bulan jatuh di genteng warung kopi
para lelaki perlente berdasi
keluar dari gedung warna-warni
lari-lari
mereka serabutan,
upel-upelan
berteriakan
berebutan memeluk bulan.
bulan malu,
tersipu merah dadu
bulan deg-degan
digoda-goda
bulan cekikikan
dielus-elus
bulan menggeliat
dipijat-pijat
bulan mendesah
dicium-cium
bulan merintih
dijilat-jilat
sesudah itu
bulanpun sunyi
nafasnya naik turun tugu tani
kekasihku,
sungguh
malam itu,
para lelaki perlente
ikut membuat gedung-gedung bertingkat
bergoyang-goyang
terengah-engah
lalu terkulai
lelap
dalam mimpi-mimpinya
dan aku tetap saja menunggumu
di sini
di warung kopi
Tanah Betawi 1998
Wah warung kopinya rame, sampe upel2an.
Mau mampir, tapi nunggu biar agak sepi dulu.
Sehat selalu ta Mbak Widz.
Hormat saya.