Penyakit kuning tidak selalu hepatitis dan mewaspdai PIE

oleh -1,634 views

Hepatitis virus misterius dan Penyakit Infeksi Emerging

Hepatitis virus A menular melalui makanan minuman. Hepatitis virus B dan C  menular melalui cairan darah termasuk penggunaan jarum suntik bersama para pecandu narkoba.

Hepatitis virus D, menular melalui cairan darah dan terjadi hanya pada mereka yang lebih dulu mengidap Hepatitis virus B. Hepatitis virus E menular melalui makanan, minuman dan cairan darah.

Di tengah belum tuntasnya penanggulangan pandemi Covid-19, pada April 2022 telah muncul Kejadian Luar Biasa (KLB) Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui penyebabnya (Hepatitis of unknown origin /HUO). Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyatakan KLB kasus hepatitis akut yang menyerang anak-anak di Eropa, Amerika, dan Asia, serta belum diketahui penyebabnya sejak 15 April 2022 lalu. KLB dialami kelompok anak sejumlah 170 kasus di 12 negara. 

Hepatitis misterius alias HUO pun sudah masuk Indonesia. Sampai 23 Juni 2022 Kemkes RI menyatakan bahwa terdapat 30 kasus yang telah diinvestigasi (liputan6.com).  Sampai saat ini belum ditemukan jasad renik apa yang menjadi penyebab HUO.

Munculnya HUO mengingatkan kita semua untuk terus mewaspadai penyebaran Penyakit Infeksi Emerging (PIE). Penyakit Infeksi Emerging adalah penyakit yang muncul dan menyerang suatu populasi untuk pertama kalinya atau telah ada sebelumnya namun meningkat dengan sangat cepat, baik dalam jumlah kasus baru di dalam satu populasi, ataupun penyebarannya ke daerah geografis yang baru (re-emerging infectious disease).

Penyakit Infeksi Emerging berpotensi menyebar menyebabkan pandemi dan kedaruratan global. Untuk mengatasinya diperlukan kerja sama internasional sesuai ketentuan WHO melalui International Health Regulation (IHR) 2005. 

Kementerian Kesehatan RI telah menetapkan jenis PIE yang di antaranya adalah : Poliomielitis; Ebola; MERS; Influensa A (H5N1)/Flu Burung; Virus Nipah; Demam Kuning; Demam Congo; Anthrax, Meningitis dan yang terbaru Covid-19 (kemkes.go.id). Sejarah mencatat pandemi flu Spanyol bahkan menghentikan Perang Dunia I, karena kematian jutaan prajurit.

Bila kita cermati, terdapat kesamaan dari berbagai penyakit  baru yang kemudian digolongkan sebagai PIE. Selain potensi penyebarannya yang cepat, juga penyebab penyakit baru tersebut tidak langsung dengan mudah diketahui sejak awal. Beruntung sejak dimulai dari Wuhan, dalam waktu 2 bulan penyebab Covid -19 bisa diketahui. Tidak sampai setahun karena darurat WHO mengizinkan vaksin Covid-19 yang telah ditemukan bisa segera dipakai. Juga telah ditemukan obat plaxlovid dan molnupiravir untuk Covid 19.

Sebaliknya hingga kini meskipun telah menjadi problem puluhan tahun, kita belum berhasil menemukan vaksin untuk Demam Berdarah dan HIV/AIDS. Melansir tniad.mil.id, saat ini Puskes TNI AD bekerja sama dengan Lembaga Eikjman sedang meneliti penggunaan vaksin anti malaria bagi prajurit.

Langkah praktis yang kita lakukan untuk mencegah PIE terutama adalah menjaga Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) baik untuk pribadi maupun lingkungan. PHBS yang optimal akan menekan risiko penularan penyakit melalui makanan-minuman (waterborne), cairan darah maupun percikan lendir pernapasan maupun aliran udara (airborne).

Dengan pendekatan penyakit sebagai bencana, para pemangku kepentingan tentu akan melaksanakan mitigasi kesehatan. Namun juga diperlukan kesadaran masyarakat untuk terlibat aktif dalam upaya preventif, deteksi dan respon penanggulangan KLB dan wabah penyakit.

Tentang Penulis: Pudji Widodo

"Ada Bila Berarti", Pemerhati Kesehatan Militer. Suka buku sejarah.

Responses (4)

Tinggalkan Balasan