi saat itu. Kembali ingatannya
pada
pesan Craen Mark untuk dimakamkan di Bumi Turatea membuat Flora menghela nafas
sangat panjang. Sebuah track labirin yang harus dipecahkannya sendiri sebelum Ayahnya pulang ke Bumi Turatea,
demi sebuah ‘jalan
keluar’.
Angin
dingin Berlin membuat tangan Flora mengatupkan lebih erat mantel coklat-suede
yang dikenakannya. Suara khas lagu fenomenal Aline – Christophe mengalun
dari portable discman player Sony DE J011J011-nya yang seolah mewakili
isi hatinya.
Et
j’ai crie crie
Aline
pour
Qu’
elle revienne
Et
j’ai pleure’
Oh
que j’avais
trip
de peine…
Christophe membuat kebaperan Flora kian jadi, yang akhirnya menuntun Flora mengakhiri perjalanannya memburu kuliner di sebuah resto yang cukup sepi hari itu, Schnitzelei. Flora memasuki resto vegan-based yang terletak beberapa blok dari rumah Craen Mark. Memasuki ruangan yang cozy semakin Flora merasa ingin dekat Segara, walau hanya bayangan saja. Lamat-lamat lagu Cest La Vien Rose terdengar indah dari balik dinding resto bergaya retro-klasik itu.
Flora
menerawang jauh sambil menyeduh Picollo yang sedari tadi sudah
menyambutnya. Dari pandangan perifer–nya,
seorang laki-laki 27 tahunan menghampirinya. “Ich freue mich dich zu sehen? “ Rene Avere, sahabat dan kenalan
Flora tetiba muncul mengejutkan. Avere yang mengantarkannya berjumpa dengan Souldrama, satu setengah tahun lalu.
Pertemuan
Flora dengan Souldrama dilatarbelakangi trauma pada Bambang Subali yang pernah menyumbangkan
sejumput luka berimbas traumatis. “Kadang aku baru dapat merasakan ‘pentingnya’
trauma itu sekarang”, batin Flora
menegaskan. Connie Miller, wanita yang juga bermata bagus itu
berasal dari Springlake, United States, sang founder,
mengenalkan
konsep terapi yang menggabungkan psikoterapi kelompok, psikodrama, dan dunia spiritual
untuk menstimulasi banyak hal baik dalam hidup manusia pasca mengalami kejadian
memilukan. Beberapa sesi di Hudson Valley memberi pemahaman dalam dan
penyadaran sepenuhnya terhadap beberapa
peristiwa
traumatik itu sendiri.
Avere
membuyarkan semua lamunan Flora, “Jadi kutemani? Semua baik, bukan? “ Jari
Avere memberi isyarat jentikan
beberapa
kali di depan wajahku. “Floooo…. Hello?? “
Laki-laki
peranakan Manado-Perancis yang bekerja pada sebuah perusahaan EO bernama WeWork-Paris menjadi seorang
kawan yang menemani proses pengumpulan keping puzzle jati diri Flora. Pria
dengan aura indigo nan baik hati itu menemani hari-hari Flora yang selalu haus
menemukan teka-teki hidup yang tak kunjung terjawab.
Pria
mapan yang pernah mengalami diagnosa Gifted Disinkroni, dari seorang Psikolog
senior yang juga pengajar di Universitas Nijmegen, Belanda itu sangat mendukung kembalinya kesehatan
mentalnya.
“Flo,
masih mau berapa lama ngelamunin situasimu yang absurd itu? Lihatlah beberapa pasang mata
di arah pukul 9 dan dan pukul 3 memandangmu tajam. “Avere kembali mengingatkan
tingkahku yang semakin tenggelam diantara conscious zone dan lawannya.
Seorang
waitress berjalan
ke arah mereka, menyajikan Gulaschuppe, Falscher Hase, serta Apfelstrudle, yang
dipesan Flora dan Avere. Semua hidangan didominasi bahan-bahan untuk vegan.
Sang waitress mempersilakan kedua sahabat itu menikmati hidangan.
Mereka terlarut menikmati
hidangan yang tersaji.
Dari
kejauhan di seberang Schnitzelei, ada sepasang mata yang
tengah intens mengamati
gerak-gerik Flora dan Avere,
yang sedang menikmati
sajian makanan bernuansa vegan
itu dengan lahap. Nampak mirip sekali dengan mata misterius Kyllian. (Nita
Kris)
(Bersambung)
Cerita
ini hanya kisah fiktif.
Kesamaan nama, tokoh, dan tempat hanyalah kebetulan semata. Selanjutnya, Bab
12, akan digubah ‘Mba Aliz’ Swarna😃.








