Luka

oleh -1,517 views
Luka
Jikapun nanti nyawaku tidak tertolong lagi, akibat terlalu banyak kehabisan darah. Setidaknya aku sudah memberikan satu petunjuk kepada orang yang kucintai, dan biarkan luka-luka ini yang kelak akan menceritakan, tentang pengorbanan, cinta yang terbawa sampai mati, juga tentang tekat untuk menepati janji

*

Seorang pria berambut ikal sebahu kulihat tengah mengendap-endap dihalaman samping rumah tempat tinggalku. Selain gelang Akar bahar yang melingkar dipergelangan tangan kanannya, sebilah sajam yang terselip dipinggang sebelah kirinya itu cukup menarik perhatianku.

Masih dari balik jendela kamar, bisa kulihat dengan jelas, selain lelaki itu ada dua orang lelaki lainnya yang kulihat sedang berusaha memasuki rumah ini.

Aku terus memperhatikan gerak-gerik ketiga lelaki yang tak kukenal itu.

“Ada perampok yang mau masuk ke dalam rumah ini.” Bisikku pelan, kuatir ucapanku ini terdengar oleh gadis kecil yang tengah asyik bermain-main dengan boneka kesayangannya.

Sambil menghela nafas panjang, kuperhatikan gadis kecil yang masih bermain boneka dilantai kamar, Ia tidak mengetahui, bahwa saat ini ada beberapa orang diluar sana yang mungkin saja hendak berniat buruk kepada penghuni rumah ini.

Jujur saja, saat ini tidak ada yang lebih mengkhawatirkanku, selain rasa khawatir akan keselamatan kedua orang di dalam kamar ini.

”Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah keluar dari dalam kamar ini, kunci pintu kamar ini dari dalam.”  Pesanku pada wanita yang berdiri disampingku.

Beranjak dari pinggir jendela kamar, kuambil salah satu senjata tajam milikku, lalu bergegas pergi meninggalkan mereka berdua di dalam kamar ini.

Semuanya terasa begitu tenang. Aku berjalan pelan, menyusuri lorong panjang, melewati ruang demi ruang kosong di dalam rumah besar ini.

“Ya Allah, Engkau adalah pemilik nyawa dan juga raga ini, jika memang sudah tiba ajalku hari, hanya satu permintaanku, tolong jaga dan lindungilah anakku dan orang-orang yang kucintai. Aamiin.” kataku, sambil terus berjalan.

Di depan pintu yang tengah dicongkel paksa oleh kawanan perampok, tanpa ragu segera kubuka pintunya dari dalam.

“Mau cari siapa?” tanyaku basa-basi terhadap orang-orang yang tengah menatap tajam ke arahku.

Tanpa memperdulikan pertanyaanku, Lelaki berambut ikal sebahu yang mengenakan baju kemeja kotak-kotak berwarna merah dadu itu langsung menusukkan Badik ditangan-nya ke arahku.

Beruntung aku masih sempat mengelak, hingga tusukan-nya yang memang sengaja dia arahkan ke ulu hatiku ini tidak berhasil mengenaiku, dan secara reflek aku langsung menyabetkan Celurit yang sedari awal berada didalam genggaman tanganku.

Darah segar seketika muncrat dari bekas sayatan luka yang menganga diperutnya.

Sambil memegangi perutnya yang terluka, lelaki berambut ikal sebahu itu terhuyung kebelakang sambil meringis kesakitan.

Melihat lelaki berambut ikal sebahu itu terluka parah akibat terkena sabetan Celurit ditanganku, kedua lelaki di belakangnya itu langsung menyerangku.

Parang ditangan lelaki berambut gundul yang mengenakan kaos berwarna hitam dan memakai Blue Jeans itu hampir saja berhasil menetak batang leherku, untung saja sebelum hal itu terjadi, Celurit ditanganku lebih dahulu berhasil membuat Parang digenggaman tangan-nya itu terlepas jatuh.

Darah segar segera menyembur dari pergelangan tangan kanan milik lelaki gundul yang hampir putus akibat terkena sabetan Celurit tajam milikku.

Percikan darah segar sempat mengenai sedikit wajahku.

**

Nafasku masih tak beraturan, kedua tanganku masih gemetaran. Celurit berlumuran darah masih dalam genggaman.

Bagaikan tengah bermimpi buruk, Aku masih seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. 

Aku dan keluargaku hampir saja menjadi korban pembunuhan dari para perampok yang menyambangi tempat kediamanku di sore hari.

Gerombolan perampok itu telah pergi, namun masih menyisakan segudang tanda tanya di hati.

Di bawah desiran angin yang menjatuhkan dedaunan, mataku menangkap seraut wajah tanpa ekspresi.

Di senja yang kelabu, dari balik tirai jendela yang sedikit terbuka, bisa kulihat wajah tanpa ekspresi menyaksikan perkelahianku dengan para perampok tadi.

Tentang Penulis: Warkasa 1919

Ruang Berbagi dan Informasi

Tinggalkan Balasan