Sedangkan sorgum belum begitu populer. Meskipun seingat saya telah dibudidaya pada pertengahan tahun 1980-an. Mempopulerkan kembali “barang lama.” Di marketplace tersedia dengan harga sekitar Rp 25 ribu per-kg.
Sulit menemukan bahan pangan ini di warung-warung sekitar rumah dan pasar tradisional.
Lebih mudah menjumpai bahan pangan sumber karbohidrat lainnya, yakni singkong (ketela pohon, ubi kayu), ubi jalar, dan talas. Harganya pun terjangkau, berkisar Rp 4-8 ribu.
Pada sebuah sudut pasar tradisional, seorang pedagang menggelar talas belitung (kimpul, bentul, mbothe) dan ubi jalar (putih, oranye, dan ungu).
Oleh karena itu, saya membeli umbi-umbian itu. Harganya: ubi jalar putih dan oranye masing-masing Rp 4 ribu per-kg; talas belitung Rp 8 ribu; ubi ungu Rp 8 ribu per-kg.
Ubi Putih dan Oranye
Mengolah ubi berbeda warna itu menjadi bolu. Dengan cara menghaluskan setelah dikukus, lalu mencampurnya dengan terigu. Nikmat menyantap penganan ini pada sore hari sambil menyeruput kopi.
Talas Belitung
Cukup mengukusnya. Mencocolnya bersama madu. Atau menjadi alternatif sarapan, yaitu: hasil kukusan dicampur dengan scrambled egg, sayur rebus, mayonaise, dan sambal.








Setuju Pak Budi, kita perlu diversifikasi pangan, termasuk dengan ubi dan talas, agar siap menghadapi kelangkaan pangan apapun penyebabnya.
Terima kasih,
Hormat saya.
Betul. Mesti antisipasi dari sekarang. Konflik sampai kini belum ada titik terang penyelesaian.
Terima kasih, Pak Pudji.
Salam hormat.
Betul. Mesti antisipasi dari sekarang. Konflik sampai kini belum ada titik terang penyelesaian.
Terima kasih, Pak Pudji.
Salam hormat.
Terimakasih untuk artikelnya Om Bud.. bermanfaat
Siap. Terima kasih, Mas Warkasa.
Semoga bermanfaat