
Lelah mengitari pilihan sajian yang semuanya ingin dipilih, saya berhenti di satu lapak. Memilih satu potong daging goreng, satu kerat lidah, dan satu bundel tulang muda. Pada saatnya isian itu diiris-iris lalu dimasukkan ke dalam mangkuk, diberi bumbu dan taburan. Terakhir, kuah santan yang mengepulkan aroma menggugah selera dituang di atasnya.
Saya memilih satu meja kosong. Siap-siap menyantap soto santan khas Bogor ditemani sebungkus nasi putih. Rasanya enak sesuai harapan. Indera perasa berhasil menguji daging yang empuk. Tulang muda terasa renyah ketika dikunyah. Tidak keras.
Akhir cerita, habislah soto santan yang gurih itu. Kuahnya licin tandas meninggalkan mangkuk kosong dan sendok. Keras. Kalau enggak….
Harganya?
Sekitar empat puluh ribu untuk menebus kenikmatan soto santan dan sebungkus nasi putih. Lumayan mahal, dua kali lipat dari umumnya harga soto santan di wilayah lain.
Rasa terkecap sepadan dengan harganya. Mesti dimaklumi bahwa daerah tersebut menjadi tujuan utama, bagi wisatawan domestik untuk menikmati aneka jajanan.
Kali ini saya puas menikmati sajian soto santan di Pecinan Bogor.
Namun empat hari setelah berwisata kuliner, kandungan uric acid di dalam tubuh meningkat tajam. Sendi pada pergelangan kaki terasa nyeri dan membengkak.
Penyakit asam urat kambuh, sodara-sodara!








Yang penting Pak Budi punya cadangan Allopurinol (nama generik) untuk menghalau asam urat.
Semoga sudah pulih sehat kembalu Pak Budi.
Hormat saya.
Hehehehe. Kebetulan diresepkan allopurinol oleh dokter.
Aamiin. Terima kasih atas doa, Pak Pudji.
Salam hormat
Jadi pengen makan soto santan nih, tapi disini adanya empal gentong ☺️
Kayaknya hampir mirip ya
Lumayan mahal untuk harganya, tapi saya rasa, harga sesuai rasa. Jadi ngiler pingin nyobain soto santan..
Terima kasih