Oleh: Riami
Dulu senyummu adalah penumbuh gelora
Seperti minyak penumbuh kumis
Yang selalu membuat manis
Di setiap gerak rambut di bibir atas
Pernah senyumanmu mengiris kalbu
Bak sayur terancam
Rasanya rindu berkeping kotak kotak kecil dalam piring saji
Ah kunikmati ayat-ayat seluet
Senyummu tak pernah hadir lagi
Sejak kita beda pendapat tentang metafor malam itu
Tentang kunang kunang di mataku yang selalu hadir setiap tanggal tua
Kau tanggalkan senyummu juga di diskon minyak goreng yang kian langka
Lalu kubuka almari
Masih banyak stok senyum yang belum dibuka
Rupanya masih tersegel seperti barang mahal
Ada senyum untuk sehat hari ini
Senyum boleh ditangguhkan pembayaran sekolah
Senyum ada hadiah panci dari belanja bulanan
Oh ini semua belum kukeluarkan
Kulihat tas kerja di pojok kamar
Ada setumpuk senyum juga tersimpan di sana
Senyum para sahabat yang jadi saudara
Jadi bulan dan bintang saat malam di kepalaku
Baiklah rupanya aku harus banyak membaca
Ayat ayat senyum yang selama ini terkunci rapat
Oleh ketidakadilan
Ah itu menurutku sementara
Ternyata, ketidakadilan adalah kunci membuka senyum di ruang penyimpanan serpihan jiwa
Bukit Nuris, 2022

Tentang Penulis
Riami, tinggal di Kab. Malang Jawa Timur. Menulis beberapa buku antara lain “Sajak Biru”. Aktif menulis di kompasiana.com, aktif di Group Sahabat Guru Super Indonesia, Competer, Kepul (Kelas Puisi Alit), Ruang Kata, dan Group Puisi Bekasi, mulai menulis di Poiesis.








Yang berbondong-bondong mudik, juga berharap menemukan senyum bermakna.
Terima kasih Mbak Riami.
Hormat saya.
Stok senyumku juga masih banyak mba Riami keren nih mba
Mantap
Keren, Mbak