Membaca Indonesia

oleh -341 views

Indonesia hari ini bukanlah negeri yang tiba-tiba ada. Bukan atas kesaktian seorang Bandung Bondowoso: “Abrakadabra!” Jadi dalam waktu semalam.

Ia adalah kumpulan keping-keping sejarah yang panjang. Mulai dari kerajaan-kerajaan yang berdiri sendiri dan terpencar, kedatangan para penjajah, hingga keinginan untuk bersatu.

Adalah Boedi Oetomo, sebuah organisasi pergerakan pemuda, didirikan oleh Sutomo dan para mahasiswa STOVIA, 20 Mei 1908. Organisasi bertujuan untuk mencapai Indonesia merdeka (Wikipedia).

Keinginan para pemuda untuk kemerdekaan Indonesia berlanjut dengan dicetuskannya Sumpah Pemuda, tahun 1928. Puncaknya dengan diproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, oleh Soekarno-Hatta.

Dan tanpa terasa kini kemerdekaan Indonesia telah berusia 77 tahun. Apa yang dapat dibaca?


Di permukaan mungkin yang terlihat, setiap tanggal 17 Agustus, hanya upacara-upacara peringatan, pidato-pidato, mengheningkan cipta, dentuman meriam, dan sebagainya.

Umbul-umbul, pemasangan bendera merah putih di setiap kantor, di sepanjang jalan protokol, atau di depan rumah. Karnaval, pentas budaya; pesta rakyat.

Di sudut-sudut kampung lebih meriah lagi. Banyak lomba-lomba yang diadakan warga. Menghibur.

Tidak apa-apa. Tapi itu hanya artifisial. Sesudah itu?

Sebenarnya, yang lebih lebih penting lagi bagaimana kita mengisi kemerdekaan ini. Bukan berapa besarnya, berapa banyaknya, atau berapa hebatnya kita dalam beraktifitas. Tapi apa yang sudah kita lakukan. Minimal untuk diri sendiri. Syukur-syukur berdampak positif ke lingkungan sekitar.

Bung Karno sendiri pernah mengatakan, bahwa perjuangan kini lebih berat. Kalau dulu hanya bagaimana mengusir penjajah, dan mencapai kemerdekaan.

Musuhnya jelas.

Tapi sesudah itu yang dihadapi adalah bangsa sendiri. Kita bisa membaca timbul berbagai gejolak: Dari pemberontakan, perpecahan, hingga permusuhan antaranak bangsa karena sentimen SARA. Belum lagi bicara soal kemiskinan dan kebodohan.

Apa yang dapat kita lakukan?

Kita bekerja sesuai apa yang dapat kita kerjakan. Seorang pelajar, belajarlah dengan baik. Pegawai, pedagang, petani, nelayan, tentara, polisi, seniman, atau apa pun itu. Melakukan pekerjaan itu sesuai keahlian yang dimiliki. Dan kalau sudah berinteraksi secara sosial tentu ada aturan-aturan yang berlaku, tanpa melanggar hukum.

Sepertinya mudah. Padahal di lapangan tidak segampang apa yang kita bayangkan. Hambatan-hambatan, itu pasti.

Terlebih di era masifnya penggunaan internet saat ini. Banyak kemudahan dan hal-hal positif yang dapat kita lakukan. Dengan bekerja secara online kita dapat bekerja dari mana saja.

Entah itu berbisnis, menjadi blogger, atau membuat kanal youtube.

Membuat konten-konten yang bermanfaat. Entah itu tulisan atau gambar-gambar (video). Menyebarkan cerita atau berita yang menyejukkan.

Namun, kalau tidak hati-hati kita bisa tergelincir. Mudah terbawa arus. Tanpa sadar kita membuat — ikut menyebarkan — berita-berita atau gambar-gambar yang tak benar (hoaks).

Mungkin kita bermaksud main-main, sekadar lucu-lucuan. Tapi apa kita tak berpikir terlebih dahulu, barangkali saja apa yang kita lakukan membuat ketersinggungan pihak lain. Entah itu suku, agama, atau kelompok lain.

Bila ada yang tak senang, dan diadukan ke penegak hukum, membuat kehidupan sosial kita terganggu.

Kita juga jangan cepat menjadi pemarah. Mungkin saja ada konten-konten dari pihak lain yang membuat kita tidak nyaman. Jangan cepat pula kita bereaksi. Itu hanya akan menghabiskan energi kita saja.

Yang repot lagi (atau lucu?), tak ada hubungannya dengan kita, tak mengerti permasalahannya, kita ikut-ikutan terlibat. Entah itu berkomentar, atau yang lebih parah, menyebarkannya.

Tak ada gunanya. Dan memang tidak ada gunanya.

Semuanya itu tentu berpulang kepada kita. Apakah kita ingin termasuk bagian yang memberi manfaat kepada bangsa ini. Atau malah termasuk yang merusak.

Dan membaca Indonesia adalah dengan melihat gerak langkah kita hari ini.

M E R D E K A! Dirgahayu Republik Indonesia.


Lebakwana, Agustus 2022

Tentang Penulis: Ayah Tuah

Nganu. Masih belajar.

Responses (4)

Tinggalkan Balasan