Oleh karena itu, putra Bu Miskem yang berprofesi sebagai pengemudi ojol mengelola dompet digital, selain mendaftarkan kedai milik ibunya. Pemilik warung Mbak I hanya “mencet-mencet” HP jika ada pesanan.
Berdasarkan pengalaman, Bu Miskem rata-rata menerima 10 pesanan melalui aplikasi. Bisa sampai lima bungkus, bahkan lebih, dari setiap konsumen.
Meskipun lokasi tidak berada di lokasi strategis, warung gado-gado Mbak I mampu menggaet lebih banyak pembeli, melalui aplikasi pesan-antar makanan (e-Delivery). Maka penjualan pun meningkat.
Jadi, Anda yang sedang merintis usaha kuliner, tapi terbentur oleh kelemahan lokasi, tidak ada salahnya meniru langkah Bu Miskem.








Terimakasih untuk artikelnya Om Bud, inspiratif
Siap. Terima kasih juga, Mas Warkasa