Gambar oleh OpenClipart-Vector dari pixabay.com Dengan berat hati aku menandatangani surat pernyataan bermaterai di hadapan Pak Kumis, seorang pria berkumis lebat, yang sedang tersenyum puas. Aku membalas dengan senyuman kecut, sambil membayangkan konsekuensi kesepakatan, yakni: “kesanggupan untuk membayar uang sumbangan pembangunan

Ilustrasi: beautynesia.id Kucuran kopi terdengar merdu Kepulan asap mewangi Denting sendok menyentuh  cangkir Sepasang mata bertatapan Bibir menyentuh kopi panas Seruput terdengar pelan Rasa puas terukir bibir basah Kopi terbuat campuran cinta Kopi susu selalu engkau pilih Engkau  nikmati rasa diantaranya

Dokpri Kesini cinta Duduk di sampingku Lihat, ada sebuah celana dalam Di tiang jemuran sedang protes Matahari pun ditantangnya Tiang tiang besi pun ditentangnya Kamu dengar suaranya Cinta? Lihat! Dia berteriak; “ Jangan jemur aku di pojok tersembunyi! Aku butuh matahari”

Dokpri sesaat aku melihatmu tersenyum, hanya sesaat. perlahan kembali lenyap di antara rona mentari yang menggeliat. adakah kau rasakan pelukan rembulan, yang menghangatkan sanubari? atau tersesat dalam rengkuhan erat belantara mimpi, dan ingin kembali? jika benih persemaian waktu berlaku, kuingin mengikuti

      Sumber : kaskus.id Sengaja aku datang ke kota ini. Bukan untuk menertawakan kegagalan,  atau menangisi keberhasilan Aku hanya ingin melihat pohon jambu dan rumpun bambu Pohon jambu adalah Yanto, Gandung, juga Ipin – kawan-kawan semasa kecil. Bergelantungan di

https://images.pexels.com Kelima pendaki gunung yang tergabung dalam himpunan mahasiswa pecinta alam ini membereskan semua perlengkapannya di pos 1 pendakian.  Saatnya mendaki tengah malam nanti supaya sampai ke puncak saat fajar menjelang.  Mereka ingin menikmati sunset tiada duanya di lereng langit.  Ini

Gambar oleh Beverly Buckley dari pixabay.com Bara api  cinta kita  menggeloraTaburan melati  putih suci di atas sprei  layu   ternoda  coklat tembakau  asapnya lenyap ditelan  muslihat kelamSilapkah kita? Budi Susilowww.eskaber.com/

*** “Aku tidak akan pergi meninggalkanmu,” kataku pelan sambil menatap Wanita cantik berkulit kuning langsat yang mengenakan kacamata serta kerudung berwarna merah marun itu. Matanya berkaca-kaca. Ada kesedihan yang begitu mendalam di situ. Ada nada pasrah di balik ucapannya itu.“Kenapa. Mas?”

https://images.pexels.com Salim menendang batu kerikil di depannya sekuatnya.  Kesal! Sebal! Ujian hari terakhir ini sangat menyebalkan.  Dia sudah belajar semalaman berlatih soal yang katanya ‘bocoran’, ternyata yang keluar di ujian bukan itu. Huh! Ini semua gara–gara Wanda.  Cewek itu membuat hidupnya