“Plak!” Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Vita. Dia kaget dan reflek kedua telapak tangannya memegang pipi kirinya.
“Kamu kan yang buka-buka dompetku?” tanya Alex pada Vita yang sedang menyeduh teh manis untuk Alex. Baru mau menjawab Alex sudah berkata kata lagi,
“Kamu itu nggak kapok-kapok! Sudah aku bilang jangan pegang-pegang dompetku apalagi sampai membukanya!” Alex semakin garang sembari jarinya nunjuk-nunjuk ke wajah Vita.
“A…aku nggak pegang dompet mas Alex, kok!” jawab Vita sambil menahan sakit. Meskipun cuma satu kali tapi sangat keras tamparan tangan Alex. Pipi kiri Vita berasa panas dan merah sekali.
“Nggak percaya! Tadi waktu aku masuk kamar mandi dompet itu ada di tempat tidur, kenapa pindah ke meja?!” Bentakan Alex membuat Vita ketakutan.
“Mungkin mas lupa meletakkan di kasur. Aku sama sekali nggak masuk kamar, mas!” Vita menjawab dengan gemetar.
“Ah, nggak percaya! Dasar pembohong!”
Vita kaget disebut pembohong. Mau membela diri tapi Alex sudah melesat ke luar menuju garasi. Teh manis yang sudah dibuatkan Vita nggak diminum. Nggak berapa lama terdengar suara mobil menderu. Alex meninggalkan Vita yang masih terbengong sambil menahan sakit. Dia nggak habis pikir kenapa Alex yang semula baik dan lembut bisa berubah jadi kasar. Mungkinkah problem kedua orang tuanya yang jadi pemicu perubahan itu? Memang Alex pernah cerita sedikit tentang ayahnya pada Vita.
Suatu hari Alex pernah memergoki ayahnya menggandeng perempuan yang belakangan diketahui sebagai sekretaris di kantor yang ada di Bandung. Waktu itu Alex bersama geng moge-nya mampir ke restoran untuk makan dan istirahat. Ketika baru memasuki halaman restoran tersebut Alex dengan jelas melihat ayahnya menggandeng perempuan cantik dan sexy hendak memasuki mobil ayahnya. Buru-buru Alex melangkahkan kaki memasuki restoran dan diikuti oleh enam temannya. “Ngapain kamu jalan buru-buru Lex, kayak ngeliat setan aja!” kata salah satu teman Alex. “Bukan urusan lu!” jawab Alex ketus.
Sejak kejadian itu Alex sudah nggak percaya lagi sama ayahnya. Namun rahasia itu dia pendam sendiri dan nggak pernah diceritakan sama ibunya. Memang sudah satu tahun sebelum dia menikah sering menyaksikan ibunya menjadi bulan-bulanan ayahnya. Tak jarang dia melihat ibunya menjadi sasaran emosi ayahnya. Terlalu sering dia melihat tamparan keras ayahnya ke pipi ibunya. Mungkin itulah yang menyebabkan Alex sekarang menjadi laki-laki yang temperamental.
Saat awal pernikahan dia seperti lelaki baik-baik. Bahkan Vita merasakan selama pacaran Alex sangat lembut, tidak pernah berkata kasar sedikitpun. Hanya dua bulan mereka saling menjajaki pribadi masing-masing sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Hanya seminggu bulan madu di Bali, Vita merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Sangat menikmati kebersamaan dengan Alex.
Menginjak bulan ke dua pernikahannya Vita merasakan ada perubahan pada dirinya. Kepalanya sering merasa pusing dan mual-mual. Gejala seperti itu ditahannya ketika Alex pulang dari kantor. Bahkan selagi Alex berada di rumah dia berusaha terlihat sehat dan baik-baik saja.
Setelah satu minggu dia merasakan semakin pusing hingga muntah-muntah. Diam-diam Vita pergi ke dokter kandungan. Ya, tanpa sepengetahuan Alex dia berniat konsultasi yang hasilnya diharapkan bukan gejala kehamilan.
Dalam perjalanan ke dokter kandungan dengan mengendarai mobil sendiri pikiran Vita tertuju pada Alex. Dia merasakan ketakutan yang luar biasa jika hasilnya ternyata positif hamil. “Ah! Mudah-mudahan hanya asam lambung naik saja, bukan gejala kehamilan.” Vita berkata sendiri setelah sampai di halaman tempat praktek dokter kandungan yang dituju. Turun dari mobil dia berusaha kuat walaupun sedikit sempoyongan.
Hanya sepuluh menit Vita berada di ruang dokter. Dia memasuki mobil dengan menggenggam tespek. Hasil pemeriksaan kandungan yang ternyata positif itulah yang kemudian menjadi awal malapetaka rumah tangga Vita.
Sejak Alex mengetahui Vita hamil kepribadiannya mulai berubah. Alex yang semula baik hati mendadak jadi lelaki kasar. Bicaranya nggak karuan jika marah-marah. Juga tanpa sebab. Tak jarang pula Alex menampar pipi Vita. Juga pukulan ke tubuhnya yang lemah karena kehamilannya.
Sebulan yang lalu ketika Vita pulang dari rumah orang tuanya dan Alex sudah pulang dari kantor, kemarahan Alex meluap. Vita dituduh habis mengadu sama orang tuanya. Spontan dia melempar gunting ke kaki Vita hingga terluka. Vita hanya mengobati sendiri dengan Betadine. Saat itu Alex masih ngomel-ngomel mengungkit-ungkit tentang kehamilan Vita.
“Aku kan sudah bilang sejak awal, kamu jangan hamil!” Begitu kalimat yang selalu dilontarkan Alex saat marah-marah. Memang Alex sama sekali tidak mengharapkan Vita hamil. Dan itu diucapkan sejak awal pernikahan. Vita berusaha menuruti permintaan Alex dengan mencegah kehamilan. Setiap hari Vita minum pil KB. Namun baru beberapa minggu dijalaninya ternyata Vita pernah satu kali telat minum pil tersebut. Akibatnya hal yang sangat ditakutkan terjadi. Hamil.
Bulan pertama kehamilannya Vita berpikir keras kenapa suaminya nggak mau dia hamil. Pertanyaan itu selalu mengganggu pikirannya. Pada bulan ke dua kehamilannya dia baru tau penyebabnya dari sahabatnya. Sari yang menjadi sahabatnya sejak kuliah bekerja di perusahaan Alex. Dari sahabatnya itulah Vita tau perselingkuhan Alex dengan mantan pacarnya yang sering ke kantor menemui Alex. Rupanya Alex nyambung lagi dengan mantan pacarnya yang sempat putus karena hubungannya tidak disetujui oleh orang tua Alex. Sari bahkan menceritakan bahwa Alex mau menikahi Intan pacarnya itu. Hati Vita begitu hancur saat mendengar semua cerita Sari. Namun Vita tidak pernah membahasnya pada Alex karena takut dicerai. Semua dipendam sendiri dan tidak diceritakan pada orang tuanya. Dia berpikir pasti orang tuanya sangat hancur hatinya dan kecewa dengan Alex yang sudah menyakiti hatinya. Perlakuan kasar Alex dan menyakiti secara fisik pun tidak pernah diketahui orang tuanya. Hanya Sari sebagai sahabat sejatinya yang tau prahara rumah tangganya.
Kejadian terakhir saat Vita dituduh buka-buka dompet Alex sudah tamparan yang ke sekian puluh. Mestinya sebagai perempuan yang sedang mengandung diperlakukan lemah lembut oleh suaminya. Disayang-sayang. Dimanja-manja. Tapi tidak dengan Vita, dia justru selalu mendapatkan luapan emosi Alex. Sampai usia kandungannya lima bulan pun masih diperlakukan kasar oleh suami yang sangat dicintainya.
Vita yang seharian di kamar menangis meratapi nasibnya mengambil ponsel dan menelpon Sari.
“Halo Ri, kamu ada waktu nggak…? Tolong antar aku ke rumah sakit.” Vita meminta Sari mengantar ke rumah sakit karena keluhan luka di kakinya terasa sakit sekali. Sudah seminggu luka yang semula sudah kering kembali sakit dan membengkak. Dia menahan rasa sakitnya karena takut sama Alex.
“Aku lagi nyantai kok, Vit. Oke aku meluncur sekarang ya?” Vita menutup telpon setelah mengucapkan terima kasih. Lima menit Sari datang dan langsung masuk ke kamar Vita.
“Kamu kenapa Vit, kok pucat sekali?” tanya Sari begitu melihat kondisi Vita yang lemah dan wajahnya sangat pucat.
“Kakiku sakit banget, Ri” jawab Vita pelan sambil berusaha bangun, “luka yang terkena gunting dulu sakit lagi nih,” lanjut Vita. Sari membantu mendudukkan Vita.
“Ya udah kita langsung ke rumah sakit aja.” Sari memapah Vita ke luar rumah.
“Pakai mobilku aja, ya?” tanya Sari. Vita hanya mengangguk pelan.
Sampai di depan ruang IGD Vita langsung dipindah ke brankar oleh dua perawat. Sari mengurus pendaftaran. Penanganan medis langsung dilakukan oleh para perawat dan dokter jaga. Hasil pemeriksaan tekanan darah sangat rendah, jauh di bawah normal. Tubuh Vita semakin melemah. Rasa sakit di kakinya semakin hebat. Nafas Vita pun sangat sesak. Dua dokter terlihat sibuk mengecek kondisi Vita. Di antara pasien yang lain Vita menjadi perhatian khusus tenaga medis karena mungkin termasuk yang paling parah kondisinya. Berbagai peralatan medis dipasang disalurkan kabel-kabel entah apa saja ke tubuh Vita. Sari yang sejak tadi menunggu Vita sangat panik meskipun tidak diperlihatkan di depan Vita. Apalagi setelah telpon Alex berkali-kali tapi tidak diangkat. Sari berusaha menenangkan diri. Dipeluknya tubuh Vita sambil membisiki supaya kuat.
“Kamu yang semangat ya, Vit? Kamu harus kuat.” Sari menatap mata Vita. Hanya senyum sedikit dari bibir Vita sebagai jawaban sambil menahan rasa sakit.
Salah satu dokter kembali mengecek kondisi Vita. Semakin memburuk. Tensi menurun drastis. Saturasi oksigen sangat rendah.
Tiba-tiba Sari disuruh ke ruang dokter.
Sari disuruh duduk setelah masuk ke ruang dokter.
“Anda keluarga Bu Vita?” tanya dokter.
“Betul, Dok.” Vita asal menjawab daripada harus menjelaskan sebagai sahabat.
“Begini, Bu Vita harus segera dipindah ke ruang ICU untuk mendapatkan pertolongan yang lebih intensif,” kata dokter pelan.
“Tapi mungkin menunggu suaminya datang dulu ya, Dok.”
“Usahakan secepatnya datang karena pasien sangat darurat.” Menurut dokter, luka di kaki Vita sudah infeksi sampai ke jantung. Tubuh Sari lemas hampir tak berdaya setelah mendengar penjelasan dokter. Dia keluar dari ruang dokter kembali menemui Vita yang sedang memejamkan mata.
“Vit…” Sari memeluk tubuh Vita. Dipegangnya tangan Vita yang sangat dingin.
“Kamu semangat ya, Vit? Kamu harus berjuang,” kata Sari lirih Mendadak nafas Vita terdengar kencang. Dokter memacu jantung Vita. Sari memohon pada dokter untuk segera memindahkan Vita ke ruang ICU tanpa menunggu Alex. Namun jawaban dokter hanya menggelengkan kepala. “Sudah terlambat,” katanya pelan.
Alex datang bersama orang tuanya, hampir bersamaan dengan orang tua Vita. Seolah hanya menunggu mereka, Vita menghembuskan nafas terakhir dengan tenang Semua terjadi begitu cepat, masih di ruang IGD belum sempat pindah ke ruang perawatan. Bahkan belum sempat dipindah ke ruang ICU karena menunggu keputusan Alex. Vita mengakhiri luka dan deritanya bersama buah cinta yang tidak dikehendaki Alex. Ironisnya, perpisahan itu terjadi tepat pada bulan kasih sayang.
Meskipun sangat kasar pada Vita saat hidupnya, melihat tubuh istrinya terbujur kaku Alex sangat terpukul. Dia sangat menyesal belum sempat memohon maaf pada Vita. Alex mencium perut Vita sambil berucap, “Aku akan mencintaimu, sayang. Aku sudah meninggalkan Intan yang telah menghancurkan kamu dan buah cinta kita.”


Lahir di Banyumas
Menulis apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan







Penyesalan selalu datang belakangan
Kalau di depan namanya pendaftaran, hehe….Terima kasih komennya pak Budi Susilo
Aduh, penyesalan yang terlambat.
Betul Ayah.,.Terima kasih komennya
Kisah pilu,ending nya pengelasan yang tersisa
Bersambung yang ga pilu nanti Ayah ..
Terima kasih komennya
Mba Sri gitu.., salah klik kolom..
Oke
Terima kasih…
Penyesalan selalu datang belakangan
Keren ceritanya
Terima kasih ..
Penyesalan datangnya di akhir
Keren nih, mengalir ceritanya
Terima kasih… Tadinya ngalir nulis malah melebihi batas sampai 1700 lebih karakter jadi dipadatkan
Terima kasih…
Ayo ikutan nulis puisi
Cakep banget kak
Terima kasih banyak apresiasinya…
KEREN
Terima kasih sudah berkunjung…
Terima kasih atas artikel, Bu Ety.
Sama sama pak Budi Susilo,.
Penyesalan selalu datang belakangan