Susuk magis di pinggang Pak N

oleh -1,885 views

Pasang susuk karena pinggang sering pegal dan nyeri.

Beberapa waktu lalu saya menghadiri peringatan1000 hari meninggalnya kerabat. Di antara yang hadir ada seorang pria sepuh berusia 69 tahun, panggil saja Pak N. Kami sempat berbincang tentang masalah penyakit ginjal.

Pak N baru saja menjalani operasi batu ginjal. Total Pak N telah mengalami 5 kali tindakan untuk membuang batu yang bersarang di ginjalnya. Pak N beruntung karena semua fasilitas pelayanan kesehatan tersebut didukung BPJS. Tahun 1989 ketika Pak N pertama kali menjalani operasi bedah terbuka dibiayai dana kesehatan TNI karena istrinya berstatus PS Kemhan.

Sesuai prosedur praoperasi Pak N harus menjalani foto rontgen area perut. Hasilnya adalah tampak citra 4 garis, masing-masing sepanjang 1 Cm di pinggang Pak N. Itulah susuk yang terpasang sejak tahun 1987 untuk mengobati pinggang Pak N yang sering pegal dan nyeri.

Meskipun sudah tahu ada benda asing di tubuh Pak N, dokter bedah tetap mengkonfirmasi temuan tersebut kepada Pak N. Mendengar alasan mengapa Pak N menggunakan susuk, dokter bedah tertawa dan mengomentari “sudah jaman pesawat apollo, mengapa masih pakai cara seperti itu.” Padahal saat itu pesawat luar angkasa seri terakhir Apollo-16 pun sudah diganti pesawat ulang-alik.

Batu di ginjal itulah yang menyebabkan pinggang Pak N sering nyeri dan pegal, bukan karena terlalu lelah bekerja. Dokter bedah RSAL dr. Ramelan membuat sayatan di punggung Pak S untuk mengeluarkan batu sebesar biji salak yang pertama. Dua puluh tujuh tahun setelah operasi ginjal pertama, penyakit batu ginjal Pak N kambuh lagi.

Sejak tahun 2016 sampai 2020 batu ginjal Pak N kambuh tiga kali. Kali ini tidak perlu bedah terbuka. Batu tersebut dihancurkan dengan menggunakan teknologi gelombang kejut “Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy” (ESWL). Serpihan batu seperti pasir selanjutnya keluar melalui saluran kemih. Dua hari pasca tindakan ESWL Pak R sudah bisa menjalani aktifitas sehari-hari. 

Namun masih tersisa satu batu lagi yang besarnya lebih dari 2 Cm dan tidak bisa dihancurkan dengan ESWL. Nah pada awal April 2022 Pak N kembali menjalani operasi. Kali ini Pak N menjalani tindakan Percutaneus nephrolithotomy – nephrolithotripsy (PCNL).

Instrumen PCNL disebut nefroskop, berupa selang yang dilengkapi kamera dan pengangkat batu. Dokter urologi membuat sayatan di punggung Pak N untuk memasukkan PCNL sampai menjangkau ginjal dan mengambil batu.

Serangkaian pemeriksaan laboratorium dan radiologi dijalani Pak N untuk memastikan tidak ada kontra indikasi operasi. Prosedur praoperasi foto rontgen kembali menunjukkan posisi susuk dengan jumlah dan lokasinya tidak berubah seperti pada tahun 1989.

Maka lagi-lagi susuk metal yang masih bersarang di bawah kulit Pak N menjadi gurauan. Saya membayangkan komentar dokter spesialis urologi yang memeriksa Pak N. Mungkin dokter spesialis tersebut mengatakan : “Sudah jaman Society 5.0 kok masih pakai susuk.” 

Sesuai tugasnya dokter urologi hanya mengambil batu ginjal. Material susuk tetap dibiarkan di tempatnya, menjadi koleksi Pak N sepanjang hidupnya. Susuk di tubuh Pak N menjadi catatan, bahwa ada kepercayaan mistis tradisional yang tidak mudah luntur hilang tertelan kemajuan teknologi. 

Saat ini dunia bergerak mewujudkan society 5.0 yang dipelopori Jepang melalui kebijakan pemerintahnya. Sebagai konsep, society 5.0 berupaya mewujudkan tercapainya pembangunan ekonomi dan solusi untuk mengimbangi masalah sosial yang timbul akibat kemajuan teknologi.

Kehadiran Artificial Intelligence (AI), Internet dan robotika sebagai kemajuan teknologi, juga telah memberi manfaat pada pelayanan kesehatan. Kemajuan teknologi kedokteran di antaranya membantu deteksi dini penyakit dan penggunaan robot yang dapat meringankan beban perawatan. 

Namun paradoks dengan hal tersebut dan menjadi tantangan para  pemangku kepentingan, bahwa di Indonesia masih terus berulang ditemukan fenomena batu Ponari di Jombang, pengobatan Ningsih Tinampi di Pasuruan dan Abah Abdul di Bogor. 

Maka tak heran bila Pak N sampai puluhan tahun tetap setia menggunakan susuk di pinggangnya. Semoga Pak N tidak perlu operasi batu ginjal lagi (pw).

Pudji Widodo,
Sidoarjo, 20062022 (110).

Sumber foto : antaranews.com 
https://m.antaranews.com/amp/berita/2104950/eka-hospital-gunakan-metode-tanos-lawan-batu-ginjal

Tentang Penulis: Pudji Widodo

"Ada Bila Berarti", Pemerhati Kesehatan Militer. Suka buku sejarah.

Responses (6)

Tinggalkan Balasan