Menangkap Jejak Langkah Labirin Masa Lalu Flora

oleh -212 views

 BAB 11

Menangkap Jejak Langkah Labirin Masa Lalu Flora

                                                    Ilustrasi / Unsplash.com (Brian Mann)

 

<< Sebelumnya

Sapaan Selamat Sore yang didengar Flora Aurora Bunga di tepi jalan itu, ternyata hanya ilusi semata. Ilusi yang akhir-akhir ini sering menyambanginya. Rangsangan yang ditangkap oleh indranya itu diterjemahkan tak sesuai. Ilusi auditori yang dialaminya bisa tertangkap karena beberapa orang yang lalu-lalang saat itu. Aktivitas Wandern yang biasa dilakukan oleh orang-orang Jerman saat itu menjadi salah satu alasan yang mencipta ilusi yang dialaminya.

Flora mengusap mata dan telinga berulang, seolah ingin memastikan bahwa ini bukan salah satu gejala skizofrenia yang ditakutinya. “Tenanglah, Flora, ilusi ini masih berlevel rendah, ”gumamnya menenangkan. Efek Kebab Domba Turki, yang tengah merayapi dinding lambungnya terasa mulai menguap pelan-pelan. Kembali dia memastikan lelaki paruh baya dibawah rindangnya ‘pohon malaikat’- Oak itu benar-benar tidak ada! Sekelebat, bayangan Segara, menari-nari. Seirama dengan itu, kata-kata Craen Mark terus berkumandang. “Saling bunuh diri antara dua orang sedarah yang saling mencintai…”

Lagi-lagi, Nipaksiri memenuhi pikirannya. Mengapa dendam itu begitu kuat menjebol dinding superego seorang Craen Mark? Dendam itu sungguhkah telah mengedepankan id seorang lelaki 60 tahunan yang seharusnya sudah lebih mengedepankan butir-butir khokhma. Apakah benar Sang Ayah mengalami fiksasi dalam dendam?

Flora menepis paksa lamunan sesaatnya itu. Kembali matanya yang memesona menyapu ulang landscape di hadapannya dan menatap kembali rindangnya Oak bak tangan malaikat memeluk, yang berdiri kokoh di hadapannya, benar, tidak ada apa-apa, terlihat sepi saja, hanya ilusi visual yang menemani kata ‘selamat sore’ yang didengarnya itu.

Sejenak langkah gontai kaki jenjangnya membawa peri mata hijau itu menemui kursi kayu tua yang berada di bawah rimbunnya sang tangan malaikat. Sejenak bayangan mengenai Segara Ananda Sangguraja muncul menari-nari. Seorang yang sangat dicintainya. Seorang pria yang pernah membawanya pada sebuah kenikmatan hakiki sampai ke bulan. Seorang pria yang pernah menorehkan pengalaman-pengalaman baik tentang cinta kasih, yang saat ini menjadi asing dan berjarak.

Kembali dia menatap bangunan tua yang telah mendapat sentuhan aksi Schneider dan Schumacer yang diminta  Craen Mark untuk merenovasinya. Sentuhan Autobahn berupa nave & spire menenggelamkan efek tua rumah Ayahnya itu.

Bunyi perut Flora akhirnya berhasil membuatnya memutuskan mencari tempat untuk mengisi energi fisik dan mentalnya sejenak. Craen Mark yang tengah melakukan perjalanan ke Ibukota Brandenberg, sekitar lebih dari 20 an kilometer jaraknya dari Berlin itu, membuatnya malas memasuki rumah yang dipastikan sepi saat itu. Kembali ingatannya pada pesan Craen Mark untuk dimakamkan di Bumi Turatea membuat Flora menghela nafas sangat panjang. Sebuah track labirin yang harus dipecahkannya sendiri sebelum Ayahnya pulang ke Bumi Turatea, demi sebuah ‘jalan keluar’.

Angin dingin Berlin membuat tangan Flora mengatupkan lebih erat mantel coklat-suede yang dikenakannya. Suara khas lagu fenomenal Aline – Christophe mengalun dari portable discman player Sony DE J011J011-nya yang seolah mewakili isi hatinya.

Et j’ai crie crie
Aline pour
Qu’ elle revienne
Et j’ai pleure’
Oh que j’avais
trip de peine…

Christophe membuat kebaperan Flora kian jadi, yang akhirnya menuntun Flora mengakhiri perjalanannya memburu kuliner di sebuah resto yang cukup sepi hari itu, Schnitzelei. Flora memasuki resto vegan-based yang terletak beberapa blok dari rumah Craen Mark. Memasuki ruangan yang cozy semakin Flora merasa ingin dekat Segara, walau hanya bayangan saja. Lamat-lamat lagu Cest La Vien Rose terdengar indah dari balik dinding resto bergaya retro-klasik itu.

Flora menerawang jauh sambil menyeduh Picollo yang sedari tadi sudah menyambutnya. Dari pandangan perifer–nya, seorang laki-laki 27 tahunan menghampirinya. “Ich freue mich  dich zu sehen? “ Rene Avere, sahabat dan kenalan Flora tetiba muncul mengejutkan. Avere yang mengantarkannya berjumpa dengan Souldrama, satu setengah tahun lalu.

Pertemuan Flora dengan Souldrama dilatarbelakangi trauma pada Bambang Subali yang pernah menyumbangkan sejumput luka berimbas traumatis. “Kadang aku baru dapat merasakan ‘pentingnya’ trauma  itu sekarang”, batin Flora menegaskan. Connie Miller, wanita yang juga bermata bagus itu berasal dari Springlake, United States, sang founder, mengenalkan konsep terapi yang menggabungkan psikoterapi kelompok, psikodrama, dan dunia spiritual untuk menstimulasi banyak hal baik dalam hidup manusia pasca mengalami kejadian memilukan. Beberapa sesi di Hudson Valley memberi pemahaman dalam dan penyadaran sepenuhnya terhadap beberapa peristiwa traumatik itu sendiri.

Avere membuyarkan semua lamunan Flora, “Jadi kutemani? Semua baik, bukan? “ Jari Avere memberi isyarat jentikan beberapa kali di depan wajahku. “Floooo…. Hello?? “

Laki-laki peranakan Manado-Perancis yang bekerja pada sebuah perusahaan EO bernama WeWork-Paris menjadi seorang kawan yang menemani proses pengumpulan keping puzzle jati diri Flora. Pria dengan aura indigo nan baik hati itu menemani hari-hari Flora yang selalu haus menemukan teka-teki hidup yang tak kunjung terjawab.

Pria mapan yang pernah mengalami diagnosa Gifted Disinkroni, dari seorang Psikolog senior yang juga pengajar di Universitas Nijmegen, Belanda itu sangat mendukung kembalinya kesehatan mentalnya.

“Flo, masih mau berapa lama ngelamunin situasimu yang absurd itu? Lihatlah beberapa pasang mata di arah pukul 9 dan dan pukul 3 memandangmu tajam. “Avere kembali mengingatkan tingkahku yang semakin tenggelam diantara conscious zone dan lawannya.

Seorang waitress berjalan ke arah mereka, menyajikan Gulaschuppe, Falscher Hase, serta Apfelstrudle, yang dipesan Flora dan Avere. Semua hidangan didominasi bahan-bahan untuk vegan. Sang waitress mempersilakan kedua sahabat itu menikmati hidangan. Mereka terlarut menikmati hidangan yang tersaji.

Dari kejauhan di seberang Schnitzelei, ada sepasang mata yang tengah intens mengamati gerak-gerik Flora dan Avere, yang sedang menikmati sajian makanan bernuansa vegan itu dengan lahap. Nampak mirip sekali dengan mata misterius Kyllian. (Nita Kris)

(Bersambung)

 

Cerita ini hanya kisah fiktif. Kesamaan nama, tokoh, dan tempat hanyalah kebetulan semata. Selanjutnya, Bab 12, akan digubah ‘Mba Aliz’ Swarna😃.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan