Bangkit Menjungkit Menuju Langit

oleh -516 views
Bangkit menjungkit menuju langit. Bersama anak-anak calon pemimpin masa depan.

“Bahwa kemerdekaan satu negara, yang didirikan di atas timbunan runtuhan ribuan jiwa-harta-benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia siapapun juga.”

-Jendral Soedirman-

Bangkit, ada perasaan lega yang membuncah manakala membaca kata-kata bijak dari seorang Jendral Besar Republik Indonesia, berulang-ulang. Sembari berusaha menyerap maknanya lebih dalam. Bagai oase di tengah kegelisahan atas kejadian pelik. Seorang pelindung masyarakat yang berbuat di luar nalar menyedot perhatian publik sedemikian rupa. Sikap histeris terhadap kisah penembakan seorang Brigadir J oleh Inspektur Jendral Ferdy Sambo adalah bagian puncak. Merupakan luapan rasa kekecewaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum yang kerap berlaku tajam ke bawah. Tumpul ke atas. Seakan hukuman hanya berlaku bagi rakyat jelata. Bagaimana tidak? Kepercayaan terhadap hukum telah hancur dan tatanan negara ini semakin karut-marut.

Sekaranglah saatnya bagi POLRI dan seluruh petinggi untuk membenahi diri agar benar-benar mampu menunjukkan kinerja tinggi sebagai pengayom masyakrat. Pelindung rakyat dari segala macam bentuk ketidakadilan. Berpihaklah pada kebenaran dengan seluruh kekuatan jiwa dan tunjukkan bahwa kecintaan terhadap negeri mengalahkan oleh kecintaan terhadap uang dan kekuasaan.  

Ketika banyak jiwa yang mempertanyakan arti kemerdekaan. Apatah merdeka manakala pribumi atau rakyat malah menderita di tanah yang kaya raya sementara orang asing merajalela menguasai lebih dari 75% kekayaan negara? Namun, kembali mencerna kata yang lahir dari kebesaran jiwa bahwa kemerdekaan negara ini tak akan bisa lenyap oleh siapapun membuat kesadaran diri tumbuh lebih tinggi. Kalimat ini bukan lahir dari sekadar harapan atau omong besar, kalimat bijak tersebut lahir dari seseorang yang mengerti arti perjuangan menggapai kemerdekaan yang sesungguhnya.

Tumbuhkan Kesadaran

Sejarah bahwa perjuangan kemerdekaan telah merenggut jutaan nyawa, mengalirkan bergalon-galon darah para pahlawan dan mengorbankan harta benda. Harapan kekuatan tumbuh semakin besar dalam diri bangsa untuk tetap mempertahankan kemerdekaan negara ini. Banyak peristiwa yang tercatat merongrong kemerdekaan Indonesia setelah kumandang Proklamasi pada 17 Agustus 1945. Di antaranya pemberontakan G30S PKI, PRRI, Permesta, DI/TII, GAM, RMS dan OPM. Pada akhirnya semuanya bisa teratasi dengan baik. TNI dan rakyat masih terus berjuang agar NKRI tetap utuh. Saat ini tinggal dua hari lagi usia kemerdekaan Indonesia menuju ke-77. Meskipun menghadapi banyak sekali ujian dan tantangan masih ada gunungan semangat, lautan keberanian serta panjatan milyaran doa agar negeri ini selamat sentosa hingga akhir masa.

Banyak saksi hidup sejarah perjuangan kemerdekaan lambat laun akan hilang akan tetapi catatan sejarah harus tetap hidup dan terpatri dalam hati sanubari generasi penerus bangsa. Menumbuhkan rasa nasionalisme bukanlah hal mudah. Sangat butuh kerja keras dari berbagai pihak agar bangsa ini tetap memegang teguh nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai Dasar Negara. Persatuan Indonesia sila ketiga, menjaga kerukunan hidup di negri yang memiliki kebhinekaan, beragam adat dan budaya bersatu bahu-membahu membangun negeri sekaligus bertahan dari segenap serangan baik dari dalam maupun dari luar.

Pupuk Nasionalisme

Tanah airku Indonesia/Negeri elok amatku cinta/Tanah tumpah darahku yang mulia/Yang kupuja sepanjang masa. Potongan lagu Rayuan Pulau Kelapa ciptaan Ismail Marzuki menggambarkan sebuah rasa nasionalisme yang tinggi. Menyanyikan lagu ini adalah menjadi pengingat bahwa kita bersyukur atas karunia-Nya. Tuhan pun telah melimpahkan keelokan dan kemuliaan pada tanah tumpah darah di garis Khatulistiwa. Merupa rangkaian 17.000 buah pulau (2021) dari Sabang sampai Merauke. Adalah tugas mulia di pundak para pemuda penerus bangsa, menjaga agar Indonesia tetap jaya.

Angin semilir berderak ranting/masapun begulir menggelinding/para pemuda bergerak lenting/dari genting menuju hening/menapaki masa demi masa/ambaudhendha nyakrawati. Bait puisi penyemangat bagi penerus bangsa. Sedemikian halusnya angin semilir tetapi tetap bergerak terus-menerus dari masa ke masa memberi nafas bagi kehidupan. Dirgahayu Indonesiaku bangkitlah menjungkit menuju langit. (1945-2022)

Sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Soedirman

https://www.merdeka.com/jateng/23-kata-kata-bijak-jendral-soedirman-yang-inspiratif-dan-membangkitkan-semangat-kln.html

https://www.google.com/search?q=rayuan+pulau+kelapa+lirik&oq=rayuan+pulau+kelapa&aqs=chrome.1.69i57j0i131i433i512l2j0i512l7.6774j0j7&sourceid=chrome&ie=UTF-8&safe=active&ssui=on

Tentang Penulis: Desi Oktoriana

Guru SDN 173 Neglasari Bandung. GP Angkatan 4 Kota Bandung. Pengajar Praktik Angkatan 10 Kota Bandung.

Responses (4)

Tinggalkan Balasan