Korban Kanjaruhan Terbanyak Nomor 2 Sepanjang Sejarah

oleh -450 views

Dunia sepak bola Indonesia sedang berduka. Kericuhan di Stadion Kanjaruhan berakhir dengan kerusuhan. Pasca pertandingan yang dimenangkan oleh Persebaya melawan Arema FC itu, dikabarkan sekitar 127 orang meninggal dunia.


Kerusuhan dimulai setelah beberapa supporter terlihat masuk ke lapangan secara sporadis. Mereka mengejar para pemain Persebaya dan melempar benda-benda tumpul.


Fasilitas di dalam lapangan menjadi sasaran kemarahan. Tidak luput juga sebuah mobil polisi dirusak. Polisi tidak tinggal diam. Gas air mata dilesakkan untuk meredam kerusuhan.
Nahasnya, efek gas air mata mengarah ke tribun penonton. Alhasil situasi menjadi tidak terkendali karena menyebabkan penonton sesak napas. Kepanikan terjadi, pintu keluar tidak mampu menampung luapan massa. Hingga berita ini diturunkan, jumlah korban diperkirakan masih bisa bertambah.


Sejatinya tragedi ini mengingatkan masyarakat akan tragedi Hillsborough 1989 silam pada laga Liverpool kontra Nottingham Forest. Penyebabnya ditenggarai karena over kapasitas. Pintu keluar yang seharusnya tertutup, telah dibuka secara sengaja oleh pihak keamanan.


Akibatnya sekitar 2000 fans Liverpool yang berada di luar lapangan meringsek masuk ke dalam stadion. Menambah kepadatan penonton yang sudah melebihi kapasitas.
Hingga kini, tragedi Hillsborough menjadi sejarah paling kelam yang menimbulkan korban meninggal paling banyak dalam sejarah sepak bola Britania Raya. Sebanyak 766 penonton dilaporkan megalami luka-luka dan korban meninggal mencapai 96 orang.


Tapi, tragedi Hillsborough masih masuk urutan ke 3 dalam daftar pertandingan sepak bola yang paling banyak memakan korban jiwa. Urutan kedua terjadi di Ghana, 2001 silam.
Pada saat itu, derbi antara tuan rumah Hearts of Oak sedang bertanding melawan tim sepak bola dari Asante Kotoko. Kedua tim ini diketahui berasal dari kota yang sama, Accra dan memiliki historis perseturuan dalam beberapa pertandingan sebelumnya.


Klub Asante Kotoko memimpin pertandingan dengan skor 1-0. Namun menjelang akhir pertandingan, dua gol dicetak oleh tuan rumah yang membalikkan keunggulan.


Menjelang menit-menit akhir, supporter klub Asante Kotoko menjebol tribun dan masuk menyerang pemain. Polisi lantas mengantisipasi kerusuhan dengan menembakkan gas air mata.


Kepanikan terjadi, sementara gerbong stadion terkunci. Kerumunan massa mengakibatkan 126 korban tewas akibat sesak napas. Dalam peristiwa itu, enam polisi didakwa atas tindak pembunuhan.


Insiden paling berdarah sepanjang sejarah terjadi pada 1964. Tepatnya berada di Stadion Nasional Peru, Lima. Saat itu laga kualifikasi Olimpiade sedang berlangsung antara Timnas Argentina melawan Peru.


Emosi penonton mulai tersulut saat gol Peru di menit akhir dianulir wasit. Dalam hitungan detik kemudian, puluhan ribu supporter langsung masuk menguasai lapangan.


Polisi menanggapi dengan keras. Lagi-lagi gas air mata kembali dilesakkan. Menyebabkan puluhan ribu penonton panik berdesakan. Para penonton lalu berlari menuju gerbang stadion yang masih terkunci.


Saat mereka hendak masuk kembali, polisi menyambut mereka dengan tindakan yang lebih brutal – melesakkan lebih banyak gas air mata. Dalam insiden Peru tersebut, tercatat 328 korban meninggal dunia.


**
Insiden Stadion Kanjaruhan dengan sendirinya menggeser posisi tragedi Hillsborough dan Acra. Berada pada urutan kedua sebagai insiden pertandingan sepak bola yang paling berdarah.


Dengan total estimasi 3,5 miliar fans di seluruh dunia, sepak bola telah resmi menjadi olahraga yang paling banyak diminati. Tidak heran jika sepak bola menempati urutan terbanyak sebagai olahraga yang paling banyak memakan korban. Jumlahnya mencapai 63% dari seluruh kematian di pentas olahraga.


**
Acek Rudy untuk SecangkirKopiBersama

Response (1)

Tinggalkan Balasan