Luka

oleh -1,520 views
Luka
Jikapun nanti nyawaku tidak tertolong lagi, akibat terlalu banyak kehabisan darah. Setidaknya aku sudah memberikan satu petunjuk kepada orang yang kucintai, dan biarkan luka-luka ini yang kelak akan menceritakan, tentang pengorbanan, cinta yang terbawa sampai mati, juga tentang tekat untuk menepati janji

***

Di dalam kamar, aku berusaha menenangkan gadis kecilku, kulihat dia ketakutan saat melihat keadaanku yang berlumuran darah seperti ini.

Sambil mengusap rambut hitamnya yang tergerai panjang sebahu, aku berbisik pelan di telinga kecilnya, “Insyaallah, semuanya akan baik-baik saja sayang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, orang-orang jahat itu telah pergi.”

****

Sempat terkena sabetan beberapa senjata tajam milik para perampok tadi. Sekujur kulit ditubuhku saat ini terasa begitu perih saat terkena air di dalam kamar mandi.

Genangan air di lantai kamar mandi terlihat memerah bercampur dengan darah.

Belum selesai membersihkan bekas noda-noda darah di sekujur tubuhku, tiba-tiba saja pintu kamar mandi di dobrak paksa oleh beberapa orang yang tak dikenal.

Tanpa banyak bicara, kelima orang yang sudah berhasil mendobrak pintu kamar mandi itu langsung menyerangku secara bertubi-tubi.

Dalam keadaan yang belum siap untuk menghadapi mereka semua, dan tanpa senjata ditangan, tubuhku menjadi bulan-bulanan senjata tajam milik mereka.

Sayatan ujung Kerambit milik salah satu penyerang berhasil menggores kulit leherku, meninggalkan bercak darah yang membuat perih dibagian leherku.

Dalam keadaan terluka, aku masih terus bertanya-tanya dalam hati, siapa mereka ini sesungguhnya dan bagaimana bisa mereka masuk ke dalam rumah ini?

Tersandar di sudut dinding kamar mandi dengan tubuh penuh luka, tiba-tiba kudengar suara seorang wanita yang berteriak marah ke arahku.

“Aku benci Kau! Aku benci kalian berdua, lebih baik kau mati dari pada aku harus melihat kau dan dia hidup bersama!”

Mendengar teriakan-nya, aku yang sedari awal bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan orang-orang yang telah menyerangku ini jadi tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

“Jadi ternyata orang-orang yang tadi kupikir adalah perampok itu adalah orang-orang suruhanmu untuk menghabisiku?” teriakku marah pada wanita yang awalnya begitu ku khawatirkan akan keselamatannya itu.

“Iya dan kau harus mati! Bagaimanapun caranya.” katanya lagi sambil menatap tajam penuh dendam ke arahku.

Menahan amarah dan terluka, Aku masih bisa mendengar suara wanita itu menyuruh gadis kecilku masuk kembali ke dalam kamarnya.

Gadis kecilku itu tadi sempat keluar dari dalam kamar akibat mendengar kegaduhan yang terjadi ditempat ini.

Setelah gadis kecil itu masuk kembali kedalam kamarnya dan yakin tidak akan melihat apa yang akan terjadi, wanita itu memberi kode kepada kelima orang yang tadi menyerangku, untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.

Hatiku begitu terluka menerima kenyataan ini, darahku menggelegak, amarahku memuncak, belum pernah Aku semarah ini pada perempuan itu.

Dalam keadaan yang terluka, harus kuterima kenyataan; bahwa orang yang selama ini berusaha ku lindungi dengan segenap nyawaku ini ternyata adalah dalang dibalik semua musibah ini.

Aku meraung keras, tak lagi perduli, jikapun nanti gadis kecilku itu akan mengetahui semua yang terjadi di tempat ini.

Aku di khianati oleh orang yang selama ini begitu kupercayai.

Ternyata benar omongan orang-orang yang selama ini telah memperingatkanku: agar aku selalu berhati-hati. Namun omongan mereka selalu kutepis, karena aku lebih percaya kepada wanita itu.

Rumor tentang berbagai upaya untuk menghabisiku, bahkan dengan bantuan beberapa orang dukun, sempat kudengar sebelum kejadian ini. Dan entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini, hingga  akhirnya dia benar-benar nekat, membayar beberapa orang preman untuk menghabisiku di tempat ini.

Mengetahui aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan bekas noda darah tanpa membawa senjata dan juga telah terluka akibat melawan tiga orang kawanan perampok diluar rumah adi, dia langsung membukakan pintu rumah kepada preman-preman suruhan-nya yang lain agar segera menghabisiku di tempat ini.

Dalam keadaan yang terluka dan penuh dendam, aku bagaikan mendapatkan tenaga dan kekuatan baru saat ini.

Bagaikan seekor Harimau yang terluka, dengan tangan kosong yang masih berlumuran darah, satu dari lima orang yang berada paling dekat dari tempatku saat ini segera kutarik, lalu kubenturkan kepalanya ke dinding kamar mandi.

“Krakkk..”

Terdengar suara tulang kepala yang berderak retak, akibat berbenturan dengan dinding kamar mandi.

Berlangsung begitu cepat, di saat yang lainnya masih terpana, tidak menyangka aku masih mampu memberi perlawanan kepada mereka.

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang ada, aku segera menerjang mereka satu persatu, lalu berusaha melarikan diri dari tempat ini. 

Tentang Penulis: Warkasa 1919

Ruang Berbagi dan Informasi

Tinggalkan Balasan