<< Sebelumnya ——————————————————————————————————————– Organisasi bawah tanah yang menaungi kelompok ini memiliki dana yang nyaris tanpa batas. Sebagian dana untuk kelompok kami itu masuk dari negara lain yang menginginkan kekacauan di negeri ini. Selain dana yang berasal dari luar negeri, ada juga

Kisah sebelumnya (Dari Lapangan Tembak ke Resto Hotel – ESKABER Bawalah aku pergi Pelan tapi pasti Rully merasuk dalam hidup keseharianku. Komunikasi antara kami terjalin hampir setiap hari, ada saja topik yang kami perbincangkan. “Mas aku lagi di gazebo dekat musala

Vivere Pericoloso (Bahasa Italia: hidup yang menyerempet bahaya; hidup penuh bahaya) Bukan, ini bukan judul Pidato Bung Besar yang penuh nyali itu. Ini bukan juga tahun 1964, masa dimana internet masih berupa angan. Ini adalah gambaran sederhana, dari apa yang kujalani

Kisah sebelumnya Membuka kembali ruang hati Plat terakhir juga jatuh terkena tembakanku. Lima plat seluruhnya dapat aku jatuhkan. Setelah melakukan tindakan keamanan memastikan pistol tak lagi beramunisi, aku bergeser ke tempat istirahat. Total perolehan nilai perkenaan tembakanku cukup memuaskan. Sudah lama

“Past Life-mu pasti mengerikan” “Mungkin kamu melakukan satu kesalahan fatal di kehidupan sebelumnya.” Itulah satu jenis praduga yang biasa kudengar, terkait alasan keadaan tubuh ini. Bukan pertama kalinya kudengar, dan jujur ini lama kelamaan membuatku muak. Aku tak asing dengan praduga

Oleh : Pudji Widodo Sebelumnya Wening dan Kalvin Sampai di rumah, Kalvin yang menyambutku. “Pulang dari Malang, Mami langsung tidur Pi.”  Hari ini Wening memang ada tugas ke Malang. Kupandangi wajahnya, dengkur halus napasnya membuatku tak tega membangunkannya. “Papi mau lemon

Penulis: Fredy Suni Parasnya aduhai, belum lagi tubuhnya yang montok ikut membangkitkan gairah traveling John. John yang sementara menikmati es krim di pinggir sungai, seakan terpaku dengan body seksi dari dosen muda. Ibu Rose, begitulah sapaan akrabnya di kampus. Rumahnya terletak