Tempe dan Dinamika Tugas

oleh -363 views
Tempe Bendungan Hilir.
Ilustrasi tahu tempe, sumber  cahaya images, via kompas.com, 2412021

 


Tempe Bendungan Hilir

Tahun 2018 – 2019. Kantin Bu Sri disamping kantor Prodi Keperawatan Politeknik Hangtuah, kesanalah saya mengayuh sepeda setelah apel pagi selesai. Bagi bujang lokal seperti saya, kantin Bu Sri sangat
berarti untuk memenuhi kecukupan gizi dan memelihara status kesehatan.
 
Setiap
hari Bu Sri menyiapkan 2 menu sayur rumahan yang selalu berbeda. 
Sayur lodeh, sayur bayam, sup, sayur asem dan
pecel, cukup memuaskan lidah yang rindu makanan rumahan. Dua dari beberapa macam
lauk yang selalu ada dalam etalase kaca Bu Sri adalah tempe tepung goreng dan
tahu isi. Hilir mudik mahasiswa Poltek Hangtuah dan personel RSAL dr. Mintoharjo
(RSAL MTH) yang membawa bungkusan kedua makanan untuk kudapan di ruang diskusi
mahasiswa atau di kantor.
Sepiring nasi, semangkuk sayur dengan lauk telur
dadar, telur ceplok atau ayam goreng atau kare adalah variasi yang menjadi
pilihan setiap pagi. Tentu saja tidak pernah ketinggalan 2-3 potong tempe goreng
tepung. Artinya apapun menu makan pagi saya di kantin Bu Sri, tempe
goreng tepung selalu menyertai. 
Menghabiskan sisa teh manis hangat adalah
kewajiban terakhir sebelum saya mengayuh sepeda ke kantor di Hyperbaric
Center
 RSAL MTH. Sebuah siklus yang terus berulang setiap hari. Siklus yang
dilandasi kebutuhan mengendalikan keterbatasan anggaran makan dan menyisihkan
untuk ongkos tiket pesawat atau kereta api jakarta -surabaya.
Bagaimana dengan makan siang ?
Tak perlu takut, sepanjang jalan di kawasan
Bendungan Hilir (Benhil) selain penuh dengan perkantoran juga gerai makanan.
Warung padang langgganan saya tepat di seberang pintu pagar rumah sakit.
Berjalan menyusur ke timur sebelum pasar Benhil, ada warteg favorit
saya.
Berbeda dengan menu di kantin Bu Sri yang
terbatas, sediaan jenis masakan di warteg benhil jauh lebih bervariasi. Salah
satu menu yang disukai isteri saya bila berada di Jakarta adalah rendang
jengkol. Sedang bagi saya, apapun sayur dan lauknya, variasi dengan
tempe oreg tidak pernah ketinggalan. 
Hari Sabtu bila tidak pulang ke Sidoarjo, rumah
makan Soto Sedap Boyolali H. Widodo di jl Pejompongan,
menjadi lokasi makan pagi saya sambil rehat gowes. Lagi-lagi gorengan tempe
mendoan menjadi sasaran sebelum soto pesanan datang. Pada hari olahraga jumat,
sambil gowes saya juga sering ke warung sup di depan lapangan tenis  PDAM di jl
Rengas Benhil. Lagi-lagi kehangatan gorengan tempe mendoan membuat saya selalu
ingin kembali datang.

Di pangkalan dan
berlayar.

Sejenak mundur tahun 2013-2016 ketika berdinas
di jajaran Koarmada.
Gedung R 18, di sebelah kantor Diskes Koarmatim
yang dipakai untuk kantin jalasenastri. Kantin yang dikelola Bu Dewi, sering
saya datangi pada jam turun minum kopi. Kantin ini juga tempat singgah para
pasien rawat jalan atau sedang mengurus berbagai administrasi kesehatan di rumah
sakit Koarmada.
Dua potong tempe tepung dipotong-potong dadu, di
tambah 4 iris lontong, ditaburi sawi dan tauge lalu disiram bumbu pecel. Bu Dewi
sudah hafal pesanan saya. Cukup untuk pengganjal sampai waktu makan siang
di Officer Lounge Diskes Koarmatim. Sebuah ritual makan terpimpin
seperti di kapal.
Tempe bukan hanya menemani hidup saya
sehari-hari di pangkalan, namun juga saat tugas berlayar. Bu Susi tetangga di
perumahan yang punya usaha katering sering diminta isteri saya membuat kering
tempe dan kacang teri untuk menambah variasi lauk di kapal. Dua toples makanan
berbahan dasar tempe menjadi bekal penting.
Toples kering tempe saya titipkan di lemari
pantry kapal. Saat waktu makan tiba, toples itu dibuka untuk menambah selera
makan. Semua yang di officer lounge ikut bersukacita dan serasa mendapat
tambahan energi. Kehadiran toples kering tempe itu seperti pos tempur yang
mendapat suplai kotak amunisi.
Kembali pulang ke tengah keluarga tentu menjadi
saat yang saya tunggu pada akhir pekan. Sabtu pagi saya sudah mengantar isteri
ke sekolah. Di gang masjid kampung kletek ada warung Bu Udin yang selalu saya
datangi. 
Meskipun seperti warung makan, tapi tidak ada
orang makan di tempat, yang datang adalah mereka yang mengambil pesanan.
Termasuk karyawan karoseri bis di kawasan kletek jalan raya Taman dan guru-guru
di tempat isteri saya mengajar.
Saya menggunakan kesempatan yang terbatas untuk
mampir ke rumah Bu Udin. Beliau menerima pesanan nasi murah Rp.5ribu/bungkus.
Volumenya sedikit lebih dibanding nasi kucing angkringan. 
Nasinya gurih, sejumput sayur kacang pedas,
suwiran daging empal dan dominasi kering tempe yang gurih maknyus. Komposisi
yang membuat sebungkus nasi segera licin tandas tanpa sisa dan memaksa membuka
bungkus berikutnya. Iya pasti tidak cukup hanya makan sebungkus.
Kini Bu Udin telah berpulang. Anaknya yang
selama ini membantunya menyiapkan nasi bungkus, meneruskan usahanya. Saya
mengenang kebaikannya, nasi murah yang penuh berkah dengan kering
tempe.
Tahu tempe terus mewarnai meja makan keluarga.
Digoreng adalah sajian menu baku. Sedang variasi olahan rebusan semakin relevan
dengan data riwayat kesehatan. Bothok tahu-tempe buatan Bu Ning yang kiosnya
didepan masjid desa menjadi pilihan dominan. Sekali-sekali pepes ikan atau
bothok udang sebagai variasi pengganti.
Maka ketika minyak goreng langka, menu rebusan
menjadi alternatif.
Namun ketika kios tahu tempe di pasar desa tutup
karena perajin tahu tempe mogok empat hari, berkurang pula isi lapak Bu Ning.
Bothok tahu tempe andalan Bu Ning pun lenyap.
Beberapa hari ke depan, pohon pisang di halaman
rumah Bu Ning utuh tak terganggu. Kebutuhan daun pisang pembungkus masih ada
untuk rebusan pepes ikan, pepes udang atau ati-ampela serta kue nagasari.
Setidaknya di meja makan, di balik tudung saji masih ada variasi menu
rebusan.
Tapi bagi sebagian prajurit TNI, riak soal migor
dan tahu tempe mungkin juga kurang mendapat perhatian. Pertama karena persoalan
ini selalu berulang. Sejak kemarin lapak tahu tempe di pasar desa sudah buka
kembali. Kedua, ada yang lebih menarik perhatian yaitu hasil sidang MK tentang
perubahan usia pensiun anggota TNI pada semua strata menjadi 58 tahun seperti
Polri.
Ya, lumayan bertambahnya pundi-pundi gaji dan
tunjangan kinerja meskipun masih 50% remunerasi. Artinya, daya beli masih
memadai, meskipun persoalannya adalah pada ketersediaan komoditas. Hingga saat
pensiun tiba, ketika semua hak itu hilang, 
Ketika pensiun, sudah bisa ikut pemilu seperti
warga masyarakat lainnya memilih pemimpin pemerintah baru. Persoalannya, ketika
rezim entah telah berganti beberapa kali, saya tidak yakin masalah minyak goreng
dan tahu tempe ini juga tuntas.
Mungkin persoalan minyak goreng dan pasokan
kedelai tahu tempe tetap menjadi bahan kampanye. Sedang sebagai solusi jangka
panjang, mungkin swasembada kedelai sebagai wujud ketahanan pangan hanya sebatas
janji.  Untuk jangka pendek, yang penting UU disetujui diganti, bahwa usia
pensiun anggota TNI 58 tahun (pw).
Pudji Widodo,

Tentang Penulis: Pudji Widodo

"Ada Bila Berarti", Pemerhati Kesehatan Militer. Suka buku sejarah.

Responses (8)

    1. Terima kasih dr. Hisnin.
      Ada realita tuntutan kesejahteraan prajurit, ada idealisme kemandirian industri pertahanan dan realita beratnya mengatasi kapitalisme negara adidaya. Sementara mengurus tempe saja sepertinya tak ada kemajuan.

      Hormat saya, pudjiwe.

  1. Terima kasih Mbak Widz telah singgah di kolom saya.
    Seperti kehidupan prajurit, kemanapun tour of area, eh ketemu lagi. Dunia tak selebar daun kelor hehehe.
    Hormat saya, Pudji

Tinggalkan Balasan