Sesuai kesepakatan dalam forum arisan kaum bapak, Cak RT melalui grup WA kembali mengulangi informasi bahwa hari minggu akan ada kerja bakti. Beberapa warga yang telah senior usianya memanggil Ketua RT yang masih muda, meskipun bersuku Batak dengan sebutan Cak RT.
Mat Sokeh bukan tidak loyal kepada keputusan bersama warga dan Cak RT, namun ada hal yang menurutnya lebih urgen sehingga dia memberanikan diri minta ijin ke Cak RT bahwa dia tidak bisa ikut kerja bakti. Beruntung Cak RT bijak memberi keleluasaan kepadanya untuk kali ini tidak hadir kerja bakti.
Mat Sokeh bukan tergolong SSTI, suami-suami takut istri, tapi pendapat dan permintaan istrinya benar- benar masuk akal untuk dituruti. Pagi itu dia pergi ke rumah Hanafi, saudaranya yang punya usaha percetakan dan sablon. Dia minta tolong untuk dibuatkan spanduk identitas warung satenya.
Perkembangan kekinian menyebabkan spanduk yang selama ini terpasang di warung satenya harus diganti. Semalam istrinya yang membuka persoalan. Istrinya pun meneruskan informasi dari Riduan anak sulung mereka.
“Kita bisa terancam kehilangan pelanggan.” Keluh istrinya.
“Wah kamu ini gampang percaya medsos dan hape.”
“Anakmu yang bilang gubernur sampai ikut sibuk memeriksa dan ada yang usul agar polisi memproses pelakunya.”
“Itu kan soal rendang, lha kita kan jualan sate.”
“Itulah gunanya Riduan sekolah, jadi lebih pintar dari kita. Katanya, jangan cuma melihat ancaman, tapi juga peluang.”
Sedikit demi sedikit dari penghasilan warung satenya, Mat Sokeh telah menabung untuk biaya umrah. Mat Sokeh juga ingin membangun musala di Bangkalan. Mat Sokeh membenarkan pendapat istrinya. Dia tidak ingin niat mulia itu gagal karena kehilangan pelanggan.
Mat Sokeh tak mau memperpanjang debat. Dia tak mau malam itu tidur di luar kamar gara-gara beda pendapat. Mat Sokeh berjanji kepada istrinya besok pagi akan ke rumah Hanafi, sambil mulai mengangkat daster istrinya.
Besok paginya Hanafi tanggap terhadap persoalan yang dikemukakan Mat Sokeh. Tak perlu menunggu pegawainya datang, dia langsung menghidupkan komputer. Digarapnya sendiri order dari kawannya, bukti solidaritas antar teman bergelar MA, Madura Asli.
Beberapa konsep ditawarkan Hanafi kepada Mat Sokeh. Ada kesamaan dari beberapa gambar rencana, selalu ada tulisan dan foto istrinya “Buk Yuleka.”, lafal Madura untuk sapaan “Bu” dalam bahasa Jawa. Nama istri Mat Sokeh telah digunakan sebagai identitas sejak pertama kali warung satenya dibuka.
Mat Sokeh telah memilih satu dari beberapa konsep spanduk yang dirancang Hanafi. Sungguh beruntung dia punya teman bersama dulu di pondok pesantren di Bangkalan. Bedanya Hanafi melanjutkan kuliah diploma teknologi informasi, sedang dia langsung kawin dengan Yuleka dan membuka warung sate.








Ingin kenalan dengan Mat Sokeh dan Bu Yuleka… semoga sehat selalu.
Mantul Penulisnya…
Ashiiiap saya sampaikan kepada mereka berdua hehehe.
Terima kasih atas kunjungan Bu Ety.
Hormat saya.
Wah. Sate kambing asli. Buatan orang Madura asli.
Keren, Pak Pudji.
Salam hormat
Yang diperbincangkan sudah tutup 2 tahun lalu (2020).
Sebenarnya yang riuh adalah para pencari panggung kontestasi.
Terima kasih telah singgah.
Hormat saya.
Terimakasih untuk cerpennya Pak Pudji. Salam
Terima kasih Mas Warkasa.
Mencoba menambah ragam tulisan.
Hormat saya.