![]() |
| source: travellingyuk.com |
Kylian
terbangun dari tidurnya. Tidak nyenyak, tapi cukup untuk memulihkan hatinya
yang sesak. Hal pertama yang ia lakukan adalah mencairkan pikirannya dari
rencana-rencana yang sudah banyak tersusun.
Luka
di perutnya bukanlah kekhwatiran. Tusukan badik Segara memang berhasil menembus
perut sebelah kanan, tetapi itu hanya beberapa senti saja.
Segara
tidak serius, jika iya, maka ia tidak akan berada di sini. Kylian juga yakin
pesannya diterima Segara. Momen singkat Ketika ia melonggarkan kuncian pada
lengan Segara.
Craen
Mark terkecoh! Ia telah menanti pertunjukan Gladiator maut tersaji
dihadapannya. Ia yakin jika Kylian sudah berhasil ia beli. Ia juga percaya
bahwa Kylian akan dengan mudah menghabisi Segara.
Jelas
Segara bukan tandingan mantan Hasahsin ini. Ia tumbuh berkembang dalam situasi
yang keras. Afghanistan adalah lahan subur bagi petarung untuk membuktikan
diri.
Tidak
mati di sana, bukan hanya soal keberuntungan saja. Kelihaian bela diri dan insting
hewani akan melahirkan petarung-petarung tangguh, semacam Kylian.
Segara?
Ia hanya anak ingusan yang dipenuhi rasa dendam. Ilmu silat yang ia pelajari ke
seluruh negeri hanyalah pertunjukan tari di hadapan pembunuh bayaran sekelas
Kylian.
Tapi,
Craen Mark lupa! Insting tajamnya dalam penilaian telah melupakan satu hal
penting. Alasan Kylian berjihad ke Afhganistan bukanlah masalah ideologi atau
fanatisme.
**
Kylian
adalah seorang pria yang cinta damai. Hatinya lembut bak domba. Sifatnya yang
suka menolong, membuat ia tampak lemah. Tapi, sebenarnya itu hanyalah
perimbangan.
Kylian
menyanyangi ibunya, tapi bukan ayahnya. Namun, ia juga tidak membenci ayahnya.
Ia hanya tidak memiliki banyak kesempatan untuk lebih banyak mengasihi sang
ayah.
Ayah
Kylian Bernama Daeng Sewang. Di Bumi Turatea, ia adalah guru silat terkenal.
Karaeng Marradia yang tiada lain adalah Craen Mark adalah salah satu muridnya.
Daeng Sewang adalah seorang pria yang memiliki prinsip yang keras.
Adat
Turatea adalah jalan hidupnya. Ia jauh dari kesan paemosiang (gampang tersulut
emosi), dan sangat menghargai kesetaraan humanis. Tidak membedakan manusia dari
stratanya.
Namun,
tidak bagi Kylian yang nama sebenarnya adalah Kamaluddin. Ayahnya selalu keras
padanya. Bagi Daeng Sewang, Kamaluddin harus tumbuh besar sebagai lelaki yang
kuat. Ia selalu memaksa anak-anaknya untuk belajar silat.
Silat
sebenarnya bukanlah prioritas Kamaluddin. Ia lebih memilih sastra dan seni
budaya. Ammaca Kittak dan Pakacapi adalah jiwanya. Menjadi seorang Pabichara
(tokoh adat) adalah tujuannya.
Hingga
suatu hari, dalam sebuah pertandingan eksibisi di kampung. Karaeng Marradia
emosi. Ia yang merasa tak terkalahkan, harus terjungkal malu dengan sebuah
tendangan yang dilayangkan Safaruddin, putra Daeng Sewang yang juga kakak
Kamaluddin.
Karaeng
Marradia yang paemosiang kemudian menuduh gurunya pilih kasih. Tendangan yang
ia terima dari Safaruddin disebut sebagai jurus rahasia yang tak pernah
diajarkan padanya.
Daeng
Sewang tidak marah. Ia hanya memberikan sebuah nasehat. “Seorang pendekar hebat
akan mendapatkan kesaktian dari sifatnya yang luhur. Cara yang terbaik adalah
dengan menembus bahaya atas nama kemanusiaan.”
Kamaluddin
ada di sana pada saat ayahnya menasehati Karaeng Marradia. Hingga kini nasehat tersebut
masih terngiang-ngiang di benaknya. Apalagi, nasehat yang tidak ditujukan
langsung kepadanya itu ternyata adalah nasehat terakhir dari mulut sang ayah.
Semuanya
berubah Ketika tragedi itu datang menghampiri. Ayahnya meninggal, demikian pula
Saparuddin, kakaknya. Konon diracuni, tapi tidak ada pengusutan lanjutan. Warga
desa yang tahu kejadian, dengan mudah menuduh Karaeng Marradia sebagai biang
keroknya. Demikian pula dugaan Kamaluddin.
Tapi,
tidak ada yang berani. Keluarga Karaeng Marradia terlalu berpengaruh. Akhirnya
kejadian heboh tersebut teredam sendiri seiring angin yang datang mengusik
sepi.
“Seorang
pendekar hebat akan mendapatkan kesaktian dari sifatnya yang luhur. Cara yang
terbaik adalah dengan menembus bahaya atas nama kemanusiaan.” Pesan terakhir
Daeng Sewang kini sudah ditujukan kepada Kamaluddin.
Pabichara
bukan lagi tujuannya, balas dendam adalah utamanya.
Kamaluddin
pun akhirnya memilih berjihad ke Afghanistan. Karena baginya, di sanalah
sesunguhnya “kemanusiaan” itu berada.
**
Segara
jelas bukan tandingan Kylian. Andaikan Kylian serius, Segara akan dengan mudah
dilumpuhkannya. Untuk yang satu ini, Craen Mark benar. Kylian tidaklah
sungguh-sungguh.
Segara
memiliki pengalaman yang cukup dalam bertarung. Ia tahu yang mana lawan yang serius
membunuh, dan yang mana yang hanya menunggu. Ketika Kylian bertarung dengannya,
ingatan Segara Kembali ke masa kecilnya di Jeneponto.
Di
sana ia berteman dengan Kamaluddin, seorang anak yang terpaut dua tahun lebih
tua dari dirinya. Ia sering bermain-main adu silat dengan Kamaluddin. Tentu
saja Kamaluddin-lah yang selalu menang.
Badannya
lebih besar dan juga lebih berpengalaman. Cara Kamaluddin meloloskan Segara
saat sudah terdesak adalah dengan; menyelipkan tangan ke belakang pinggangnya.
**
Kisah
berlanjut di benak masing-masing. Segara memutar ulang memorinya. Ia mengenal K
dari Karaeng Matterangi, pamannya. Benang merahnya ada di sana. Kylian adalah
Kamaluddin, bagian dari masa lalu Segara.
Tapi,
kenapa ia hadir?
Segara
tidak mengetahui kisah pilu Kylian. Bahwa pembunuh ayahnya adalah orang yang
sama dengan pembunuh ayah Kylian. Menerima tawaran Segara untuk membunuh Craen
Mark bukanlah masalah harta. Kylian sebenarnya telah menyimpan sebuah rencana
besar. Rencana yang tidak bisa ia jalankan sendiri tanpa bantuan Segara.
Segara
memang menyimpan dendam. Akan tetapi, dendam Kylian lebih besar lagi.
Rencananya harus berhasil dijalankan. Menjadi akhir yang tragis bagi pembunuh
ayahnya.
Cara
apa pun akan ia tempuh, bahkan jika sampai harus mengorbankan nyawa Segara
Ananda Marradia dan Flora Aura Bunga. (Rudy Gunawan).
**
*Cerita ini fiktif belaka. Kesamaan nama, tokoh dan tempat hanyalah
kebetulan semata. Selanjutnya, Bab 14, akan digubah oleh Lesterina Purba.







