Spanduk barù warung sate Buk Yuleka

oleh -946 views
Spanduk barù warung sate Buk Yuleka
Spanduk barù warung sate Buk Yuleka

************************************

Dengan penuh percaya diri Mat Sokeh menuju Balai RT. Beruntung kerja bakti masih berlangsung ketika dia sampai di lingkungan rumah tinggalnya. Bermodal tas plastik berisi pisang goreng, ote-ote dan cakwe dia yakin ketidakhadiran dirinya dalam kerja bakti dimaklumi warga RT lainnya.

“Bagaimana Bang ?” Selidik Cak RT sambil mengambil sepotong cakwe.

“Alhamdulillah, sudah beres Cak RT. Memang spanduk sudah buram, sudah waktunya ganti. Wajah Yuleka sudah tidak jelas lagi.” Jawab Mat Sokeh tanpa menyinggung persoalan sebenarnya.

“Dari mana Mat?” Ganti Samsuri tetangganya yang bertanya ketika Mat Sokeh menawarkan diri menggantikan menggendong mesin pemotong rumput.

“Tadi sebentar ke percetakan.” Lalu mereka berdua bertukar peran memotong rumput.

Jam sepuluh kerja bakti pun bubar. Mat Sokeh bergegas pulang. Di dapur Yuleka sedang meracik bumbu gulai.

“Lepas zuhur nanti Hanafi akan mengantar spanduk pesanan kita.” Mat Sokeh mendahului menceritakan hasil kerjanya sebelum ditanya istrinya.

“Semoga membawa manfaat.” Tukas Yuleka sambil memblender cabai untuk sambal.

Sesuai janjinya Hanafi datang mengantar spanduk baru pesanan Mat Sokeh. Buk Yuleka tersenyum puas ketika gulungan spanduk dibuka dia bisa melihat gambar dan narasi sudah sesuai keinginannya. Dia lalu minta suaminya mendahului berangkat ke lokasi warungnya untuk melepas spanduk lama dan menggantinya dengan yang baru.

Bergegas Mat Sokeh melaksanakan “arahan” istrinya. Setelah spanduk terpasang, Mat Sokeh mendokumentasikan hasil kerjanya dan mengirim foto via WA ke istrinya. Tidak lama kemudian foto warung dengan spanduk baru sudah terunggah di grup WA Dasa Wisma, kader posyandu dan PKK RT.

Seperti juga istrinya, Mat Sokeh pun mengunggah foto tersebut ke grup WA kaum bapak di RT.

“Mantap Bang, asli,” komentar Cak RT. Berikut rangkaian komentar anggota grup lainnya :

“Keren, penjualnya asli, daging satenya pun asli.”

“Semoga berkah Cak.”

“Tidak ada alasan untuk ragu, dijamin halal.”

Ya, pada spanduk baru tertulis jelas : “Warung sate Buk Yuleka, Madura Asli.” Bukan hanya itu, sesuai pesanan, Hanafi pun mencantumkan :  “Ayam dan Kambing Asli.”. Semua itu dilakukan agar pelanggan tidak terpengaruh riuhnya perbincangan tentang rendang di restoran “babiambo.”

Pudji Widodo,

Sidoarjo, 15062022 (116).

Rujukan berita : CNN Indonesia, 10/06/2022

(https://www.cnnindonesia.com/nasional/20220610150326-20-807400/pemilik-nasi-padang-babi-minta-maaf-tidak-niat-singgung-suku)

Sumber foto : restaurantguru.com

(https://restaurantguru.com/amp/Sate-Ayam-and-Kambing-H-NUR-MADURA-Yogyakarta)

Catatan : Cerita ini hanya fiksi belaka, jika terdapat kesamaan foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, hal tersebut adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Tentang Penulis: Pudji Widodo

"Ada Bila Berarti", Pemerhati Kesehatan Militer. Suka buku sejarah.

Responses (6)

Tinggalkan Balasan