Dari Relawan Satgas Covid-19 Menjadi Prajurit TNI AL

oleh -723 views
Suasana kelas Dikmapa Susgakes dan Dikmabakes TA 2021 Pusdikkes Kodiklatal, foto dokpri.

Bertemu mantan relawan Covid-19 di Pusdikkes TNI AL

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto berdialog dengan seorang relawan tenaga kesehatan Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Annisa Rizkika, sumber kompas.com

Pengabdian para tenaga kesehatan honorer di rumah sakit TNI AL dan relawan tenaga kesehatan di berbagai RSDC selama pandemi mendapat apresiasi KASAL. Para relawan nakes ini mendapat prioritas bila berminat bergabung mengabdi kepada negara melalui TNI AL.

Ketika Panglima TNI  Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengunjungi RSDC WA, seorang relawan nakes menyampaikan keinginannya bergabung di jajaran TNI. Panglima TNI menyambut baik dan menyatakan TNI AL telah melakukan penerimaan personel program khusus kesehatan dari relawan Satgas Covid-19 (kompas.com, 20/8/2021).

Angkatan pertama pendidikan program khusus Bintara Kesehatan TNI AL telah dicetak oleh Kodiklatal pada 2021. Demikian pula penerimaan personel perwira kesehatan yang diselenggarakan Mabes TNI, diantara para pesertanya ada yang telah lebih dulu bertugas dalam relawan   Satgas Covid-19. Peserta didik dua strata pendidikan kesehatan itu, pada saat ini juga sedang dibentuk di Kodiklatal.

Komandan Pusdikkes Kodiklat TNI AL meminta saya berbagi pengalaman sebagai instruktur. Sebelumnya pada TA 2020 saya juga membantu Pusdikkes Kodiklatal sebagai instruktur pada Pendidikan  Pertama Perwira Prajurit Karir (Dikmapa PK) program khusus tenaga kesehatan (susgakes). Saya juga mengajar siswa program Pendidikan Pembentukan Perwira (Diktukpa) dari sumber bintara reguler yang akan beralih status menjadi perwira.

Kini saya kembali bertemu dengan siswa Dikmapa PK angkatan 28-B TA 2021, masih program Susgakes. Pelajaran kesehatan pangkalan adalah

materi yang saya ampu. Melalui materi kesehatan pangkalan juga disampaikan bahwa keamanan nasional dalam situasi kekinian bukan hanya soal perang konvensional.

Masyarakat internasional sepakat untuk bersama mengatasi problem keamanan kesehatan global. Kewaspadaan terhadap “Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia” harus tetap dijaga, karena pandemi penyakit yang lain bisa muncul setiap saat. Upaya tersebut dimulai dari pembinaan kesehatan pangkalan.

Hal ini mengingatkan setiap satuan bahwa “Pangkalan Aman adalah Pangkalan yang Sehat,” bukan hanya aman dari serangan konvensional. Sebagai contoh ditemukannya banyak personel pangkalan marinir AS di Okinawa yang terkonfirmasi Covid-19 membuat otoritas lokal di kota tersebut marah karena terancamnya penyebaran kasus ke warga setempat.

Saya juga memberi materi Pengantar Latihan Praktek Uji dan Pemeriksaan Kesehatan (Urikkes). Kelak di kedinasan, mereka akan terlibat dalam pembinaan kesehatan prajurit dan keluarganya. Salah satu upaya pembinaan kesehatan di satuan adalah menyelenggarakan urikkes bagi calon prajurit, prajurit dan PNS TNI AL.

Bagi prajurit, urikkes diperlukan untuk berbagai kepentingan mendukung tugas pokok TNI AL. Status kesehatan hasil urikkes diperlukan untuk berbagai persyaratan administrasi dinas, usul kenaikan pangkat serta tugas operasi dan latihan. Data urikkes juga diperlukan dalam seleksi pendidikan, evaluasi penderita penyakit kronis, evaluasi kecacatan prajurit, sidang Badan Pemeriksa Kesehatan Prajurit, juga untuk persyaratan perkawinan.

Saya tidak hanya menyampaikan apa yang tertuang dalam petunjuk pelaksanaan Urikkes. Sebagai generasi baru di jajaran Kesehatan TNI AL, mereka tentu tahunya hanya regulasi terbaru yang berlaku di jajaran TNI. Oleh karena saya pun menyampaikan perkembangan regulasi sejak tahun 1992, sampai yang terkini beserta dinamika yang mendasari kebijakan internal maupun perkembangan sosial masyarakat.

Tentang Penulis: Pudji Widodo

"Ada Bila Berarti", Pemerhati Kesehatan Militer. Suka buku sejarah.

Responses (6)

Tinggalkan Balasan