Freephotos@Pixabay.com  Di tepi jalan aku menanti Sendiri, tanpa teman menemani  Berpayung harap, kunjunganmu menjadi santapan diri  Di antara rintik hujan  Dalam temaram malam tanpa bintang  Aku menantikan hadirmu  Hangatkanlah tubuh ini  Bangkitkanlah hasrat ini   Dari cawanmu yang menggoda nafsu   Bang, baksonya

Ilustrasi oleh Pixel2013@Pixabay.com  Aku masih belum bisa menghilangkan rasa itu seluruhnya. Meskipun sekian purnama telah berlalu, dan kita dalam beku.  Aku memang berniat menjauh darimu, agar tak mengganggu kehidupanmu. Meskipun aku harus berusaha keras, untuk bisa melepas dan melupakan sosok itu.

Ilustrasi oleh Mostafa_muraji @Pixabay.com    Dik, Painiku Malam ini wajahmu hadir lagi Menemani kesepian Akang yang jauh di negeri orang  Bisakah kau rasakan rindu yang membara ini  Seperti nyala api yang siap membakar kayu menjadi arang  Dik, ingin rasanya kudekap tubuhmu

 Sumber gambar dari Pixabay.com  Kang  Any Sukamto  Kang, masihkah kau ingat obrolan kita tempo hari Kau akan setia dengan janjimu, menemani hari indahku hingga ajal menjemputku Kau janjikan hidup kita akan bahagia, meski bukan istana sebagai tempat berteduh  Kau yakinkan hari

yanahaudy0 Jangan bayangkan suara dan rupaku saat kau mendengar lagu kesukaanmu karena bait-bait itu hanya menambah rindu Tak perlu gelisah saat tak melihat wajahku karena aku selalu ada di pelupukmu Bila langit tak bermega janganlah mencari sang bayu karena dia sedang

Canva/yanahaudy0 Budi mematut-matut dirinya di depan cermin. Penampilan Budi rapi sekali. Tubuhnya menebarkan bau harum bagi hidung siapapun yang kebetulan lewat di dekatnya. Melihat penampilan Budi yang seperti itu, dari balik pintu kamar Budi yang terbuka, Ponaryo masuk dan tak tahan

Canva/yanahaudy0 Mata terpejam. Mulut terdiam. Matahari hampir terbenam. Si wajah cantik membuka matanya, perlahan . Turun dari peraduan. Bulu mata dilentikkan. Bibir dimerahkan. Pemerah pipi dua pulasan. Jemputan datang. Beserta lelaki sangar. Membawasi wajah cantik ke klub kelap-kelip. Si wajah cantik

Gambar: Canva/yanahaudy0 “Tidak perlu kau jadi Hans Zimmer, jadi Aksan Sjuman dan Candra Darusman pun cukup. Dia orang Indonesia, kau juga,” Beni menyeruput kopinya sementara Rano tercenung dengan masih sembarang memainkan gitarnya di nada C mayor. “Aksan dan Candra tidak main

Pixabay.com Aku sengaja  mengintai sampai di mana cahaya matahari  membelai gigil pagi menyampaikan pesan paling hangat dari tajuk rencana hari ini Ternyata aku menemukan mosaik paling romantis dari sisa-sisa gerimis di permukaan daun Kamboja yang mulai bersajak atas nama cinta Aku