**
Semenjak tak ada kabar dari mas Arka, aku tidak bisa tidur dan makan pun tak berselera. Sudah dua hari aku lemas dan harus pergi ke dokter langgananku, asam lambungku kumat. Dokter memberiku obat, setelah sampai rumah aku meminum obat dari dokter. Sepertinya obat yang aku minum mengandung obat tidur, karena aku merasakan ngantuk yang luar biasa, tak terasa aku terlelap.
“Andini! Bangun! Jangan sakit, kamu harus kuat, mas butuh bantuanmu, hanya kamu yang bisa bantu mas, bangun sayang, datang lah ke kota tempat kita akan bertemu, mas tunggu kamu sayang.”
Aku terhentak, tubuhku berkeringat sampai basah kuyup. Ya Tuhan ternyata aku bermimpi, mimpi yang sangat nyata, aku mendengar suara mas Arka meminta bantuan dan aku seperti melihat mas Arka tergeletak di dalam kamar suatu Rumah Sakit, badannya penuh perban dan yang aku lihat mas Arka seperti tak sadar.
Aku menangis sejadi-jadinya, pesan apa yang ingin mas Arka sampaikan padaku? Aku ingat-ingat pesannya disuruh datang ke kota tempat aku dan mas Arka akan bertemu. “Ya Tuhan, mas Arka butuh bantuanku dan aku harus sehat.”
Seperti mendapat keajaiban, badanku tidak terasa sakit lagi dan aku merasa segar bugar entah kekuatan dari mana dan malam itu juga aku langsung memesan tiket pesawat yang penerbangan pertama. Aku membawa baju secukupnya dan memesan kendaraan lewat aplikasi. Perjalanan kurang lebih satu jam, sampailah aku di bandara dekat kota tempat aku tinggal.
Ketika take off bibir ini tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan mas Arka. Demi mas Arka, aku harus kuat, agar bisa menolongnya. Entah apa yang terjadi padanya, walau hanya berbekal mimpi, namun aku nekat hingga sampai ke kota tempat aku dan mas Arka akan bertemu nanti, perjalanan ini terasa lama karena aku tak sabar ingin segera bertemu mas Arka.
Aku ingat dalam mimpi aku melihat mas Arka tengah terbaring lemah di rumah sakit, tapi rumah sakit yang mana? Di kota ini mungkin ada puluhan rumah sakit.
Sesampai di Bandara kota yang dituju, ditengah hiruk pikuk Bandara, aku duduk menyendiri sambil berpikir langkah yang harus aku lakukan, karena jujur aku belum mengenal kota ini dan jangan sampai aku tersesat.
Aku tenangkan diri dan harus berpikir jernih, langkah awal aku harus mencari penginapan, tak mungkin pula aku mencari rumah sakit sambil membawa koper. Akhirnya aku putuskan untuk mencari hotel terdekat hanya untuk menyimpan barang bawaanku.
Setelah menyimpan barang-barang bawaanku di hotel, aku segera beranjak menuju rumah sakit terdekat yang ciri-ciri nya ada di dalam mimpiku. Hatiku terus bercakap-cakap dengan mas Arka.
Saat bertanya pada resepsionis di hotel ini, aku tahu bahwa setidaknya ada sekitar 20 rumah sakit di kota ini. Tapi berbekal keyakinanku, aku terus berusaha mencari ciri-ciri rumah sakit seperti yang kulihat di dalam mimpiku.
Aku sengaja menyewa jasa mobil online, biar tidak kerepotan mencari kendaraan karena aku belum mengenal kota yang baru ku datangi ini.
Aku sampai di rumah sakit besar yang ada di kota ini, rumah sakit milik pemerintah. Aku bertanya ke resepsionis atas nama pasien mas Arka. Ternyata tidak ada. Aku terus mencari dan pindah dari rumah sakit satu ke rumah sakit yang lain, baik milik pemerintah maupun swasta namun semuanya nihil. Tidak ada pasien mereka yang bernama Arka disitu.
Hari sudah malam, tinggal dua rumah sakit lagi yang belum aku datangi, supir yang mengantarku seorang perempuan, usianya diperkirakan lima puluh tahun merasa kasihan dan menyarankan agar keesokan harinya mencari lagi, tapi aku tidak mau, malam ini juga aku harus menemukan keberadaan mas Arka. Supir yang bernama mba Ratna itu dengan sabar mengantarku, memahami kegundahan yang aku rasakan.
Rumah Sakit yang ke sembilan belas yang kudatangi ini terasa tidak asing, aku seperti pernah mendatangi tempat ini, tapi kapan? Aku mengingat-ingat, ya Tuhan rumah sakit yang muncul dalam mimpiku. Semangatku muncul lagi, dan benar mas Arka ada disana.
Suster berparas manis mengantarku ke ruang ICU, aku menangis melihat mas Arka masih koma, hampir sembilan hari koma. Aku mendekati ranjang tempat mas Arka terbaring, suster bilang mas Arka sering mengigau menyebut nama Andini, ya itu namaku.
Setelah memastikan itu mas Arka, aku memberitahu mba Ratna yang ikut mendampingiku keluar masuk rumah sakit saat mencari mas Arka, sebagai ucapan terimakasih karena dari aku datang pukul sembilan pagi sampai pukul sepuluh malam mba Ratna yang mengantarku, aku memberikan bonus padanya, awalnya Ia menolak pemberianku tapi aku tetap memaksa, akhirnya dengan berat hati Ia menerima. Mba Ratna memberikan nomer handphone-nya apabila aku membutuhkan bantuan Ia siap membantu.
Melihat keadaan mas Arka, mba Ratna ikut menangis dan menasehati supaya aku sabar dan telaten mengurus mas Arka, sebelum pergi mba Ratna berpesan agar aku selalu berdoa dan aku harus yakin akan kesembuhan mas Arka.
Tak terasa air mata mengalir di pipi melihat keadaan mas Arka, di rumah sakit dia sendirian dalam keadaan tak sadarkan diri, badannya berbalut perban, karena lukanya yang parah perban itu sampai berwarna merah. Ya Tuhan, siapa yang begitu tega mencelakainya. Pantas badanku terasa sakit luar biasa selama tak ada kabar darinya, ternyata itu yang dirasakan mas Arka.
Sambil menggenggam tangannya, aku menangis tersedu-sedu, dibawah alam sadar pun mas Arka masih mengingat aku. Aku kecup keningnya dan berbisik di telinganya, “Andini sudah datang mas, bangunlah”
Sambil terus menggenggam tangannya, aku bercerita tentang rasa khawatir dan tentang mimpiku dan harapan-harapan kami pada mas Arka, aku tau meski diam mas Arka mendengar suaraku, menjelang dini hari tanpa sadar aku tertidur di samping ranjang mas Arka.
Dalam tidur, aku seperti merasakan tangan yang mengelus kepalaku, aku terbangun dan melihat mas Arka sudah sadar dari komanya, sambil tersenyum tangannya mengelus kepalaku. Aku kembali menangis haru, kekuatan cinta telah menuntunku untuk menemukan keberadaan mas Arka, berkat tuntunan mas Arka yang hadir lewat mimpiku.
Aku percaya, dendam akan membakar diri sendiri dan pada akhirnya keikhlasanlah yang akan mengalahkan segalanya.









Response (1)