,

Rantai Kutukan Nipakasiri

oleh -230 views

 Bab 10 

Ilustrasi diambil dari thayyibah.com

<< Sebelumnya

Kamis, 9 November 1989. Udara Kota Berlin sesak oleh tempik-sorak. Warga Berlin mabuk kebebasan.

Arus massa bergerak dari dua arah, timur dan barat,  menuju pusat kota. Meluapi kawasan lingkar Gerbang Brandenburg sampai alun-alun Reichstag.  Tapi tak bisa bertemu.  Sebab terhalang oleh Tembok Berlin yang berdiri kokoh, dingin dan angkuh.

Tanpa komando, dari dua arah berseberangan, orang-orang terdepan serentak menghajar tembok dengan palu besar. Tembok tinggi tebal itu akhirnya jebol.  Keangkuhan idiologis runtuh sudah.

Warga Berlin Timur berlarian ke taman Tiergarten di wilayah Berlin Barat. Terus  berlari ke arah barat, hingga tiba di bundaran Grosser Stern.  Mereka,mengitari Siegessaule, Tugu Kemenangan Prusia dalam perang-perang unifikasi Jerman.  Di puncaknya tegaklah patung sosok Victoria, Dewi Kemenangan.  

Sementara warga Berlin Barat berlari melintasi gerbang Brandenburg, memenuhi Jalan Unter den Linden di wilayah Berlin Timur. Massa kemudian berbelok ke selatan, memasuki Jalan Friedrich, lalu menerobos pos perbatasan Chekpoint Charlie di persilangan Jalan Zimmer.

Berlin pada hari Kamis itu hanya ingin mendengar gemuruh sorak-sorai kebebasan. Eforia optimisme bersatunya kembali dua belahan kota yang diceraikan tembok  idiologis.  Tembok pemisah Barat yang kapitalis-liberalis dan timur yang sosialis.

Takada sebelah telinga pun mendengar teriakan histeris seorang perempuan di sebuah flat di tepi barat kota. Perempuan itu, ibu seorang anak lelaki,  sendiri berjibaku mempertahankan kehormatannya. Sesosok lelaki jahanam menerkamnya. Perempuan malang itu terlalu lemah untuk menang.

Juga tidak ada telinga yang mendengar  raung amarah tanpa daya dari seorang anak lelaki usia 10 tahun.  Dia anak dari perempuan itu. Dua tangan kecilnya takkuasa mengangkat kapak algojo untuk menebas leher lelaki jahanam yang telah menetak putus leher ayahnya.  Dan memperkosa ibunya.

Polisi Berlin datang terlambat, sangat terlambat. Aparat berseragam biru itu ikut terserap dalam eforia Berlin. Mereka baru datang satu jam kemudian,  terhitung sejak detik pertama menerima laporan dari seorang penghuni flat.

Karaeng Marradia alias Craen Mark telah pergi menyeret paksa Korrie Banimasse, ibunda Segara Ananda Sangguraja, anak usia 10 tahun itu. Polisi hanya menemukan anak itu duduk tergugu di atas genangan darah.  Di hadapannya tergeletak tubuh seorang lelaki yang telah terpisah dari kepalanya. Tubuh ayahnya, Bayu Segara Sangguraja.

Polisi segera melakukan penyelidikan dan tiba pada kesimpulan klasik. Pembunuhan Bayu Segara Sangguraja adalah kasus balas dendam antar kelompok  mafia. Kasus ditutup. Segara Ananda Sangguraja lalu diserahkan kepada seseorang bernama  Karaeng Matterangi. Seorang pendatang yang dapat membuktikan dirinya paman Segara.

***

 “Peri bermata hijauku, besok siang ayah ada di Berlin. Ayah mau lihat Museum Topografi Teror.”

Itu saja kata-kata Craen Mark lewat telepon kepada anak gadis tersayangnya, Flora Aurora Bunga. Tak ingin dia berkata-kata banyak. Gelegak amarahnya belum reda.

“Dungu! Sangat dungu!” umpatnya. Dia sangat kesal atas kekalahan konyol Kylian dalam pertarungan melawan Segara.

“Ayah, di mana …!” teriak Flora cemas.  Dia masih di dalam rumah ayahnya yang porak-poranda. Tapi sambungan telepon telah diputus.

“Ayah butuh aku,” desis Flora. Dia sangat mengenal tabiat ayahnya. Jika menyebut satu tempat, itu artinya dia menunggu Flora di situ.

“Museum Topografi Teror,” bisik Flora dalam hati.  Flora tahu ayahnya pecinta berat museum.  Tidak ada kota yang dilewatinya tanpa singgah di museum.  Rumahnya, di Paris dan di Berlin, dipenuhi benda-benda kuno.  Minatnya adalah koleksi aneka senjata dari masa lalu. Kapak, pedang, golok, tombak, belati, panah, dan sebagainya.

Flora segera berkemas.  Dia harus menyusul Craen Mark, ayahnya, ke Berlin. Ke kota tempat kelahirannya. Kota yang membesarkannya sampai usia tujuhbelas belas tahun. 

Kereta api malam Paris-Berlin menjadi pilihannya. Dia perlu tidur barang sejenak. Mengumpulkan tenaga.

Flora disergap lelah dalam beberapa hari terakhir.  Energinya terserap oleh momen-momen pertemuan ganjil dengan dua orang lelaki. Pertama dengan Segara yang dicintanya, tapi kini terlihat asing dan berjarak. Lalu Kylian, lelaki penuh selidik yang sangat misterius.

Kereta tiba menjelang tengah hari di Stasiun Berlin Zoo.  Flora bergegas keluar stasiun.  Mencegat sebuah taksi.  Lalu melaju menuju Museum Topografi Teror di Jalan Neiderkirchners, dekat Postdamer Platz di bagian selatan kota.

“Ayah pengagum Hitler?”

Lelaki tinggi tegap berusia 60 tahun itu cepat membalik badan, tersenyum lebar, lalu memeluk erat Flora, anak gadis tersayangnya.

“Tidak,” jawabnya sambil memencet hidung Flora, “tapi ayah suka dengan keyakinannya. Kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran.”

Craen Mark menatap dalam-dalam mata Flora, seolah dapat menduga pikiran anaknya. “Apakah  ayah tahu kalau Segara berulang kali mengatakan Craen Mark bukan ayahku?” Flora membatin.

Hening sesaat.

“Ayah sudah belikan makan siang kesukaanmu.  Satu untuk peri bermata hijauku. Satu untuk ayah tercintanya.”  Sambil tertawa memecah hening, Craen Mark mengangsurkan sebungkus kebab domba kepada Flora. Lalu sebotol air mineral.

“Kita patut berterimakasih kepada pemerintah Jerman. Untuk kebaikan hatinya mendatangkan orang Turki berjualan kebab di sini,” gurau Craen Mark. 

“Bukan kepada Tuhan?” Flora tertawa sambil menggigit tepi kebab.

“Tanggal berapa hari ini,” gumam Craen Mark mengabaikan pertanyaan iseng Flora. Tatapan matanya lekat pada foto-foto kekejaman organ-organ keamanan Nazi — Gestapo, SS dan Reich Security — sepanjang periode 1933-1945.

Foto-foto itu dipajang di sisi belakang sisa Tembok Berlin sepanjang 200 meter yang kini dijadikan arena pameran terbuka.  Museum teror Nazi itu berdiri persis di bekas pertapakan kantor organ-organ keamanan Nazi.  Tepatnya di pojok perpotongan Jalan Wilhelm dan Jalan Neiderkirchners – dulu bernama Jalan Prinz-Albrecht.

“Sembilan November, ayah.”

“Hmm.Senin. Sembilan November duaribu sembilan,” gumam Craen Mark.  “Sudah duapuluh tahun,” desisnya dengan wajah mengeras.

“Duapuluh tahun, ayah? Apa?”

“Usiamu, peri bermata hijauku,” jawab Craen Mark cepat. Dia menutupi pikirannya tentang kejadian 20 tahun lalu di sebuah flat di tepi barat Berlin.

“Bajingan kau, Bayu Segara.  Seandainya kau tak meniduri perawan suciku, Karmila Aurora, vestal penjaga api suciku, tembok nipakasiri antara keluarga kita seharusnya sudah rubuh selamanya.”

Amarah Craen Mark bergemuruh di rongga dadanya. Matanya terpejam, urat wajahnya menonjol.  Kedua tinjunya terkepal. Mengeras.

“Ayah, tidak apa-apa?”

“Ah, tidak.” Craen Mark agak tersentak.  “Kau tahu, periku?  Berapa orang warga Jerman Timur yang tewas saat berusaha melompati tembok ini untuk masuk ke Jerman Barat?”

“Duaratus orang?” Itu angka yang pernah terbaca Flora dalam sebuah artikel.

“Sekitar itu. Mungkin lebih.  Apa yang mereka cari sampai rela korban nyawa?”

“Kebebasan?”

“Lebih dari kebebasan.  Harga diri sebagai manusia.  Di negara sosialis Blok Uni-Soviet dulu, warga bukan manusia. Tapi mahluk tanpa harga diri. Atau mungkin hanya angka. Di sebelah barat tembok, mereka bisa menjadi manusia yang punya harga diri.  Mereka rela bertaruh nyawa untuk meraihnya.” 

“Katakan saja,  apa intinya, ayah,”  kata Flora sambil tersenyum. 

Dia paham, ayahnya ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting.  Sesuatu yang mungkin bisa menjawab pertanyaannya tentang asal-usul dan hubungan antara mereka.  Antara dirinya, ayahnya, dan Segara.  Juga tentang foto di rumah ayahnya di Paris.  Foto ibunya, Korrie Banimasse,  bersama seorang laki-laki tampan dan seorang anak kecil yang seolah dikenalnya.

“Tembok Berlin itu serupa siri, nipakasiri, dalam masyarakat Bugis dan Makasar.  Dalam masyarakat Jeneponto Bumi Turatea. Suatu pertaruhan nyawa yang harus dilalui. Demi tegaknya harga diri.”

“Siri na pacce. Nipakasiri? Balas dendam demi menegakkan harga diri?” jawab Flora terheran-heran.  Dia belum bisa menangkap arah kalimat ayahnya.

Dia pernah memperdebatkan soal nipakasiri dengan Segara sewaktu mereka berdua menjalani hari-hari indah di Pondok Indah Jakarta.  Dia anti-nipakasiri yang dinilainya irrasional.  Segara sebaliknya.  Tidak ada titik temu.

“Seseorang sebenarnya tak perlu bertaruh nyawa melompati tembok ini demi harga diri.  Begitupun, seseorang tak perlu menjalani nipakasiri demi menegakkan harga diri.”

“Maksud ayah?” tanya Flora. Dia mencoba menebak arah pembicaraan.  Terpikir olehnya bahwa ayahnya sedang berada dalam pusaran nipakasiri? “Ah, semoga tidak,” bisiknya dalam hati.

“Kakek buyutmu kehilangan nyawa karena nipakasiri.  Kakekmu juga begitu. Nipakasiri yang menjadi rantai kutukan yang membelit dua keluarga.” 

Craen Mark sedang bicara tentang kematian kakek dan ayahnya, dulu, di Jeneponto. Kakeknya mati di ujung badik kakek Bayu Segara. Ayahnya mati di ujung belati ayah Bayu Segara.  Kematian-kematian demi harga diri.

“Harga diri macam apa sebenarnya yang diperoleh dari kematian?” Pertanyaan sesal di batin Craen Mark.

 “Jahanam kau, Bayu Segara.  Saat remaja, kita berdua sudah sepakat memutus rantai nipakasiri ini. Kita sama-sama bunuh diri, bunuh ego masing-masing. Kenapa kau harus menyambung rantai itu lagi!” teriaknya dalam hati.  Sedemikian keras teriakan dalam bisunya, sehingga dia tak mendengar suara lain di Museum Topografi Teror.

Sejenak terbayang di depan matanya sebuah masa kecil yang indah di Jeneponto.  Masa yang damai, bersih dari kepahitan nipakasiri di masa kakek dan ayah mereka. 

Terbayang dia dan Bayu Segara mandi telanjang sambil cari ikan di Sungai Kerala.  Tersesat di ladang jagung warga setelah kenyang makan jagung bakar.  Memanjat lontar untuk memanen buahnya sebagai penawar dahaga di terik kemarau.  Berkeliaran ke pantai selatan hanya untuk mencicipi rasa garam di tambak.

“Hanya ada satu cara memutus rantai kutukan nipakasiri.” Nada suara Craen Mark datar tapi tegas. “Saling bunuh diri antara dua orang sedarah yang saling mencintai.”

“Saling bunuh diri antara dua orang sedarah yang saling mencintai?”

Craen Mark hanya melemparkan senyum penuh misteri. Itu jawaban tanpa jawaban untuk Flora.  Flora tahu harus berhenti bertanya. Tugasnya untuk mencari jawaban sendiri.

“Anakku. Suatu saat ayah pasti mati.  Jika ayah mati, maka ayah ingin mati di Bumi Turatea, Jeneponto Sulawesi.  Di air terjun Tama Lulua atau di Taman Makam Raja-Raja Binamu. Kakek buyutmu dulu terbunuh di puncak air terjun Tama Lulua.  Kakekmu terbunuh di tengah Makam Raja-Raja Binamu.”

Ada butiran hangat terjatuh dari sepasang mata hijau indah Flora.  Haru. Untuk pertama kalinya, sepanjang usianya yang sudah menginjak 20 tahun, ayahnya memanggilnya dengan sebutan “Anakku.”

Sedih. Untuk pertama kalinya pula ayahnya berbicara tentang kematiannya.  Flora merasakan sebuah ketakutan yang amat sangat.  Takut kehilangan ayahnya.

Tak ada kata-kata.  Flora tenggelam dalam pelukan hangat erat ayahnya.  Tusukan dingin angin Musim Dingin di Berlin tak terasakan olehnya.

“Hei, peri bermata hijauku jangan cengeng begitu.” Craen Mark memegang Flora pada kedua bahunya, sambil tersenyum haru. “Pulanglah duluan ke rumah.  Ayah ada urusan kerja sampai malam ke Postdam.”

Flora mengangguk, sambil menghapus air mata dengan jemari lentiknya.

“Kalau ada yang mencari ayah, katakan saja, ayah menunggunya di Bumi Turatea.”

Setelah mengecup kening anak gadis tersayangnya, Craen Mark berbalik, lalu melangkah cepat meninggalkan Flora, berdiri penuh tanya di samping sisaTembok Berlin yang tetap dingin.

***

Hari sudah meremang, walau belum senja, saat Flora turun dari taksi di depan rumahnya.  Sebuah rumah tua yang sudah direnovasi..

Sejak peristiwa hilangnya keperawanan vestal Karmila Aurora, Craen Mark telah menjual rumah pertamanya yang berada di sebelah timur sungai. Lalu membeli rumah baru di sebelah barat sungai, di sektor barat-laut kota Berlin.

Karmila sendiri, rupanya telah menerima takdir vestal yang tak bisa menjaga keperawanannya.  Tak seorang pun pernah melihatnya lagi.  Juga tak seorang pun tahu tentang keberadaannya.  Hanya, dan hanya, Craen Mark yang tahu.

Di rumah baru, di pinggir kota, itulah Flora Aurora Bunga dilahirkan sebagai anak kedua.  Anak pertama, kakak Flora, meninggal saat usia dua bulan.  “Keguguran. Ibumu mengalami tekanan batin mahaberat,” jawab ayahnya saat Flora suatu ketika menanyakan penyebab kematian kakaknya.

“Selamat sore.” Flora terkejut. Seorang lelaki tiba-tiba muncul dan menyapa dari balik pohon oak besar di tepi jalan di depan rumah. Setelah mendekat, dalam samar senja, tampak sosok seorang lelaki paruh baya. Sepintas garis wajahnya mirip dengan Segara. (Lazarus Dina)

(Bersambung)

 

*Cerita ini fiktif belaka. Kesamaan nama, tokoh dan tempat hanyalah kebetulan semata. Selanjutnya, Bab 11, akan digubah Nita Kris.

 

Tentang Penulis: MT Felix Sitorus

Sedang riset pertanian natural dan menulis novel anarkis "Poltak"

Tinggalkan Balasan