Foto: Dian Albatami. Eva Ada ratusan kata, di sudut malam yang belum sempat kuambilAda ribuan rasa, di langit senja yang sulit kuterjemahkanAda jutaan rayuan, di langit penuh bintang yang bersembunyi di balik rembulanNamun, hanya ada satu do’a yang kulantunkan untukmu,

Ilustrasi:www.pixabay.com Terang terpancar cahaya tenang Selimuti malam meresap keheningan Teduh diam lingkupi doa sejuta jiwa Getar sukma damba nirwana Ketika kelam bayangi penerangan Purnama menanti dalam kebisuan Biarkan gelap berlalu, tak melawan Di puncak redup, sinar tetap terpancarkan Pelan, hitam kian

  Dokpri  Jalan panjang telah terlewati Liku hidup pun telah dijalani  Onak dan duri tak jarang menghampiri  Bahagia dan nestapa silih berganti  Cita dan cinta yang turut mewarnai hari  Menggoreskan kisah berjuta mimpi  Ada yang teraih pasti  Pun ada yang berlalu

Freephotos@Pixabay.com  Di tepi jalan aku menanti Sendiri, tanpa teman menemani  Berpayung harap, kunjunganmu menjadi santapan diri  Di antara rintik hujan  Dalam temaram malam tanpa bintang  Aku menantikan hadirmu  Hangatkanlah tubuh ini  Bangkitkanlah hasrat ini   Dari cawanmu yang menggoda nafsu   Bang, baksonya

Ilustrasi oleh Mostafa_muraji @Pixabay.com    Dik, Painiku Malam ini wajahmu hadir lagi Menemani kesepian Akang yang jauh di negeri orang  Bisakah kau rasakan rindu yang membara ini  Seperti nyala api yang siap membakar kayu menjadi arang  Dik, ingin rasanya kudekap tubuhmu

 Sumber gambar dari Pixabay.com  Kang  Any Sukamto  Kang, masihkah kau ingat obrolan kita tempo hari Kau akan setia dengan janjimu, menemani hari indahku hingga ajal menjemputku Kau janjikan hidup kita akan bahagia, meski bukan istana sebagai tempat berteduh  Kau yakinkan hari

yanahaudy0 Jangan bayangkan suara dan rupaku saat kau mendengar lagu kesukaanmu karena bait-bait itu hanya menambah rindu Tak perlu gelisah saat tak melihat wajahku karena aku selalu ada di pelupukmu Bila langit tak bermega janganlah mencari sang bayu karena dia sedang

Canva/yanahaudy0 Mata terpejam. Mulut terdiam. Matahari hampir terbenam. Si wajah cantik membuka matanya, perlahan . Turun dari peraduan. Bulu mata dilentikkan. Bibir dimerahkan. Pemerah pipi dua pulasan. Jemputan datang. Beserta lelaki sangar. Membawasi wajah cantik ke klub kelap-kelip. Si wajah cantik

Pixabay.com Aku sengaja  mengintai sampai di mana cahaya matahari  membelai gigil pagi menyampaikan pesan paling hangat dari tajuk rencana hari ini Ternyata aku menemukan mosaik paling romantis dari sisa-sisa gerimis di permukaan daun Kamboja yang mulai bersajak atas nama cinta Aku