Janji Nurma

oleh -217 views

Ilustrasi: hijabfest.co

Nurma melemparkan tas ranselnya di kasur sehabis les. Maklum, selama pandemi ibu dan ayahnya merasa kewalahan dengan materi pelajaran Nurma. Karenanya Nurma diikutkan les.

Nurma langsung merebahkan tubuh di kasur empuknya. Tak dipedulikannya nasehat ibu untuk mencuci tangan. Bukan karena lupa menerapkan protokol kesehatan di masa pandemi ini. Nurma hanya malas, capek dan mengantuk saja.

***

Tiba-tiba saja Nurma merasa badannya tidak enak. Demam ringan dan tenggorokan sakit. Segera saja Nurma ke ruang makan untuk mengambil air putih hangat. 

Nurma merasa lebih enakan. Lalu dia menuju ke kamar. Saat melewati ruang tamu, terlihatlah HP ibu di atas meja. Segera saja dia mengambil HP ibu.

Seperti biasa, Nurma tak minta izin ibu saat mengambil HP ibu. Alasannya, ibu pasti tidak mengizinkannya.

“Kamu hanya boleh pinjam HP ibu kalau jam belajar, Nur.” 

Nurma tidak terima kalau hanya dijatah pinjam HP untuk mengerjakan tugas atau giliran hafalan dari ustadznya di sekolah. Jadi, dia memutuskan untuk pinjam HP tanpa izin. Meski nanti ibu pasti marah.

“Ibu pelit sih,”batinnya.

***

“Nur, tolong ambilkan air putih.” Suara ibu didengarnya. Suaranya pelan, tak seperti biasanya.

Nurma masih melanjutkan main game dengan HP ibu. Asyik sekali. Namun, dia merasa kepalanya pusing dan badannya sakit sekali.

Nurma mau minta obat kepada ibu. Biar ibu memilihkan obat yang harus diminumnya.

Nurma mencari-cari ibu. Tak dilihatnya di dapur, ruang makan, ruang tengah, maupun teras. Segera Nurma ke kamar ibu.

***

“Ibu gimana kabarnya ya, yah?” Tanya Nurma kepada ayahnya. Mereka harus isolasi mandiri. Sedang ibu sekarang dirawat di rumah sakit.

Ayah hanya menggelengkan kepala. 

“Sudah. Kita makan dulu biar lekas sehat…”

Nurma dan ayah segera menghabiskan makannya meski tidak seenak masakan ibu. Lalu mereka minum obat dan multivitamin biar tubuh lekas pulih.

Tak lama HP ayah berbunyi. Ayah mengangkat telpon, entah dari siapa. Yang jelas, wajah ayah seketika terlihat sedih. Ayah memeluk Nurma yang telah berdiri di sampingnya.

“Allah lebih sayang ibu, nak…”

Nurma menangis histeris.

“Ibuuuuu…Ibuuuu… huuuhuuuuu…”


***

“Nurma… bangun, nak!” Suara ibu terdengar di telinga Nurma.

Nurma sangat bahagia mendengar suara dan melihat ibu terlihat sehat. Ibu duduk di dekatnya. Nurma segera bangun dan duduk di kasurnya.

“Aku mimpi buruk, Bu…”

Nurma tertunduk. Ibu memeluk Nurma. Nurma membalas pelukan ibu.

“Ya sudah. Lain kali kamu berdoa dulu kalau mau tidur…”

“Iya, Bu…”

“Kamu tak perlu cerita mimpi buruk ya, nak.”

Ibu meninggalkan Nurma.

Ya…Nurma tak akan menceritakan mimpinya. Dia berjanji, akan patuh pada ibu dan ayah. Juga akan lebih memperhatikan protokol kesehatan agar dia, ayah dan ibu selalu sehat.


#Dongeng Anak


Tinggalkan Balasan